
MARI SYUKURAN PAK DOSEN SUAMIKU 100 EPISODE! HUHU NANGIS BANHET AUTHOR, GAK NYANGKA BISA NULIS SAMPAI SEJAUH INI, PADAHAL DULU JUGA PERNAH BIKIN NOVEL, MALAHAN BOLAK BALIK HAPUS,UPLOAD,GAK PERNAH BISA. EMANG CUMA DI NOVELTOON YANG BIKIN TAMBAH SEMANGAT, DITAMBAH READERS YANG SELALU DUKUNG DAN BIKIN SENENG, I LOVE U GAIS!!
DAN INI CHAPTER SPECIAL UNTUK KALIAN!
MARI PELUKAN ONLINEðŸ˜ðŸ˜
"Aira kan?"
"Ya?"
Aira menoleh kebelakang, ada beberapa gadis menatapnya, entahlah apa arti tatapan mereka.
Firasatnya tidak enak.
"Eh maaf saya mau kekelas"
"Tunggu dulu kak"
Aira mendelik.
'Kakak? Ini berarti adek an gue?'
"Maaf kak kami gak maksud apa-apa, tapi..."
Greb!
Aira melotot, tangannya digenggam gadis didepannya, dan mereka mendekat.
'Ini pada kenapa sih?!'
"Kak..Kita iriii huwaaaa" ucap mereka serentak.
Aira semakin tidak mengerti, ia juga kaget ditambah mereka merengek.
"Tolong lepasin tangannya" ucap Aira.
Tangannya dilepas.
"Kakak kenal pak Alex dimana?"
"Hum! Kok bisa sampai married?"
"Kenalan orang tua ya?"
"Atau emang pacaran lama?"
"Iya cerita dong kak, kami mencoba ikhlas"
'Woilah ini adek an pada kepo banget, dikerumunin gini'
"Pak Alex kurang asem, dia anteng-anteng diruangannya gue yang ditanyain mulu!'
Kepalanya ingin pecah mendengar rentetan pertanyaan mereka semua.
"Duh banyak banget pertanyannya" eluh Aira.
"Jawab punya aku aja kak, aku najwa" ucapnya.
Aira melihatnya.
"Jangan, aku aja kak..Lala"
Aira melihat gadis itu juga.
"Aku aja kak"
"Aku!"
"Aku aja! Kalian kenapa sih?!"
Aira menutup telinganya.
"Saya permisi ya..."
Ia berjalan cepat menjauh dari kerumunan, karena Alex bilang tidak boleh berlari.
Bahkan suara mereka yang kesal masih terdengar, contohnya ucapan gadis paling tengah yang bernama najwa.
"Gara-gara kalian kakak itu pergi"
Gadis-gadis itu antusias sekali.
Aira berbelok kearah lain.
__ADS_1
"Haish..Pusing banget, banyak yang naksir papa kamu" gumam Aira sambil menunduk.
"Aira" panggil seseorang
'Ya Allah jangan lagii'
'Eh bentar, suara kok kayak..'
Aira mendongak, lebih baik ia putar arah kembali ke gadis-gadis menyebalkan itu, Karena yang dihadapannya sekarang lebih menyebalkan.
Aira bahkan berharap untuk tida melihat orang itu lagi, ah sayang sekali itu mustahil.
"Aira gue mau ngomong"
Orang itu maju satu langkah, Aira juga mundur satu langkah.
"Stop, jangan jalan kesini" cegah Aira.
"Aira"
"Gue bilang stop, Mira!" bentak Aira.
Dadanya sesak lagi, ia berjalan mundur dan menjauh.
"Aira please, sebentar aja, gue tau lo benci gue, tapi dengerin gue" ucap Mira.
"Apa lagi? Lo itu pelakor, kedok lo itu-" bentak Aira
"Gue bukan pelakor!" suara Mira tak kalah kuat.
Aira terdiam.
"Please Ra, anggap ini permintaan terakhir gue? Gue janji gak ganggu lo lagi"
Kenapa Aira tidak senang mendengar kata permintaan terakhir, ia masih belum bisa kalau Mira benar-benar menjauh.
Aira mengigit bibir bawah.
'Aira tenang, gak boleh nangis, lo harus kuat, kandungan lo lemah' ucap Aira dalam hati.
Aira menarik nafas dalam-dalam.
"Gue cuma punya waktu sepuluh menit"
"Oke-oke, kita ke belakang kampus ya?"
Aira mengikutinya.
Belakang kampus.
"Sekarang lo ngomong" ucap Aira.
"Aira gue gak ada niatan mau ngerebut pak Alex"
"Tunggu, dengerin dulu" cegah Mira saat Aira ingin memotong ucapannya.
"Lo inget masalah loh sama Gilan?"
'Kenapa bawa-bawa Gilan'
"Ya"
"Gue yakin lo juga inget gimana gue yang berusaha kasih tau lo, buat udah jangan deket Gilan lagi, jangan mau jalan sama dia atau apalah itu, karena dia suka lo"
"Lo tau gue ngelakuin ini buat siapa Ra?"
Jantung Aira terus berdetak kencang.
"Buat lo Ra, buat rumah tangga lo" ucap Mira.
Iya, Aira tau itu, tapi Aira juga tidak menyangka Gilan benar-benar menyukainya.
"Dan lo pasti bertanya-tanya apa alasan gue mau hancurin rumah tangga lo, padahal gue juga berusaha jaga rumah tangga lo"
'Bener! Lo ngomong sekarang'
Tubuh Aira dingin.
"Ini Buat efek jera Ra, biar lo nyesel, biar lo sadar, seharusnya lo udah bahagia sama pak Alex, meskipun itu pernikahan terpaksa, tapi setidaknya lo bisa hargai dia sebagai suami"
"Tapi lo tetep ngeyel, masih mau inilah, itulah...Jujur gue nyerah Ra buat bantu jaga rumah tangga lo, sedangkan lo nya bodoh amat, laki-laki juga bakal nyerah Ra"
Aira mengepal tangannya, matanya juga berkaca-kaca mendengar ucapan Mira.
__ADS_1
Sakit sekali dadanya.
"Gue sayang sama lo, lo sahabat gue yang paling berharga, mana mungkin gue mau ambil suami lo.." ucap Mira.
"Ta-tapi cara lo ini jahat Mira.." lirih Aira.
Mira menunduk.
"Iya gue tau, gue nyesel, gue khilaf Ra, gue juga sakit hati karena pak Raka suka lo"
"Pak Raka?"
"Yah, dia suka lo, gue gak terima..tapi sekarang gue sadar, gue gak boleh bersikap egois"
Mira meraih tangan Aira.
"Karena persahabatan kita lebih berharga Ra" ucapnya.
Setetes air mata turun membasahi pipi Mira.
"Lo boleh marah sekarang, lo boleh tampar gue lagi, gue gak akan ngelawan..Asal lo mau maafin gue" pinta Mira.
Mira berjongkok didepan Aira sambil terisak.
Mira memang jahat dimatanya, tapi sekarang Aira sadar, bukan Miralah yang jahat, melainkan dirinya. Dia yang mengabaikan peringatan Mira, sampai gadis itu nekat memberinya efek jera.
Hati Aira terenyuh melihat Mira yang sebenarnya berusaha membuat dia dan Alex bisa bersama dan menjalani rumah tangga dengan baik.
Aira sangat bodoh, ia dianugerahi teman seperti Mira, yang selalu melindunginya dengan tingkah konyolnya.
Mira memang sahabat terbaiknya.
Aira menatap tangannya yang dulu menampar Mira didepan rumahnya. Air matanya pun menetes.
"Mira.." lirihnya.
"Maafin gue"
Mira mendongak lalu buru-buru bangun, ia panik karena Aira ikut menangis.
"Aira..lo gak boleh nangis..jangan nangis, gue yang salah.." ucapnya.
Aira menggeleng, ia menatap Mira.
"Lo baik Mir, makasih udah kasih pelajaran berharga buat gue..hiks.." isaknya.
"Aira.."
"Lo maafin gue..?"
Aira mengangguk.
Sangking senangnya Mira memeluk Aira dan terisak bersama.
"Gue salah Ra, hiks..Gue nyesel..Hampa banget gak ada elu" ucap Mira.
Mira melepas pelukannya, ia menatap Aira yang menangis sesegukan.
"Aira..Gue"
"Kita bisa temenan lagi kok" potong Aira.
"Serius?"
Aira mengangguk.
"Kita-kita jadi sahabat lagi?!"
"Iya"
Mira tersenyum senang.
"Aira hiks.."
Sekarang Aira merasa beban terberatnya hilang, ia bisa memeluk Mira lagi, memang luka lama sulit terobati, tapi Aira yakin.
Seiring berjalannya waktu luka itu akan terobati.
Mira ingin berlari ke hadapan Raka sekarang juga dan berteriak sekencang-kencangnya untuk memberitahu kabar ini.
'Pak Raka makasih banyak, saya gak tau harus berterimakasih gimana lagi, tapi saya bener-bener bersyukur atas kehadiran pak Raka yang bikin saya sadar dan bisa memahami segalanya'
'Berkat bapak saya dan Aira biaa seperti ini.. Karena kepercayaan bapak ke saya'
__ADS_1
'Sedikit kecewa karena saya sulit mengagumi bapak lagi, bapak pasti ilfeel liat saya' ucap Mira dalam hati.