Nisa Untuk Abi

Nisa Untuk Abi
Ku pegang ucapan mu


__ADS_3

Hari ini, hari pertama Nisa belajar memperbaiki diri. Setidaknya, Ia belajar agar dapat menyesuaikan diri dengan semua rekan kerja Abi. Yang rata-rata adalah orang berpendidikan tinggi dan memiliki kepribadian anggun, bersahaja, dan berkelas. Sangat beda dengan dirinya yang masih berantakan.


"Kalau di meja makan, susunannya begini. Pisau untuk iris daging, garpu yang pegangin. Sapu tangan, taruh diatas paha."


"Iya, Ma..." angguk Nisa, menuruti semua yang dikatakan Mama mertuanya. Dengan praktek memakan sebuah steak ayam yang dibuatkan Mama, khusus untuknya belajar.


"Begini?" tanya Nisa, mempraktek kan semuanya.


"Ya, bagus..." puji Mama, ketika menantunya dengan cepat menyesuaikan diri dengan pelajaran.


"Kamu kemana-mana pakai sepatu kets? Belajar pakai heels,"


"Ma, susah. Nisa jalan aja serasa setengah berlari, kalau sama Mas. Kayak mana mau pakai heels?"


"Kalau pertemuan, Nisa."


"Iya," jawabnya lagi. Untung nya Mama sofi begitu sabar dengan mantu kesayangannya itu.


Sebuah heel dengan tinggi Tiga centimeter, di pakai Nisa. Mama sofi memasang sebuah buku diatas kepala Nisa, agar membuatnya fokus menatap kedepan dan berdiri dengan tegap.


"Jaga, agar tak jatuh."

__ADS_1


"Iya, Ma...." jawab Nisa, yang mulai tegang. Mulai melangkahkan kaki dengan terus menjaga keseimbangan dirinya.


"Aku sering melihatnya di tv. Tapi tak ku sangka, sesulit ini." gerutunya dalam hati.


Mama Sofi duduk dengan santai di sofa, sembari mengambil rekaman pelajaran Nisa. Setelah itu, Ia kirim pada putranya yang tengah bekerja di kantornya.


"Kamu lihat? Nisa bahkan begitu keras berusaha, agar bisa menyesuaikan diri dengan lingkunganmu. Kamu harus menghargai semua usahanya, Abi." ucap Mama dalam pesan nya.


Abi melihat video itu. Perasaannya pun begitu terenyuh akan semua usaha Nisa. Semua, Nisa lakukan untuk meraih hati Abi selama ini. Tak hanya hatinya, tapi dengan segala yang berhubungan dengannya.


" Terimakasih," ucapnya, seraya mengusap wajah lelah Nisa yang Ia zoom dari fotonya.


"Abi, ini berkas yang harus kamu tanda tangan. Dan ini, beberapa laporan yang harus di periksa. Semua sempat tertunda, karena liburmu kemarin." Dita datang, dengan segala pekerjaan yang menunggu.


"Ah, iya... Maaf," ucap Abi, yang langsung mematikan Hpnya.


"Fokusmu mulai terbagi?" tanya Dita, yang duduk di hadapannya saat ini.


"Tidak, hanya mendapat laporan mengenai Nisa. Dia sedang belajar kepribadian, sekarang."


Dita memainkan lidah dalam bibirnya. Menghela nafas dan kembali menahan segala rasa kesal. Dan kembali profesional seperti biasa.

__ADS_1


"Ada kabar dari Alex?" Abi memulai pertanyaan lagi.


"Belum. Hanya Ia bilang jika mulai ada tuntutan. Itu saja,"


"Aku mulai cemas." Abi mengepal kedua tangan, dengan siku yang bertumpu di meja. Menyandarkan dagunya sembari berfikir disana.


"Kenapa tak datangi saja? Masalah akan cepat selesai jika kau turun tangan. Asal, jangan campur urusan pekerjaan dengan urusan pribadi."


"Nisa?" Abi memicingkan mata.


"Siapa lagi? Kau tak akan fokus jika ada dia. Bermain, dan semua yang tak penting."


"Kau tak menyukainya."


"Jangan tanya, jika kau tahu jawabannya."


"Aku tak tanya," tatap Abi, dengan tajam padanya. "Aku serius, dengan ucapanku kala itu, Dita. Jika terjadi sesuatu pada Nisa, dan itu karna ulahmu...."


"Kau fikir, aku akan berbuat apa? Kau tahu aku membencinya. Jangan kan melakukan sesuatu padanya. Menatapnya saja aku jengah."


"Ku pegang ucapanmu," Abi mengambil segelas air di mejanya, dan meneguknya sedikit.

__ADS_1


Dita bergeming. Berusaha bersikap santai dengan semua yang dikatakan Abi. Meski, Ia tahu Abi begitu serius dengan ucapannya saat itu. Bahkan, tak dipungkiri jika kakinya tremor karena ancaman itu.


__ADS_2