
Perih sekali rasanya hati Dita, mendengar semua ucapan Abi padanya. Ia selama ini memahami Abi. Namun, Abi pun tak pernah sedingin ini padanya.
Ia jatuh bersimpuh, dengan segala rasa sakitnya. Ingin rasanya berteriak sekuat tenaga, melepaskan segala rasa yang ada. Yang bahkan tak dapat Ia ucapkan dengan kata-kata. Hanya air mata, yang dapat menggambarkan segalanya..
***
Nisa mengguyur tubuhnya di bawah shower. Dengan air yang dingin, melebur hatinya yang panas. Ya, siapa yang tak panas, ketika suaminya tidur dirumah sang sekretaris, merangkap sahabat, dan bahkan menyimpan rasa untuk nya setelah sekian lama.
"Aaarrrghh! Ngeselin!" pekiknya. Ia segera keluar, merapikan diri dan duduk terus hingga menunggu Abi pulang. Ia memainkan Hpnya. Bermain game, membaca novel online, bahkan menonton drakor kesukaannya. Namun tak ada yang jelas karena fokusnya sudah begitu terganggu oleh Dita dan Abi.
Hatinya meradang, bahkan nyaris membayangkan yang tidak-tidak diantara keduanya. Apalagi Dita bilang, Abi tidur pulas di kamarnya.
"Mas Abiii! Awas kamu, Mas!" ancamnya, dengan segala rasa kesal yang ada.
Tak lama kemudian, Nisa mendengar suara Abi masuk ke dalam rumah. Ia disambut Mama Sofi, yang mulai meracau karena Abi pulang cukup larut hari ini.
"Udah nyaris malem! Mama khawatir, tahu ngga?"
"Maaf, hanya begitu banyak jadwal hari ini. Nisa mana?"
__ADS_1
"Dikamar... Bahkan Mama tahu, dia khawatir." sergah sang Mama padanya.
"Abi ke atas dulu," pamitnya, lalu berjalan cepat menaiki tangga yang ada.
Abi membuka pintunya perlahan. Menatap Nisa yang duduk diam, den menatapnya dengan tajam.
"Kau, menungguku?" tanya Abi, berbasa basi.
"Jangan tanya, kalau Mas tahu jawabannya. Nisa bahkan udah hampir ratusan kali memanggil, tapi ngga ada jawaban. Akhirnya nelpon Bu Dita."
"Maaf, aku...."
"Foto?" Abi menyipitkan matanya.
"Ya, foto suamiku di ranjang sekretarisnya."
Abi mendekat. Ia duduk tepat disebelah Nisa dan meraih Hpnya. Ia menunjukkan, Hp itu memang dalam keadaan mati, dan lupa meminta Dita mengisi dayanya.
"Aku minum obat itu lagi. Disana begitu sepi, dan tak ada kau. Jadi, Dita memberiku obat itu. Jadi... Aku tidur."
__ADS_1
Nisa seolah tak ingin mendengar alasan itu. Semakin banyak Abi menjelaskan, semakin pula Ia memiliki banyak pertanyaan.
"Nisa capek, Mas. Nisa capek begini terus. Nisa mau keluar sebentar. Jangan cari. Nisa pulang, nanti." ucap Nisa. Ia pun segera menyimpan Hpnya, dan pergi keluar dari rumah. Entah, melangkahkan kakinya kemana. Asal Ia tak bersma Abi kali ini.
Langkah kaki kecil itu, terhenti di minimarket ujung kompleks rumah Abi. Ia masuk, dan membeli minuman segar disana. Ia pun duduk, di kursi santai yang tersedia sembari menikmati semilirnya angin malam.
Belum terlalu malam, tapi sudah gelap dengan cahaya rembulan yang bersinar terang.
"Nisa? Kok disini?" sapa seorang pria. Suaranya familiar, dan Nisa langsung menoleh padanya.
"Kak Adhim?"
"Hey... Aku berhenti sebentar, pulang dinas siang. Kehausan, jadi aku mampir cari minum dingin."
"Sama, Nisa juga." jawabnya, penuh senyuman ramah.
Mereka pun mengobrol sejenak. Bersenda gurau, sembari berbagi kabar tentang sang Nenek yang ada dalam perawatan pria itu. Meski hasilnya sama, setiap apa yang dikabarkan.
"Ya, mau gimana lagi. Udah berusaha sekuat tenaga juga. Itu pun, suami yang bayarin semuanya. Andai bukan dia, entah bagaimana nasib kami," ucap Nisa, dengan menenguk air yang ada di tangannya.
__ADS_1