Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Jahat kamu, Mas.


__ADS_3

Nisa mengusap air matanya. Ia segera meraih Hp dan turun mencari kunci mobil. Untung saja, Ia belum mengganti pakaiannya dengan piyama. Karena memang belum sama sekali ingin tidur.


Semua keributan yang Ia timbulkan, membuat Nama sofi keluar dari kamarnya. Ia pun segera menghampiri Nisa, dan menatapnya cemas dengan air mata nya yang mengalir.


"Hey, Nisa kenapa?" tanya Mama Sofi, yang ikut cemas karena nya.


"Ma... Nenek, Ma."


"Iya, Nenek kenapa? Bicara pelan-pelan,"


Nisa menarik nafasnya beberapa kali. Meski tak lega, tapi setidaknya membaik.


"Mama denger sendiri 'kan, tadi pagi? Nenek membaik. Tapi, kenapa malam ini malam koleps? Jantungnya lemah. Ma, Nisa harus cepet kesana."


"Okay, Mama ikut. Mama ngga akan biarin kamu sendirian kesana." ucap Mama, meraih kunci mobil dari tangan Nisa.


"Mama yang nyetir," Nisa pun mengangguk pasrah, daripada Ia taj di izinkan pergi sama sekali.


Perjalanan terasa menegangkan. Karena Mama memang sudah lama tak menyetir, dan Ia pun tegang melihat Nisa yang tampam frustasi dengan keadaannya sendiri. Hingga mereka tiba di Rumah sakit, Nisa meninggalkan Mama sofi dan berlari sekuat tenaga menuju kamar Neneknya.


Tampak dari kejauhan, beberapa perawat dan Dokter keluar dari ruangan itu. Dengan tubuh gemetar, dan air mata yang terus berderai. Nisa menguatkan dirinya sendiri agar bisa sampai disana.


"Dokter... Nenek?" panggil Nisa, dengan suaranya yang tertahan perih.


"Yang sabar, Nisa." hanya itu, yang dapat diucapkan Dokter Murni padanya. Tak lupa, menepuk bahu Nisa agar menerima semuanya dengan ikhlas.


"Engga.... Bohong! Pasti bohong, kan? Tadi pagi katanya membaik!" sergah Nisa.


"Nisa, kita ngga akan pernah tahu, apa yang...."


"Engga! Bohong semuanya. Nisa ngga percaya!" bantahnya, lalu masuk paksa ke dalam ruangan itu. Dan benar saja, Adhim menutup tubuh Nenek dengan kain putih bersih, hingga menutup seluruh nya.


"Nisa?" tatap Adhim.


"Kak Adhim, jangan ditutup. Nanti Nenek sesak nafas!" Nisa mendorong tubuh Adhim, hingga mundur beberapa langkah darinya. Seolah masih tak terima kenyataan, Nisa terus memasangkan selang oksigen ke hidung Neneknya. Berharap akan kembali bernafas meski dengan bantuan alat..


"Nisa... Nisa, udah. Nenek udah..."


"Engga! Ngga mau. Nenek ngga boleh meninggal. Tadi baik-baik aja kan? Kata Kakak juga. Besok mau di operasi, kan? Kenapa begini? Kak Adhim bohong sama Nisa!" raungnya.


"Ngga ada yang bohong, Sa. Informasi yang kami berikan, tak ada sedikitpun kebohongan."


"Tapi Nenek, Kak, Nenek. Nenek kenapa malah pergi, ketika Nisa sudah punya sedikit harapan?" Nisa terduduk lesu di pinggiran brankar, bersandar tanpa mau meninggalkan Nenek yang sudah terkulai lemah tanpa nyawa diatasnya.


Ingin rasanya Adhim memeluk dan mengusap bahu Nisa. Namun, Ia sadar tak mungkin melakukan nya saat ini. Untung saja, Mama segera datang dan mengambil pelukan itu dari Adhim.


"Sayang, tenang, Nak. Ikhlas, karena itu sudah janji Nenek sama yang kuasa." peluk, kecup, dan usap Mama di rambut Nisa yang halus dan lembut itu.


Nisa masih terisak. Semakin perih, ketika Adhim membacakan surat keterangan kematian sang Nenek di depannya. Begitu sakit rasanya.


Nisa lalu meraih Hpnya. Ia menggubungi Abi saat ini. Entah kenapa, rasanya hanya suara Abi yang saat ini membuatnya tenang. Ia sangat berharap, akan hal itu.


"Mas... Kamu dimana? Aku butuh kamu, Mas... Tolong jawab," pinta Nisa.


Ia sendirian saat ini, di samping brankar sang Nenek. Sementara Mama, membantunya mengurus semua. Meski bukan biaya, tapi semua urusan harus di selesaikan dengan jelas.


"Mas Abi....." tangis pilu Nisa semakin menjadi, apalagi Abi tak merespon panggilan nya sama sekali.


*


"Ada apa, Bi?"


"Nisa...." ucap Abi, dengan tubuh membeku dan tatapannya kosong. Seketika Alex langsung cemas menatapnya dengan ekspresi seperti itu.


"Nisa kenapa?"

__ADS_1


"Kita ke Bandara, sekarang. Aku harus segera pulang." Abi meraih jas, dan dengan terburu-buru memakainya. Alex pun dengan cepat meraih kunci mobil.


Mereka segera keluar, menuju Bandara dengan perjalanan yang cukup lama.


"Mana ada, tiket kesana malam-malam begini. Kalau pun ada, mungkin..."


"Sudahlah. Usahakan saja dulu," sergah Abi, tampak frustasi memikirkan Nisa yang ada disana. Menangis, meraung, dan pasti akan butuh sandaran untuk sekedar menenangkan hatinya.


Sekilas, rasa cemburu pun menggelayut, membayangkan Nisa bertemu dengan Adhim.


" Ayolah, Abi. Setidaknya hanya Adhim yang dapat melipur laranya." batinnya, menahan segala cemburu yang ada.


"Bi....?" tanya Alex, dalam perjalanan mereka yang hening.


"Nenek Nisa meninggal, Lex. Itu kabarnya."


"Astaga," Alex mengusap wajahnya dengan kasar. "Lalu...."


"Aku harus segera pulang. Nisa membutuhkanku."


"Apartemen?"


"Besok, kita bahas lagi. Nisa lebih penting," 


"Baiklah," angguk Alex.


Keduanya telah tiba di Bandara. Tanpa aba-aba, Abi keluar dari mobil menuju tempat pembelian tiket. Tapi benar apa yang Alex bilang, jika tiket pesawat telah kosong untuk malam ini.


"Besok pagi, Pak? Yang malam ini, sepuluh menit lagi berangkat."


"Tidak... Tidak mungkin besok pagi. Harus harus kembali sekarang, bagaimana pun caranya." gumamnya, duduk sendiri di kursi tunggu yang tersedia.


***


Mama sofi mengantar Nisa pulang. Bukan kerumah Abi, tapi kerumah Nisa dengan Neneknya.Dan dirumah, ada beberapa orang yang sudah menunggu kedatangan nya.


"Abu Tami?" sapa Nisa, meski begitu lemah.


"Jenazah di makamkan sekarang juga Karena, semakin cepat semakin baik." ucap Bu Tami, menyambut Nisa masuk kedalam rumahnya. Bu Tami juga, yang menjaga rumah itu sejak Nisa tak pernah kembali.


Untung pihak Rumah sakit telah membereskan semuanya, hingga jenazah bisa langsung di makamkan setelah tiba di kampung kecil itu. Dan semua warga, bahu membahu untuk segera memakamkannya. Dan Nisa tak ikut dalam prosesi itu.


Tak begitu lama, para pria kembali dari pemakaman. Mereka duduk sebentar, hingga akhirnya bubar dan kembali kerumah masing-masing.


"Nisa...." Mama sofi menghampiri Nisa, yang tengah duduk memeluk foto Neneknya.


"Mas Abi, ngga ada kabar, Ma? Setidaknya, jawab dan tenangkan Nisa."


"Maafkan Abi, sayang. Mama juga masih belum bisa menghubunginya hingga saat ini." sesal Mama.


Nisa hanya bisa kembali terisak, dan meratapi nasibnya. Ketika Ia selalu ada untuk Abi, tapi Abi justru tak ada untuk Nisa. Bahkan, saat Ia benar-benar butuh sosoknya.


"Nisa istirahat dulu. Mama akan membereskan semua." Nisa hanya mengangguk, dan serasa tak mampu lagi mengucap sepatah kata pun saat ini.


"Jahat kamu, Mas!" ratap Nisa, seorang diri.


Mama sofi membereskan semua ruangan, dibantu beberapa orang disana. Pekerjaannya terhenti, ketika melihat kilat lampu mobil menyambar tepat di matanya. Ia pun memperhatikan yang keluar dari mobil itu.


"Dita?" ucap nya, dengan kening berkerut silau. Ia pun begitu terkejut, ketika Abi turun bersama Dita dan langsung berlari menemui Mamanya.


"Ma, Nisa?"


"Di dalam, sayang. Dia nunggu Abi, daritadi."


"Maaf," sesal Abi. Tanpa banyak bicara lagi Abi langsung masuk kedalam dan menerobos kamar Nisa.

__ADS_1


Abi melangkah pelan. Ditatap nya sang istri tengah duduk meringkuk dengan mata bengkak, akibat segala kepedihan nya.


"Nisa?" panggil Abi, begitu lembut dan Nisa pun menoleh datar padanya.


"Nisa?" langkah Abi perlahan mendekat. Nisa mengangkat kepala, dan menatap Abi dengan tajam.


"Nisa, maaf, Aku...." ucap Abi, dengan terus mendekat meski hatinya pun hancur saat ini. Ia tak pernah sanggup, hadir ke pemakaman atau melayat ketika ada yang meninggal. Ia lebih sering diam, dan menangis sendirian dengan trauma yang kembali datang..


Nisa berdiri. Ia mengatur nafasnya, ketika Abi mulai semakin mendekat. Wajahnya tampak menyimpan banyak kekecewaan saat ini. Seorang yang sangat Ia butuhkan, justru paling akhir datang dan tanpa kabar. Nisa mengepalkan tangannya, ketika Abi sudah benar-benar ada di hadapannya saat ini.


Abi menatap nya nanar. Ia menahan air matanya sendiri dengan tetap diam di hadapan Nisa.


Buuugh! Satu pukulan dari kepalan tangan Nisa, mendarat tepat di dada Abi. Abi mendiamkan nya, dan tak bicara sepatah katapun.


Buuughh! Kedua kalinya Nisa memukul Abi dengan cara yang sama. Kali ini, mata Nisa kembali berkaca-kaca, dan netra nya mulai mengalir membasahi pipinya. Abi tetap diam, membiarkan Nisa melakukan apapun untuk meluapkan perasaannya.


"Aaaarrrrgghh!" akhirnya Nisa berteriak sekuat tenaga. Segala rasa yang tertahan akhirnya lepas, meski harus meluapkannya pada Abi. Bertubi-tubi di bahu dan dada Abi. Menangis lagi, tapi kali ini rasanya begitu lega. Abi meraih tangan Nisa, menarik dan membawanya kedalam pelukan hangatnya.


"Maaf,"


"Nisa benci sama Mas Abi. Nisa benci! Kenapa ketika Nisa butuh, Mas Abi ngga ada. Kenapa?" Nisa bahkan terus menghentakkan kakinya ke lantai dengan kuat karena emosinya.


Dita mendengar semua itu dari ruang tamu. Seketika Ia berdiri dan ingin melangkah menghampiri. Namun, Mama sofi mencegahnya.


" Antar Mama pulang, "


" Tapi, Ma? "


" Sudah, biarkan saja mereka."


"Iya," angguk Nisa. Terpaksa menuruti maunya Mama sofi. Segera meraih tas dan berjalan menuju mobilnya.


-


"Aku sudah berusaha. Aku berusaha kemari secepat aku bisa. Tapi, penerbangan tak bisa secepat itu." Abu terus mendekap Nisa dengan erat, meski Nisa berusaha kuat keluar dari pelukannya.


"Nisa hanya butuh bicara. Nisa ngerti kalau mas sibuk. Nisa ngga mau ganggu, Mas. Nisa hanya butuh suara Mas. Itu aja." jujur Nisa.


Beberapa lama diam mematung berdua dalam pelukan yang sama. Tiba-tiba, tercetus sebuah ucapan dari bibir Nisa.


"Ceraikan Nisa." ucapnya, mengalahkan gelegar petir yang menyambar.


"Hey! Kau...." Abi melepas pelukan, dan mencengkram bahu Nisa.


"Mas nikahin Nisa, karena kita saling butuh 'kan? Mas udah mulai sembuh. Tugas Nisa selesai, dan Nenek meninggal. Artinya, tugas Mas selesai dengan segala tanggung jawab. Dan hubungan kita.... Anggap saja Nisa telah melakukan tugas dengan baik."


"Nisa!" pekik Abi.


"Nisa capek, Mas... Capek! Mas masih mengincar tanah disini kan? Ya, Mas bisa memperjuangkannya lagi. Nisa ngga akan ikut campur."


"Kau...."


"Nisa tahu? Ya, Nisa tahu, Mas. Mas mau memanfaat kan Nenek juga, kan? Nisa tahu semuanya, Mas. Maka dari itu...."


Abi memotong ucapan Nisa. Ia menarik tangannya dengan kasar, dan memeluknya dari belakang.


"Jangan bicara itu lagi, aku mohon."


"Lepasin, Mas," mohon Nisa.


"Apapun yang terjadi, aku tak akan pernah menceraikan mu. Apapun itu, aku tak akan pernah sanggup berpisah darimu. Aku mohon," Abi membalik tubuh Nisa, dan menempelkan dahi mereka berdua. Meski Abi, masih belum mampu menatap air mata Nisa yang masih mengalir. Tapi Ia mampu mengusapnya dengan lembut.


" Aku akan melepaskan semua nya. Aku tak perduli lagi dengan apartement, atau semuanya. Aku hanya mau kau. Aku hanya mau Nisa terus di sampingku. Hanya itu,"


Abi mulai membuka matanya,begitu juga dengan Nisa. Rasa haru menyelimuti, hingga Nisa kembali memeluk Abi dengan erat.

__ADS_1


" Maafin Nisa, Mas. "


" Ya, Sayang... Kau tak pernah salah. Hanya aku... Aku yang terlalu mengabaikan mu, dan masih mengingkari rasa ini." dekap Abi dengan erat, mengecup kening itu dengan begitu hangat. Dengan suara yang berat, menahan air matanya sendiri demi menenangkan Nisa kala itu.


__ADS_2