
Abi turun ke ruang makan. Wajahnya lesu, dan serasa tak bergairah, menghampiri sang Mama yang sudah menunggunya.
"Nisa mana, sayang?"
"Nisa, keluar sebentar, Ma." jawabnya lesu.
Mama sofi, agaknya memahami sikap putranya, "Kalian berantem?"
"Abi yang salah. Abi... Sempat ketiduran karena obat penenang itu. Lalu, Dita membawa Abi kerumahnya."
"Nisa cemburu?"
Abi hanya mengangkat bahunya. Namun, Mama tahu jika Abi galau karena cemburunya Nisa.
"Makan, dan cari dia. Jangan biarkan ini berlarut."
"Ya," Abi mulai menyantap makan malamnya, meski rasanya tak begitu selera. Hanya beberapa sendok, dan Ia segera pergi mencari istrinya keluar.
__ADS_1
"Pasti tak jauh. Ia bahkan tak membawa mobil, atau pun motor yang ada." analisanya, dan berjalan mengikuti kata hatinya. Apalagi yang membuat gadis anehnya itu tenang, kecuali makanan dan cemilan.
"Minimarket," gumam Abi, meneruskan perjalanan panjangnya.
Langkah Abi terhenti. Analisanya benar, jika Nisa di minimarket ujung kompleks untuk jajan. Itu tak masalah. Namun, Ia kini bersama Adhim duduk di tempat yang sama. Bercanda bersama, tertawa dengan begitu lepas. Hatinya serasa terbakar, bahkan darahnya serasa mendidih tak terkontrol.
"Nisa!" pekik nya dari kejauhan.
"Nah, pawangmu dateng. Lihat wajahnya, marah begitu." ucap Adhim.
"Marah apaan? Yang ada, Nisa harusnya marah. Kenapa dia?" tukas nya, kesal.
Nisa membereskan mejanya, dan membuang sampah yang ada. Membiarkan Abi, yang masih tetap diam mematung disana. Menatap nya tajam, setajam pisau belati yang seolah siap menyayat hatinya. Ia pun segera menghampiri.
"Puas?" tanya Abi, datar dan tertahan emosi.
"Kenapa? Nisa cuma ngobrol sama dia. Ketemu juga baru."
__ADS_1
"Kau meninggalkan aku, dan bertemu dengan dia. Tertawa bersama, seolah begitu bahagia."
"Ya bahagia lah. Namanya ketemu temen. Diajak ngobrol, dihibur. Siapa yang ngga seneng." Nisa melangkah cepat, meninggalkan Abi yang masih diam ditempatnya.
"Kau meninggalkan aku lagi? Hey, aku belum selesai bicara!"
"Lanjutin dirumah aja. Malu, dilihat orang." jawab Nisa. Abi pun berjalan, mengikuti Nisa di belakangnya. Hingga tiba dirumah, dan langsung naik ke kamar mereka.
"Tapi kau tak malu, beretemu dan berbicara dengan pria asing diluar sana. Semua tahu, kau istriku." sergah Abi, pada Nisa yang tengah mencari Hpnya di nakas. Namun, Abi langsung menutup lacinya. Untung saja, tangan Nisa tak terjepit disana.
"Semua orang juga tahu, jika Mas itu suami Nisa. Tapi, Mas malah tidur di kamar cewek lain. Nisa berhak marah kan?" tukasnya, berusaha setenang mungkin dalam kondisi itu. Padahal, rasanya ingin menangis karena rasa cemburu yang mulai hinggap dihatinya.
"Sudah ku bilang, aku tak tahu menahu soal itu..." Abi menarik lengan Nisa, membawa gadis itu tepat di depan matanya.
"Nisa juga ngga tahu. Kak Adhim mendadak dateng dan negur Nisa. Terus gimana? Impas kan?"
"Ini bukan sebuah permainan, Nisa. Kau bahkan menemui dia tanpa izinku. Sedangkan Dita...." Abi mencengkram tangan Nisa dengan begitu kuat. Menatapnya semakin tajam dengan segala amarah yang berkobar.
__ADS_1
"Iya, tahu! Nisa tahu banget, Mas. Siapa yang ngga tahu. Bahkan, Dita suka sama Mas pun Nisa tahu kok." Nisa menghempaskan tangan Abi dari dirinya.
Mereka saling beradu tatapan tajam. Bahkan Abi, seolah telah dibakar oleh api cemburu yang telah semakin berkobar dihatinya.