Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Hapus air matamu, Dita


__ADS_3

Glek! Nisa menelan salivanya dalam-dalam.


"Ini orang, kenapa tiba-tiba disini, sih?" batin Nisa tampak gugup, terlebih lagi kaget.


"Abi, katanya sibuk?" tanya Mama Sofi.


"Hanya ingin memastikan, jika kalian belanja dengan nyaman. Apalagi Dia," tunjuk Abi pada Nisa.


"Apalagi?" cemberutnya kesal. "Cuma perhitungan dikit, apa salahnya? Cari duit kan susah. Masa iya, segitu buat beli baju."


Abi tak menjawab, hanya menatap nya diam dan begitu tajam. Nisa makin salah tingkah karena nya. Apalagi, Mama Sofi pun tak pro dengan nya.


"Iya, iya, udah. Nisa ngalah. Ambil tuh bajunya, semuanya. Perkara baju doang. Biasanya di pasar ngga segitu." celotehnya kesal.


Mama Sofi meraih semua gaun itu, lalu pergi untuk segera membayarnya.


"Nisa mau ke Rumah sakit."


"Ngga bisa. Hari ini fiting baju, dan kau ikut aku." ucap Abi.


"Tapi Nisa mau lihat nenek. Kenapa di larang?"

__ADS_1


"Nenekmu ada yang merawat di sana. Dia aman."


"Tapi, Mas...." Nisa tak bisa melanjutkna ucapannya. Abi telah menggenggam tangannya, dan berarti Ia tak bisa melawan lagi.


Mereka pamit, ketika Mama Sofi telah kembali pada keduanya.


"Yaudah, Mama pulang sendiri. Kalian happy, ya? Sekalian kemcan, untuk memper erat cinta kalian. Mama pulang," pamit Mama sofi, yang pergi lebih dulu.


"Cinta?" Nisa menyipitkan matanya sembari menoleh pada Abi.


Abi mulai melangkahkan kakinya, seketika itu juga Nisa mengikutinya dari belakang karena lengan nya masih Abi genggam. Setengah berlari lagi, untuk menyeimbangkan langkah  kaki calon suaminya itu.


"Bentar aja, mampir ngga papa."


"Hubungi Direkturnya, sekalian." cebik Nisa, menyilangkan kedua tangan di dadanya.


Abi hanya diam, mulai memainkan layar Hp dan mengetik sebuah nomor disana.


"Kepada Direktur Rumah Sakit Medika? Saya mau tahu perkembangan Pasien bernama Aminah." ucap Abi.


"Ebuset, beneran Direkturnya yang di telepon." Nisa melotot dengan menelan salivanya.

__ADS_1


"Baik Pak Abi, kami akan membacakan status Pasien hari ini." jawab sang Direktur secara langsung. Abi pun menekan tombol loundspeaker di layar Hpnya, mendengarkan semua data perkembangan Nenek Nisa terhitung sejak semalam.


"Puas?" tanya Abi, meliriknya dengan tajam.


"Iya," jawab Nisa, menunduk kan kepalanya.


Abi akhirnya mulai untuk menyetir, meninggalkan tempat parkir di Mall itu. Menyetir menuju tempat Dita menunggunya untuk melihat gaun pengantin yang telah di pesan.


"Jangan ambekan, ingat umur." cetus Abi, sedingin es batu. Nisa hanya diam, mengerucutkan bibirnya kesal.


*


"Kamu yakin, akan memberikan gaun ini padanya?"


"Kalau engga, mau buat apa? Aku suka gaun ini. Aku bahkan membayangkan aku mengenakannya disebuah pesta mewah, bersama Abi disampingku. Eksptasiku terlalu tinggi, Nad." ucap Dita pada sahabatnya yang seorang designer.


"Wajar jika kamu berekspetasi dan berhadap, Ta. Aku pun tahu, bagaimana hubungan kamu dengan Abi. Kemanapun bersama, melakukan apapun berdua. Paling si Alex, yang kadang ikut dengan kalian."


Dita hanya diama, menatap kembali gaun indah berwarna putih itu dengan mata nanar. Ia bahkan tak berani lagi untuk menyentuhnya, meski sempat beberapa kali mencoba gaun itu di tubuhnya.


"Tak perlu ada perubahan lagi. Postur tubuhnya, hampir mirip seperti aku." ucap Dita. Nadin hanya mengangguk, dan menatap perih pada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Tuh, mereka datang. Hapus air matanya, malu kalau dilihat begini." ucap Nadi, dengan mengambil selembar tisu untuk Dita.


__ADS_2