Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Membantumu, dengan tetap diam.


__ADS_3

"Balutannya di buka, ya?" pinta Nisa, mengusap tangan Abi dengan lembut. Sembari menemaninya menyelesaikan pekerjaan di ranjang mereka.


"Infeksi?"


"Engga... Kan ngga luka luar. Dibungkus terus juga ngga baik. Kan, Nisa yang rawat. Boleh, ya?" bujuknya genit.


"Baiklah, hati-hati." jawab Abi.


Nisa pun meraih tangan itu. Mulai membuka lembar demi lembar balutan yang membungkusnya. Abi tak melihatnya, hanya fokus dengan segala tugas yang ada di laptopnya. Atau, memang menghindar agar tak melihat kondisi tangannya yang masih terasa begitu nyeri itu.


Tampak masih bengkak, dan sedikit tampak memar kebiruan di persendian jarinya.


"Sakit?" tatap Nisa, begitu memberikan perhatian. Dengan terus mengusap dan meniupnya dengan lembut.


"Sedikit. Hanya jika tersentak, baru begitu nyeri." jawab Abi, sesekali melirik Nisa dengan segala aktifitas pada tangannya itu.


"Tak ada kegiatan lain?"


"Ada.... Oles salep disini," balas Nisa. Abi hanya kembali menggelengkan kepala dengan tingkah istrinya itu.


"Tidurlah, besok masih harus menemaniku. Jadwalku padat,"


"Sebentar," ucap Nisa, masih memainkan jarinya dengan lembut disana.

__ADS_1


Abi masih fokus. Semua aktifitas Nisa tak mengganggunya sama sekali. Justru, ketika wanita itu diam lah, maka Abi menoleh dan dan memperhatikannya.


"Tidur?" tanya nya. Namun Nisa sama sekali tak menjawab. Sudah begitu lelap, dengan tangan menggenggam tangan Abi yang sakit itu.


Abi tak melepas genggaman itu. Ia menutup laptopnya, dan menyingkirkan itu semampu nya. Tanpa melepas genggaman itu, Ia merapikan selimut Nisa secara perlahan. Takut, jika Nisa justru terbangun dan menggenggam tangan nya dengan kuat. Bisa-bisa, Ia terpekik kesakitan nantinya.


Ia kemudian merebahkan diri, dan mulai memejamkan matanya secara perlahan. Meski was-was, jika Nisa bergerak dan kembali menyakitinya. Lagi-lagi, hidupnya di hantui rasa takut karena ulah wanita.


Adzan subuh berkumandang. Nisa perlahan membuka matanya, menatap Abi yang tepar ada di hadapannya. Seketika Ia ingat, jika tangan mereka masih bergandengan.


"Hhh, untung inget...." gumamnya, sembari perlahan dan sangat pelan, melepas tangan itu darinya..


"Ini kalau ditinggal, aman ngga ya?" khawatirnya, pada kondisi Abi yang bisa kambuh kapan saja ketika merasa kesepian.


"Hmmm?"


"Nisa masak, ya? Siapin sarapan buat kita nanti."


"Hmmmm,"


"Nanti, kalau ada apa-apa, panggil aja. Nisa denger kok,"


Abi akhirnya membuka matanya dan langsung menatap Nisa.

__ADS_1


"Kok, malah bangun?" tanya Nisa, merasa bersalah. "Nisa ganggu, ya?"


"Jangan bertanya, ketika kau sudah tahu jawabannya." balas Abi, dengan dinginnya.


Nisa turun dari tempat tidurnya. Meninggalkan Abi yang masih terbaring disana dengan sedikit meregangkan ototnya. Meski, sesekali terdengar merintih karena tangan kiri nya tersenggol sesuatu. Dan Nisa berusaha tak menghiraukannya kali ini.


Gadis itu mengikat rambutnya. Ia mulai dengan semua pekerjaan dapurnya. Memasak, dan semua nya seperti yang sering Ia lakukan dirumah terdahulu.


Bedanya, dirumah Abi semua serba lengkap. Mesin cuci cannggih, kompor, dan semuanya yang mempermudah Nisa. Apalagi, isi kulkas hampir penuh dengan segala persediaan bahan makanan. Rasanya seperti di syurga. Nisa memasak dengan ceria, sesuai imajinasi akan apa yang ingin dia olah.


"Tak perlu masak terlalu banyak. Kita hanya berdua," ucap Abi, yang datang dengan menyangga tangan kirinya.


"Kok bangun?"


"Kau ingin, aku tidur lagi?"


"Ya, untuk apa bangun sepagi ini? Toh, ngga bisa bantuin Nisa masak." tukasnya.


"Aku membantumu,"


"Membantu apa?"


"Membantumu, dengan cara duduk dan diam disini. Setidaknya, tak semakin merepotkanmu," jawab Abi. Duduk dengan manis dikursi ruang makannya. Tampak begitu tenang dan diam, menyilangkan kedua tangan di dadanya. Meski, selalu menjaga tangan kirinya tetap stabil.

__ADS_1


"Ckkk, kayak anak-anak lagi antri nunggu di kasih makan," cebiknya, meledek tingkah sang suami.


__ADS_2