Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Perawatan, demi suami


__ADS_3

"Bagaimana, gaun Nisa?"


"Sudah... Tinggal ku kirim kerumah Mama." jawab Dita. Yang seperti biasa, membacakan jadwal untuk Abi dari pagi hingga sore nanti.


"Tak ada perjalanan keluar, hari ini. Hanya di kantor. Dan... Sebentar lagi Alex pulang."


"Baik, terimakasih." balas Abi, dengan sedikit senyum di ujung bibirnya.


"Nisa, dimana?"


"Ku minta dia ke salon, bersama Mama."


"Ya, baguslah..." angguk Dita, lalu keluar dari ruangan itu.


Semua menatapnya. Seolah tengah membaca ekspresi yang Dita berikan setelah keluar dari ruangan Abi. Dan kembali dengan pekerjaan, ketika Ia menunjuk kan wajah yang begitu tenang di hadapan mereka.


" Kembali bekerja,"


"Iya, Bu...." jawab Mereka dengan kompak. Meski akan ada cerita baru, setelah Dita pergi dari hadapan mereka.


**


"Ma, ke salon mau ngapain?" tanya Dita, dalam taxi menuju salon bokingan sang Mama.

__ADS_1


"Ya, perawatan lah. Crembath, spa, pedicure, medicure. Kamu ngga pernah?"


"Engga," geleng Nisa. Ya memang tak pernah. Bagi Nisa, uang yang sangat sedikit itu, harus Ia manfaatkan dengan sebaik mungkin. Itu pun, kadang hanya cukup untuk kebutuhan nya dengan sang Nenek.


"Ya, kali ini kamu harus melakukan semuanya. Demi kamu, dan demi menyenangkan Abi," genggam nya di tangan sang menantu.


"Mau menyenangkan bagaimana? Di sentuh aja engga. Dandan juga, buat apa?" gerutu Nisa lagi, di dalam hatinya yang terdalam.


Tiba di tempat yang dituju. Mama sofi langsung mendaftarkan Nisa sebagai member VIP disana. Ia akan mendapatkan semua pelayanan terbaik, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pastinya, dengan staf yang ahli di bidangnya.


"Mari, Bu. Saya antar anda masuk ke dalam," ajaknya dengan ramah. Mama sofi mempersilahkan nya masuk, dan Ia menunggu diluar.


"Mama, ngga masuk?"


Nisa tampak ragu, bahkan serasa takut. Apalagi, ketika melihat semua peralatan yang tampak mengerikan baginya.


"Wa-waxing? Cabut bulu?" kaget Nisa, ketika semua tindakan akan dimulai satu persatu.


"Iya... Supaya kakinya mulus. Sakitnya cuma sebentar. Tenang saja."


Ya, sebentar. Tapi luar biasa hingga Nisa berteriak sejadi-jadinya. Membuat Mama sofi tampak cemas di luar.


"Itu anak, di apain?" gumamnya, sesekali melongok ke ruangan tempat Nisa di rawat.

__ADS_1


Mama terus menunggu, hingga Abi menghubungi untuk mencari tahu kabar istrinya disana.


"Ngga papa. Biasa, perawatan di dalam. Abi tenang aja, nanti Nisa pulangnya kinclong."


"Ya, baiklah. Kalau ada apa-apa, panggil..."


"Aaaaaarrrrrgghhhh!" pekik Nisa. Lagi-lagi terdengar hingga keluar. Bahkan, sampai ketelinga Abi yang tengah menelpon Mamanya.


"Nisa?" lirihnya.


"Iya, Nisa. Itu, dia lagi di waxing di dalem. Ngga papa, ngga usah khawatir." Mama sofi, berusaha menenangkan.


"Ah, iya..." jawab Abi. Ia pun segera mematikan telepon nya.


Beberapa menit terlewatkan. Entah kenapa, Abi tampak gelisah. Terbayang-bayang jeritan menyakitkan yang di keluarkan sang istri dari sebrang sana.


"Apakah, sesakit itu?" fikirnya. Ia pun meragu. Rasanya ingin meninggalkan kantor, dan menghampiri istrinya. Namun, langkah nya di gagalkan oleh Alex, yang baru pulang dari luar kota.


"Kau, mau kemana?" tanya Alex, menatap Abi tengah memakai jasnya.


"A-aku.... Aku hanya..."


"Hey, kenapa gugup? Kau, tak sedang..."

__ADS_1


"Tidak, tidak. Aku tidak apa-apa," jawab dan angguk Abi. Ia pun melepas jasnya kembali, membawa Alex duduk dan kembali membicarakan proyek mereka diluar kota. Meski, isi kepala Abi penuh dengan derita Nisa disana.


__ADS_2