Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Aku harus pergi


__ADS_3

"Nisa, coba ini," Mama Sofi mengeluarkan sebuah stiletto hitam dengan tinggi Lima centimeter. Nisa tercengang, bahkan menelan salivanya dengan kasar.


Untuk heels yang Tiga centimeter, Ia masih bisa karena memang sudah pernah memakainya ketika bekerja. Meski dalam bentuk sepatu, dan tak se runcing itu ujungnya.


"Ini, lancip bener? Nanti kalau nusuk ke tanah, kayak mana, Ma?"


"Coba aja dulu, Nak. Lagian kalau ada acara pakai ini, ngga mungkin outdoor. Kita sesuaikan aja, nanti."


"Oh, baiklah..." angguk Nisa. Dan kebetulan, ukuran itu pas sekali ketika Ia pakai. Ia pun mulia dengan beberapa langkah pertamanya. Meski tertatih dan nyaris jatuh, tapi Ia berusaha agar bisa memakainya.


"Ma, ini punya siapa? Kok pas banget." tanya Nisa, berjalan berputar mengelilingi rumah.


"Itu? Punya Rere, sayang. Mau buat sesrahan, kalau mereka jadi nikah,"


Bruuug! Seketika Nisa jatuh. Untung saja tak terkilir karena nya.


" Eh, kamu kenapa?" Mama sofi beranjak dari sofa, dan langsung menolongnya berdiri. Dibantu Bik Nik yang langsung membereskan sepatu itu kembali.


" Maaf, Ma. Itu sepatu nya, lecet ngga?" tanya Nisa, gugup.


"Kamu kenapa mikirin sepatu? Ini loh, kaki kamu gimana?" tegur Mama, membawa Nisa duduk dan memangku kakinya.

__ADS_1


"Maaf, tapi itu sepatunya,"


"Udah!" tepuk Mama di pergelangan kaki Nisa. Membuat nya kembali tersentak dan diam. "Sepatu ya biarin, sepatu. Tapi kaki kamu ini loh, kalau luka gimana? Ngapain nanya sepatu."


"Maaf, Ma. Tapi itu, peninggalan Rere."


"Bukan peninggalan. Wong ngga jadi dikasih."


"Iya, maaf," angguk sesal Nisa.


Mama sofi memijatnya sebentar. Perlahan, agar Nisa tak semakin kesakitan. Untung saja, kaki nya pun tak terkilir atau pun terbentur dengan benda lain.


"Iya, Ma, akan Nisa perhatikan."


"Ya... Kadang kala, orang hanya mendekat karena ada tujuannya. Mereka ingin dekat bukan dengan tulusnya. Kamu harus hati-hati,"


"Iya, Ma..." angguk Nisa lagi, menurunkan Kaki dari pangkuan sang Mama.


Terdengar mobil Abi datang. Nisa langsung berdiri dan menghampirinya, meski kakinya sedikit nyeri akibat kelelahan.


"Maas," sambutnya, dengan langsung meriah tangan kanan dan mengecupnya.

__ADS_1


"Kenapa kakimu?" tatap Abi.


"Ngga papa, ayo masuk..." gandengnya dengan mesra.


"Besok aku ke luar kota." ucap Abi. Nisa yang tengah membantunya melepas dasi, langsung diam seketika.


"Hey, kenapa?" Abi menunduk menatap istrinya.


"Ikut?" pinta Nisa, melanjutkan pekerjaannya.


"Aku hanya beberapa hari. Alex memintaku menyelesaikan sengketa disana."


"Kalau kambuh, gimana?"


Abi menghela nafas panjang. Ia menggenggam tangan Nisa, dan membawanya duduk diatas ranjang, tepat di pangkuan Abi.


"Ada pun, Rere tak pernah datang seperti dulu. Dia datang dengan cantik," usap Abi, di bahu Nisa untuk menenangkannya. Memang baru kali ini, Mereka akan berpisah dalam hitungan hari. Justru ketika Abi mulai bangkit dari traumanya.


Nisa masih tertunduk, mengalungkan tangannya di leher Abi, dan wajahnya menyuruk di tengkuknya. Menghisap aroma Abi dengan begitu dalam.


"Ada masalah disana. Hotel pun belum terbangun sempurna. Setelah urusan selesai, aku akan segera kembali. Okey?" dekap Abi dengan hangat. Terasa ketika Nisa mengangguk dalam pelukan itu.

__ADS_1


__ADS_2