
"Pak Alex!" panggil seorang manager nya. Ia yang akan membantunya memimpin hotel yang dibangun bersama Abi.
"Ya, Adit. Ada apa?" tanya Alex, membalik badan menjawab anak buahnya.
"Pak Jay... Beliau siap menuntut. Bahkan, katanya mau bawa pasukan. Bagaimana?"
"Silahkan, tuntut saja jika Ia berani. Kita akan tuntut balik padanya."
"Apa perlu, panggil Pak Abi?"
"Eh, jangan dulu. Biar kita saja yang selesaikan semuanya. Biarkan Abi dengan urusannya disana."
"Baik, Pak..." angguk Adit, lalu meninggalkan nya dan kembali ke ruangan. Meski masih sederhana, dan belum sempurna seperti yang seharusnya.
Alex segera mempersiapkan perlawanan. Akan seru, karena akan ada Dua kubu diantara mereka. Pro dan kontra, dengan argumen nya masing-masing. Memang sedikit aneh kasus ini, karena menuntut harga tanah yang bahkan sudah dibangun.
"Pak Jay, Pak Jay..." geleng Alex, membayangkan kekonyolan itu.
"Hay Bi?" sapa Alex lewat video call mereka.
"Alex, bagaimana disana?"
"Ya, seperti ini. Jujur, Pak Jay mengajukan tuntutan." jawab Alex dengan jujur. Meski masih ada sedikit yang harus Ia tutupi.
"Separah itu?" Abi, dengan nada datarnya.
__ADS_1
"Tak terlalu. Aku masih bisa menyelesaikannya." senyum Alex padanya. Ia pun mengalihkan perhatian, dengan mempertanyakan hal lain pada Abi. "Kau, tak masuk kerja?"
"Tidak... Kemarin, Nisa membawaku ke makam Rere."
"Are You seriouse?" Alex begitu terkejut dengan ucapan Abi. Bahkan, menepuk pipinya beberapa kali. Seolah tak percaya dengan apa yang Ia dengan dan Ia lihat. Apalagi, Abi tampak baik-baik saja saat ini.
"Kenapa?" tanya Abi, aneh dengan kelakuan sahabatnya itu. "Aku tetap menangis disana."
"Hey, ayolah. Menangis itu wajar. Tapi setidaknya, kau tak meraung lagi seperti biasanya."
"Ya," angguk Abi, dengan segala ucapan Alex padanya. Memang benar, apa yang dikatakan Alex. Dan itu salah satu alasan, Alex dan Mama tak pernah mengizinkan Abi ke makam Rere, tanpa teman.
"Nisa, mana?" tanya Alex, celingukan mencari istri sahabatnya itu.
"Aku kagum dengan istrimu," celetuk Alex, membuat Abi mempertajam tatapannya.
"Hey,"
"Iya, aku hanya kagum. Sensi sekali kau rupanya." ledek Alex, dengan tawa gemasnya.
"Ingat, Dia memelukmu saat kau lemah. Kau juga harus begitu,"
"Ya, tak perlu kau ingatkan...." jawab Abi, dengan lirikan datarnya.
Keduanya mengakhiri panggilan. Abi beralih, untuk memanggil sekretarisnya kali ini.
__ADS_1
"Ya, ada apa?" tanya Dita, yang sibuk dengan pekerjaannya di kantor.
"Bagaimana kantor?"
"Baik, semua terkendali." lapor Dita. Ia pun mempertanyakan hal yang sama dengan Alex, mengenai izin nya tempo hari. Jawaban Abi pun sama. Yaitu mengenai kunjungannya ke makam Rere. Dan respon berbeda, Dita berikan untuk Bosnya itu.
"Kau sedang uji adrenalin? Siapa yang memaksamu kesana? Istrimu?"
"Ya,"
"Astaga, Nisa!" geramnya. "Lalu, bagaimana kau sekarang?"
"Tak apa. Iam okey."
Dita tampak menghentikan pekerjaannya. Ia mengerenyitkan dahi, dan beberapa kali tampak memijatnya dengan kasar.
"Besok, apalagi rencana kalian? Sepertinya, dia sengaja menantang trauma mu." tanya Dita.
"Bahkan dokter spesialis saja, tak berani membuka itu kembali. Bagaimana caranya, menutup rapat luka itu agar tak kembali menganga." gerutu Dita dalam hati.
"Tak tahu. Aku hanya ikut bagaimana dan kemana Nisa akan membawaku." jawab Abi dengan begitu tenang.
"Abi! Astaga. Jika trauma itu kembali datang, kau bisa masuk lagi ke Rumah sakit. Perusahaan mu sedang makin berkembang, Bi. Tolonglah, jaga dirimu sendiri saat ini. Jangan terlalu menuruti Nisa. Dia bahkan tak tahu apa dan bagaimana masa lalumu." cecar Dita.
Agaknya, Ia begitu emosi, khawatir dan semua bercampur aduk menajadi satu. Karena selain Alex dan Mama. Dita adalah salah satu saksi hidup dari kehancuran Abi di masa lalu.
__ADS_1