Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Bersedia menikah denganku?


__ADS_3

""Enak jadi orang kaya. Mau melakukan apapun bisa, tanpa pernah memikirkan perasaan orang lain. Bertindak sesuka hati, tak pernah merasakan pedih seperti yang kami rasakan. Dan...."


"Apalagi?" Abi menoleh pada Nisa, tatapannya begitu tajam dan begitu dingin. Namun bukan itu yang jadi masalah. Melainkan, mobil terus berjalan tanpa kontrol karena Abi terus menatapnya tanpa beralih sama sekali.


Nisa membalas tatapan Abi. Tampak begitu takut, apalagi ketika Ia sadar jika laju mobil semakin kencang.


"Pak! Bapak awas, Pak. Nyupir nya yang benar. Ini nanti kita nabrak." Nisa memperingatkan. Wajahnya pun mulai pucat karena semua rasa takut yang menderanya.


"Pak, jangan nekat. Saya belum siap mati!"


Namun, Abi tetap saja menatapnya dalam diam. Seolah Ia memang sudah tak perduli lagi akan hidupnya.


"Bapak, kita hampir nabrak!" pekik Nisa. Ia pun tak mampu bicara lagi, hanya sanggup berteriak sekuat tenaga. 


Aaaaaaaarrrrrrkkkkh!!!

__ADS_1


Untungnya, Abi mengerem tepat sebelum mobilnya menabrak sebuah tiang di persimpangan jalan.


Nafas dan dada Nisa naik turun. Wajahnya pucat dan sekujur tubuhnya gemetar. Air mata nya pun menetes tanpa terasa, membasahi pipinya dengan begitu deras. Ia pun segera mengusapnya, dan kembali menoleh pada Abi dengan begitu kesal. Pria itu masih diam, tanpa ekspresi sama sekali. Menatap kedepan, bagai tak takut mati.


"Kau pernah merasakan, ketika kau tak jadi bunuh diri, hanya karena terfikir tangisan Ibumu? Kau pernah terfikir, lebih baik mati daripada terjebak masa lalu dan tak pernah bangkit hingga sekarang?" tanya Abi, dengan tatapan lurus ke depan.


Nisa menggeleng, mulai menurunkan egonya saat ini.


"Sekarang, apa mau mu? Kau butuh uang, berapa?" tanya Abi, kembali dalam mode yang begitu dingin.


"Nenek saya sakit, butuh biaya pengobatan yang begitu banyak. Entah, akan sembuh atau tidak. Pasti, biayanya sangat besar." jelas Nisa, yang akhirnya angkat bicara tentang semua kemalangan nya.


"Aku sudah menawarkan mu sebuah bantuan. Menawarkanmu sebuah kesepakatan karena memang kita saling membutuhkan. Aku tak pernah menghinamu, dan aku tak pernah mau mempermainkan sebuah pernikahan."


Nisa berfikir kembali. Namun, apa gunanya berfikir untuk kali ini.

__ADS_1


" Saya, bahkan sudah berada diujung jurang. Tak perlu lagi berfikir, apalagi untuk harga diri."


" Kau bersedia menikah denganku? Ini permintaan ku, untuk yang ketiga kalinya. Jika kau tolak lagi, aku tak akan pernah bertanya lagi." ucap Abi.


Nisa melepaskan genggamannya di sabuk pengaman itu. Perlahan, Ia mengulurkan tangan kanan nya pada Abi.


" Sa-saya mau, menikah sama Bapak." ucapnya terbata-bata.


Abi menyambutnya dengan senyum. Senyum manis yang melengkung disalah satu sudut bibirnya. Begitu tampan dan memepesona, seketika membuat jantung Nisa berdetak dengan begitu cepat.


"Kapan kita menikah?" tanya Nisa. Karena, Ia sangat butuh uang itu segera untuk Neneknya.


"Dalam minggu ini. Meski tak mewah, tapi semua butuh persiapan. Apalagi, aku juga harus konfrensi pers, nanti."


Tapi, nenek?"

__ADS_1


"Besok kita kesana, akan ku urus semuanya. Dan setelah itu, kau tak harus bekerja lagi. Tinggal dirumah dengan Mama, untuk mengurus semuanya."


"Ba-baik," angguk Nisa. Ya, hanya itu yang dapat Ia lakukan. Toh, pernikahan mereka sah, dan diakui negara. Tak ada ruginya, meski belum ada cinta diantara mereka.


__ADS_2