Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Calon mantu kesayangan Mama


__ADS_3

"Mungkin begini saja baiknya. Aku tinggal menjadi seorang istri yang baik, dan menuruti semua mau suami. Tapi, suamiku itu nanti bakal seperti apa? Dingin, sedingin es kutub yang bicara saja seadanya?"


Tubuh Nisa bergidik geli. Membayangkan, bagaimana kehidupan mereka setelah menikah nanti. Rasanhya akan begitu aneh, lebih aneh dari isi fikirannya saat ini.


" Selalu ambil sisi positifnya, Sa. Ambil sisi positifnya." gumam Nisa. Ia pun perlahan memejamkan matanya, berharap esok hari tak lebih aneh dari harinya saat ini.


*


"Hari ini, kau ku jemput. Kita ke kantor sebentar, untuk mengurus pengunduran dirimu."


"Harus? Kenapa aku tak bekerja saja? Tak apa kan, jika masih bekerja?"


"Tidak. Aku ingin kau berhenti."


"Baiklah," jawab Nisa yang lagi-lagi harus mengalah.


"Di ujung jalan saja. Aku dari rumah naik ojek. Ku tunggu di persimpangan jalan, dekat minimarket."


"Hmmmmm," jawab Abi, begitu singkat.


Butuh banyak penyesuaian diantara mereka. Bagaimana tidak? Mereka baru saja mengenal, dan hanya berstatus pegawai dan atasan. Jika kata orang, mereka akan terbiasa, tapi entah dengan pemikiran Abi. Abi, yang masih saja larut dalam trauma masa lalunya.

__ADS_1


Abi turun dari kamarnya. Menyapa Mama sofi dan Bibik, yang sudah mempersiapkan sarapan mereka.


"Abi, apa rencana hari ini, sayang?"


"Mengurus surat resign Nisa. Ia masuk secara baik, dan keluar harus dengan cara yang sama."


"Kapan fiting baju pengantin? Kapan acaranya? Dan...."


"Mama urus saja. Abi menurut apa mau Mama. Nanti, Nisa akan Abi bawa tinggal disini. Kalian bisa berunding." jawabnya.


"Ya, baiklah." Mama Sofi pasrah. Setidaknya, Abi tak main-main dalam pernikahan ini. Hanya moment, yang memang sulit Ia bagi antara waktu pribadi dan pekerjaan.


Mereka sarapan dengan tenang. Mama Sofi tak lupa membungkuskan untuk sang calon menantu. Lalu, meminta Abi membawakan nya ke kantor.


"Iya... Abi pergi dulu,"jawab Abi, dengan mencium tangan sang Mama. Ia pun pergi, menyetir dengan sedikit cepat, dan menghampiri Nisa di tempat yang Ia janjikan.


"Ini," Abi memberikan kotak bekal pada sang calon istri.


"Ini?"


"Dari Mama. Makan, karena Ia tak mau kau sakit."

__ADS_1


"Iya, nanti Nisa makan. Tadi, udah sarapan sama roti, beli di warung." jawabnya.


Nisa membuka kotak bekal itu. Isinya sangat menggiurkan, tapi Ia malu jika harus makan dihadapan Abi saat ini. Ia. Menahannya, dan menunggu mereka sampai di kantor. Tapi, Ia juga membayangkan, bagaimana reaksi semua orang ketika mereka turun dari mobil yang sama.


"Sudah, turunlah." pinta Abi, ketika benar-benar tiba di kantornya.


Nisa tampak canggung, ragu untuk turun dan menerima respon yang lain. Apalagi, saat ini mereka baru saja datang dan masuk nyaris bersamaan.


"Hey, kenapa melamun? Kau tak mau turun?"


"Malu, dilihat orang." jawab Nisa, lirih.


Abi bergeming. Ia membuka sabuk pengamannya, dan turun lebih dulu dari Nisa. Dan siapa sangka, Ia justru membuka kan pintu untuk sang calon istri.


"Kalau begini, bakal lebih parah." Nisa mencebik, dan menundukkan kepalanya. Dan Abi pun langsung meraih lengan nya untuk segera turun.


"Tak perlu memperpanjang waktu. Urusan kita banyak, hari ini." ucap Abi.


"Iya, maaf." jawab Nisa. Dan benar saja, semua mata tertuju pada keduanya. Keluar dari mobil yang sama, dan berjalan beriringan. Bahkan, Abi tampak perhatian dengan membawakan tas Nisa di bahunya.


"Sini Nisa aja yang bawa," rebutnya, dari tangan Abi.

__ADS_1


"Biar aku. Kau jalan saja, bawa kotak bekal itu, jangan sampai jatuh. Itu kotak bekal kesayangan Mama."


.


__ADS_2