
"Ish, kau ini..." tatap sinis Dita pada Nisa yang duduk begitu santai ditempatnya.
"Nisa pulang? Sendirian?" liriknya pada sang suami.
"Ya, taxi sudah ku pesan."
"Hhh, yaudah..." Nisa beranjak dari tempat duduknya.
"Salim," Ia meminta tangan kanan Abi untuk Ia cium. Abi pun segera memberikannya, dan Nisa mengecupnya dengan hangat.
"Ciumnya," Nisa kali ini memanyunkan bibir.
"Agresif," cibir Dita, dari kejauhan..
"Ini di kantor, nanti saja dirumah." tolak Abi dengan lembut. Namun, Nisa justru menundukkan wajahnya penuh kecewa.
"Nisa," panggil Abi. Namun Nisa enggan merespon. Ia mengambil tas nya di atas meja, dan segera memakainya.
"Rasain, banyak maunya. Kayak bocah aja," Cibir Dita dalam hati. Rasanya, ingin tertawa terbahak bahak dengan penolakan itu.
"Nisa pamit... Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," jawab Abi.
Nisa baru memutar tubuhnya sedikit, namun Abi menarik lengan nya kembali. Cuuup! Sebuah kecupan mendarat di bibir mungil gadis itu.
"Aaaaaah," Nisa mendongakkan kepala, dan menatap Abi dengan begitu bahagia.
__ADS_1
"Sudah, pergilah. Taxi sudah menunggu," ucap Abi, sekali lagi.
Nisa mengangguk beberapa kali. Rasanya begitu bahagia. Menyandang tas dan segera pergi keluar dengan melewati Dita yang tengah merah padam, bak kepiting rebus yang baru diangkat dari pancinya.
"Daaah, Bu Dita..." Sapa Nisa dengan ramah. Entah sengaja atau tidak, itu membuat Dita semakin kesal.
"Abi!"
"Apa? Ayo, berangkat. Client sudah menunggu." ajak Abi, dengan memakai jasnya sendiri. Tak lupa, merapikan sedikit rambutnya yang memang sedikit gondrong.
"Rapikan sedikit rambutmu."
"Tidak, Nisa tak mengizinkan nya." jawab Abi. Ia pun melangkah dengan penuh wibawa, keluar dari ruangan dan kantornya. Sedangkan Dita, berjalan di belakangnya sembari membawa beberapa file yang tersedia.
"Aku menyetir?"
"Baiklah," angguk Dita, yang langsung membuka pintu mobil Abi.
**
"Pak, bisa mampir sebentar, ke..."
"Maaf, Mba. Pak Abi sudah memesan taxi, harus sesuai rutenya. Jika melipir, maka saya yang akan ditegur."
"Oh, iya, baiklah. Maaf, ya?"
"Iya, Mba." jawab supir taxi itu. Yang kebetulan, adalah armada dari perusahaan yang Abi kenal. Hingga Nisa terpaksa harus menuruti maunya saat ini.
__ADS_1
"Sudah pulang?" tanya Adhim, via Wa padanya.
"Udah, lagi di jalan. Maaf, ngga bisa jenguk nenek kesana. Titip lagi, ya?"
"Iya, itu sudah jadi tugasku. Yang penting, kau aman.
"Iya, terimakasih," jawab Nisa, sembari mengirimkan emoticon kiss untuk nya.
Nisa memejamkan sejenak matanya, bersandar di kaca mobil dan menikmati perjalanan itu. Sembari memikirkan beberapa cara, agar dapat menyembuhkan Abi dari traumanya yang berkepanjangan.
" Tak ada yang perlu disembuhkan. Hanya saja, kau yang harus berdamai dengan segala keadaan."
Mobil pun tiba tepat di depan rumah. Nisa langsung turun, tanpa perlu membayar taxinya. Ia segera masuk dan menemui sang Mama yang tengah duduk santai dengan tv nya.
"Mama," panggil Nisa manja. Duduk, lalu berbaring di pangkuan sang Mama mertua.
"Hey, sayang. Kok pulang?"
"Mas Abi mau rapat. Kata Dita, clientnya introvert, jadi ngga mau terlalu ramai."
"Introvert?" Mama sofi berusaha mengingat sesuatu. "Oh, dia?"
"Mama kenal?"
"Ngga terlalu.. Tapi, Mama tahu. Beliau memang introvert. Kalau rapat, maunya cuma sama yang bersangkutan. Maksimal, dengan skretarisnya. Jadi, harap maklum, ya?"
"Iya, Ma." angguk Nisa. Ia masih disana, berbaring dengan begitu nyaman. Setidaknya, mengalihlan perhatian ketika memokirkan Abi disana.
__ADS_1
"Ada cewek cantik lagi ngga? Eh, tapi katanya introvert. Lagian, kalau ada Bi Dita, pasti ngga akan tinggal diam, sama perempuan begitu." gumamnya dalam hati. Setidaknya, Dita masih dapat dipercaya dalam hal itu.