
"Selamat siang, Pak Rifat," sapa Abi dengan ramah. Pak Rifat pun menjawab tak kalah ramah darinya. Keduanya, sama-sama hanya membawa Satu sekretaris sebagai teman mereka.
Duduk disebuah ruangan VVIP, dengan suasana yang memang begitu tenang, sejuk dan damai. Abi menyukainya, meski sesekali Ia merasakan begitu sepi.
Rapat berlangsung cukup lama. Bahasan yang mereka rundingkan cukup banyak, hingga harus makan siang bersama. Abi menghabiskan nya sedikit, hanya untuk menghormati rekan nya itu.
Mereka mengobrol santai sejenak, sembari menunggu agar sedikit lega dari makan siang yang baru turun ke perut masing-masing. Pak Rifat, mempertanyakan tentang pernikahan Abi.
"Kenapa tak mengundang?"
"Maaf, hanya acara kecil yang dihadiri keluarga. Nenek dari istri saya, tengah dirawat di Rumah sakit, sehingga kami tak dapat menggelar pesta mewah." jelas Abi.
"Ya, baiklah. Salam saya untuk istri Anda. Pasti sangat cantik," puji Pak Rifat, mengundang senyum diujung bibir Abi yang menggemaskan.
"Ya, cantik," balas dan angguk Abi. Dita hanya diam, memperhatikan keduanya.
"Bisa kita lanjut?" tanya Dita.
__ADS_1
"Ya, baiklah. Dinda, sekretaris saya, akan menjelaskan kembali mengenai proyek kita." ucap Pak Rifat
Kedua sekretaris itu, kemudian bertukar fikiran. Dita mendengarkan Dinda dengan baik, lalu mencatat semua dalam memori dan bukunya. Abi diam, mendengarkan dengan baik dan berusaha fokus dengan apa yang mereka bicarakan. Sementara, Pak Rifat keluar sebentar dengan urusannya.
Abi terus diam. Lama-lama, terasa begitu sepi dihatinya. Ia bersandar di bahu kursi, menahan sesak sembari menepuk dadanya beberapa kali dan memejamkan matanya.
"Aakh!" lirih Abi, terus memukuli dada bidangnya. Ia beberapa kali menggerakkan kepalanya, berusaha mengalihkan semua perhatian nya terhadap bayangan yang lain.
Dita mendengarnya, langsung menoleh dan menatap Abi yang gelisah disana.
"Abi, kau tak papa? Kau kenapa?"
"Bi, aku harus bagaimana? Kau genggam tanganku," Dita mengulurkan tangannya. Namun, tak ada reaksi apapun pada Abi.
"Bu Dita, pak Abi kenapa?" tanya Dinda.
"Tak apa. Ia hanya kelelahan. Bisa lanjutkan besok? Atau, nanti kita bicara lewat virtual."
__ADS_1
"Oke, baiklah. Saya akan keluar, menghampiri Bapak."
"Terimakasih,"ucap Dita. Dinda pun keluar, meninggalkan keduanya di ruangan itu.
Abi mengadahkan kepalanya ke atas. Sesekali, turun meletakkan dahinya diatas meja. Dadanya terus Ia pegang, sesekali Ia pukul dan Ia usap agar sedikit tenang. Bahkan, Buterfly hug pun seolah tak ada fungsinya.
"Bi, kau perlu obatmu." Dita meraih tasnya. Disana ada obat Abi yang akan selalu Ia bawa, meski hanya sebutir. Ia selalu mengantisipasi, jika hal buruk akan datang setiap saat.
"Minumlah. Nisa tak akan kemari, karena jaraknya jauh. Setelah itu, ku antar kau pulang." bujuknya, menyuapkan obat itu ke mulut Abi. Pria itu pun tak kuasa menolak kali ini, karena Ia pun tak ingin merepotkan yang lain.
Abi meraih obat itu, dan segera meminum nya dengan segelas air putih yang tersedia. Ia menghela nafas panjang, merasakan setiap efek obat yang mengalir ditubuhnya.
"Kau ingin pulang?"
"Ya, antar aku pulang."
"Baiklah," Nisa membantu Abi berdiri, meski Abi menjaga jarak darinya. Keduanya berjalan keluar, setelah pamit dengan Pak Rifat dan sekretarisnya. Dengan jaminan, jika Dita akan meneruskan rapat mereka secara virtual nanti malam.
__ADS_1
Abi telah berada di mobilnya. Duduk di depan, dan Nisa memegang setirnya. Ia mulai berjalan, membawa Abi ketempat yang lebih nyaman dari mobilnya.
"Jangan kau bawa aku, kemanapun. Aku harus pulang," ucap Abi, dengan mata setengah terpejam.