
"Ma...." dengus Abi, lalu menoleh kembali pada Nisa yang menatap senyum padanya. Mata nya di kedip-kedipkan dengan segala rasa penuh kemenangan.
"Sini," tunjuk Nisa di keningnya.
"Ish," cebik Abi, yang kemudian menarik lengan Nisa dan melekatkan bibirnya di kening istrinya itu.
"Aaaawh, manisnya..." gemas Nisa, seolah ingin terbang menuju kayangan.
"Sudah, aku pergi. Semua orang, sudah menunggu ku di kantor."
"Iya... Bye Mas suami," lambai Nisa, sok mesra dan membuat Abi geli dengan tingkah nya.
"Ayo, Nisa. Abisin sarapanmu. Nanti dingin ngga enak lagi," tegur Mama Sofi.
"Enak ngga enak, tetep harus di makan, Ma. Nisa udah biasa," jawabnya yang kembali lahap.
Keduanya membantu Bibik membereskan rumah setelah itu. Dan sesekali membantu membereskan sisa dekorasi dari pesta yang baru saja di lakukan. Semua berlalu begitu cepat, bahkan terasa seperti mimpi bagi Nisa. Ia telah menjadi Istri Abi, Bos yang bahkan belum begitu Ia kenal.
"Tinggal penyesuaian. Dan lagi, mendalami karakter sebagai istri. Tanya siapa? Tanya Mama, malu lah." lirihnya sembari menyapu seluruh ruangan yang penuh dengan sampah kertas dan bunga-bunga yang bertaburan.
**
"Pagi...." sapa Abi pada para karyawannya.
__ADS_1
"Pagi, Pak Abi..." jawab mereka serentak. Berdiri dan membungkuk menyambut Bos mereka.
"Pak, kenapa sudah masuk?" tanya Manda, yang langsung menghampiri dengan beberapa dokumen.
"Ya, mau apa lagi?" tanya Abi yang mulai membuka laptopnya.
"Ya, kali aja perlu menikmati hari-hari menjadi pengantin baru." ledek Manda.
Abi hanya memberinya senyum kecut. Terasa malas membalasnya lagi. Dan juga, pasti akan yang bertanya akan hal yang sama seharian ini.
"Aaargghh! Membuatku jengah!" geramnya, bersandar kasar di bahu kursinya yang nyaman.
"Dita mana? Kenapa kamu yang kemari?" tanya nya pada Manda. Padahal, biasanya Dita lah yang akan selalu begitu cepat menanganinya. Bahkan, melakukan apapun tanpa Ia perintahkan terlebih dahulu.
"Bu Dita izin. Sehari aja sih, katanya."
"Siap, Pak..." angguk Manda, lalu keluar setelah urusannya selesai.
Abi mulai dengan segudang urusannya. Begitu banyak, bahkan tak terhingga. Biasanya Dita begitu cakap, apalagi ditemani Alex di dekatnya. Tapi Alex tengah mewakili nya pada sebuah rapat saat ini.
" Hey, kau sakit?" tanya Abi via telepon pada Nisa.
"Ya, aku tak enak badan. Rasanya berat sekali, hanya untuk berdiri. Mata pun berkunang-kunang."
__ADS_1
"Nanti, aku akan menjengukmu kesana."
"Tak usah. Nanti, Nisa marah. Kau harus sering bersamanya, kalian pengantin baru 'kan? Dia lebih butuh perhatianmu."
"Kau yang menjagaku ketika sakit. Dan aku juga akan melakukan itu," ungkap Abi, membuat hati Dita seketika terenyuh dan begitu bahagia.
"Baiklah, aku tunggu dirumah." balas Dita. Perasaannya begitu berbunga-bunga. Sakit yang Ia rasa seolah langsung sembuh hanya dengan membayangkan pertemuannya dengan Abi nanti sore. Masih lama, Lima jam lagi, mungkin.
Tapi entah kenapa, rasanya seperti Abi sedang berjalan di persimpangan rumahnya, dan sebentar lagi akan sampai. "Jujur, aku memang rindu perhatianmu, Bi." harapnya.
*
Nisa baru saja merasa lega. Semua tugas membersihkan rumah besar itu telah selesai. Mama Sofi sempat melarangnya, karena takut Ia kelelahan. Tapi nyatanya, Ia adalah gadis aktif yang tak bisa tinggal diam dirumah. Apalagi, semua memang terbiasa Ia yang mengerjakan.
"Hallo, Mas. Ada apa?" sapa Nisa, ketika Abi menelpon nya.
"Kau sedang apa?"
"Baru istirahat, abis beres-beres." jujurnya.
"Aku menikahimu, bukan untuk menjadikanmu pembantu."
"Mas, tapi...."
__ADS_1
"Sudahlah. Nanti sore, bersiap ikut aku pergi. Dandan biasa saja, hanya menjenguk temanku, sakit."
"Iya, Mas." Nisa memang hanya bisa menurut. Dan setelah itu, Ia menelpon Adhim untuk menanyakan kabar sang nenek