
"Tak usah terlalu berjuang, untuk orang yang belum tentu memperjuangkanmu." ucap Abi tanpa sama sekali ada emosi di dalamnya. Datar, seperti biasa meski Nisa sudah beberapa kali mencoba menyentuh hatinya.
Nisa hanya diam dan kembali menggigit bibirnya. Hanya itu yang bisa Ia lakukan, ketika Abi sudah mulai bicara tentang keperdulian. Abi pun langsung menggenggam tangan Nisa, dan membantunya berdiri dari tempatnya.
"Aku pulang. Besok, kalian lanjutkan lagi, setelah pernikahan. Setidaknya, Nisa sudah sedikit bisa," ucap Abi menoleh sedikit pada Dita. Ia tak lama, lalu kembali membawa Nisa pergi bersamanya.
"Dia begitu istimewa kah, Bi? Tampaknya, kau sangat perduli padanya." gumam Dita, yang berjalan mentap kepergian mereka dari balik jendela.
"Sakit, Dit?" tanya sahabatnya, dengan segelas coklat hangat.
"Perih. Aku bahkan tak tahu, bagaimana rasanya saat ini." ucap Dita.
Sang sahabat hanya bisa mengusap bahunya. Sembari terus memberi semangat pada Dita. Bagaimana lagi, Abi adalah orang yang tak bisa di ganggu gugat, ketika telah memiliki keputusan. Apalagi, mengenai pernikahan.
" Aku kemas gaun nya dulu. Kau, istirahat dan tenangkan dirimu disini." Dita hanya bisa mengangguk, dengan mulut terkatup tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.
"Langsung pulang?" tanya Nisa, sesekali menatap Abi yang fokus pada jalanannya.
__ADS_1
"Ya, kenapa?"
"Ngga ke makam Ayah? Nisa...."
"Aku tak bisa ke sana, maaf." Abi tampak gugup, dan tampak menelan salivanya. Tangan kanan berusaha melonggarkan dasi, namun terasa begitu sulit.
"Biar Nisa bantu," tawar Nisa, lalu melonggarkan dasi Abi agar terasa sedikit lega. "Nisa cuma pengen pamit, dan minta restu. Ngga lain kok. Toh, tadi ngga bisa jenguk Nenek,"
"Nisa, stop. Aku tidak bisa kesana, okey? Harap fahami aku."
"Maaf," Nisa kembali duduk di kursinya, dan sedikit menundukkan kepalanya. Namun, Ia tak menangis. Ia justru takut jika akan merusak mood Abi kali ini. Apalagi, ketakutan terbesarnya adalah, ketika Abi mendadak membatalkan semuanya.
"Aku antar kau pulang. Hari ini, ada pemasangan dekorasi dirumah. Kau bebas atur sesuka hatimu."
"Hmm, iya." jawab Nisa, tanpa membuka matanya.
Abi menatapnya. Baru kali ini, Ia merasa di acuhkan. Padahal selama ini orang begitu gencar mencari perhatian darinya. Tapi Nisa beda.
__ADS_1
"Apa kau menganggap, seolah aku yang mengejarmu?" fikir Abi. Namun, berusaha kembali untuk masa bodoh. Ia fokus kembali pada perjalanannya, hingga mereka tiba dirumah dengan selamat.
Nisa membuka mata, Ia segera turun setelah mencium tangan Abi. Tak canggung lagi, meski Ia melakukan itu demi Nenek dan Mama Sofi.
"Nisa masuk," pamit nya.
"Ya, aku pulang sebelum malam." jawab Abi, dibalas anggukan Nisa padanya.
Gadis itu membalik badan. Tampak sebuah tenda yang megah telah berdiri di halaman rumah itu. Nisa mengedip-ngedipkan matanya, takjub dengan segala kemegahan yang ada.
"Ini yang mereka bilang sederhana? Apa ini, juga tanpa banyak undangan? Terus, siapa yang akan datang dengan pesta semegah ini?" racaunya, dengan segala pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati.
Nisa masuk, melewati semua orang yang tengah bekerja disana. Semua bergotong royong mengerjakan semua proyeknya.
" Ma, kok kamar Nisa kosong?" panggilnya.
" Iya, kosong. Kan Mama pindah ke kamar Abi."
__ADS_1
"Lah, kan nikahnya besok. Kok udah dipindah?" Nisa menggaruki kepalanya yang tak gatal.