Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Abi hilang Kontrol


__ADS_3

Abi sekejap menatap tajam pada Feby. Mata dan fikirannya tampak kosong dan nyaris tak dapat mengontrol dirinya sendiri. Ia berjalan dengan cepat hingga rasanya tiba-tiba datang mencengkram rahang Feby yang masih duduk bersimpuh karena jatuh.


"Kau anaknya?" Abi tampak begitu marah saat ini.


"Katakan, untuk apa kau masuk kemari?"


"Aaaaakkkhh!" Pekik Feby, berusaha mengatur nafasnya sebisa mungkin. "A-aku mencintaimu, hanya itu."


"KATAKAN! Jika tidak, kau akan semakin ku hancurkan?" ancam Abi, dengan suara seraknya.


"Ingin menghancurkan ku? Menghancurkan yang bagaimana lagi?" Feby masih dengan nafas yang terasengal karena cengkraram yang begitu kuat Ia rasakan. Tangan kecilnya berusaha melepas lengan Abi darinya, tapi Ia kalah tenaga. Feby menatap Dita, tapi wanita itu tampak apatis dengan apa yang Ia lihat.


"Katakan," suara Abi melunak, dan Ia melonggarkan cengkramannya.

__ADS_1


"Ya... Kau sudah menghancurkan hidup keluargaku, Pak. Kau membuat kami hancur setelah Kau penjarakan Ayahku karena kasus itu. Gara-gara itu, usaha kami bangkrut dan kami terjerat hutang dimana-mana. Kau puas!"


Tampak Feby membalas tatapan nyalang Abi padanya. Ia seolah menantang Abi dengan masa lalu keduanya, yang kelam.


"Ia sudah meminta maaf, Ia sudah berusaha mengganti rugi. Tapi kenapa? Kenapa kalian masih menuntutnya? Tahu kah kalian, jika Ayah tak sengaja?" sergah Feby, tersenyum meski menitikan air matanya.


"Jika Ia mengakui ketidak sengajaan itu, maka Ia tak perlu kabur. Harus nya dia menolong Rereku yang terkapar penuh daraah disana. Kenapa Dia pergi? Dan berbulan-bulan bersembunyi seolah tak terjadi apapun. Kenapa?"


Abi tampak begitu frustasi, berusaha mengontrol dirinya sendiri meski sebenarnya ingin sekali kasar dengan Feby. Andai Ayah Feby tak lari, setidaknya Abi tak terlalu menyalahkan diri sendiri, karena tak dapat memberikan pertolongan pada calon istrinya itu.


Feby masih kekeuh membela dirinya. Padahal, bagaimana pun memang sudah salah sejak awal dan keputusan pengadilan sudah sangat benar dan sesuai dengan hukum yang berlaku.


" Kau masuk kemari, demi apa?" tanya Dita, mengawasi keduanya dengan diam.

__ADS_1


Feby pun kembali bercerita tentang keadaan terparahnya. Terlilit hutang, dan berusaha menjual warisan keluarga.


"Aku menginginkan Pak Abi. Sangat menginginkan nya untuk ku miliki. Aku ingin menghancurkan dia, seperti dia mengancurkan keluargaku..."


Tangan Abi, seketika semakin kuat mencengkram rahang feby, hingga Ia kembali terpekik dengan kuat.


"Aaaarrrghh! Aku ingin menghancurkan mu sehancur hancur nya! Aku tak ikhlas, ketika kau bahagia dengan hidupmu saat ini."


"Kau tak tahu, Aku juga begitu hancur karena nya!" geram Abi, nafasnya mulai kasar dengan rahang yang semakin menegang keras. Otot tangannya pun, tampak begitu kuat mencengkram Feby saat ini.


"Tapi kau masih bisa Bahagia! Kau masih bisa sukses dengan perusahaan mu. Kau masih... Aaarrrkh! Kau bahkan masih bisa membuka hati untuk wanita lain dan menggantikan nya. Lalu, bagaimana dengan aku?" air mata keluar deras dari mata Feby.


"Yang telah mati, tak akan pernah hidup lagi. Kau masih bisa mengganti nya dengan yang baru. Tapi.... Hancurnya keluarga kami? Bagaimana?! "

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, Abi semakin geram tak terkontrol. Cengkraman tangan nya turun ke leher Feby, membuatnya semakin sesak dan nyaris kehilangan nafasnya. Dita tampak cemas. Ia tak menyangka Abi akan sebrutal ini sekarang, karena semu rasa trauma, benci, dan marah bercampur menjadi satu..


"Bi... Abi, sudah, Bi. Kau tak bisa seperti ini." Dita berusaha meraih tubuh Abi, dan menjauhkan nya dari Feby. Tapi rasanya percuma, karena Abi seolah kerasukan iblis hingga tak dapat mengontrol dirinya sendiri.


__ADS_2