Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-119


__ADS_3

"Eh Non Mira cantik" ucap Lara.


Raka melihat gadis itu lalu tersenyum.


"Udah nunggu lama?" tanya Mira.


"Belum, baru sampai" ucap Raka.


Mira cantik, Raka tidak bohong karena ia sendiri sulit mengalihkan pandangan.


"Mira, Bunda ajak Raka buat sarapan bareng loh" ucap Maeza.


Mira mendelik.


"Serius, mau?"


Raka mengangguk.


"Bunda tinggal dulu ya, kalian berdua" ucapnya.


"Iya bunda"


Maeza dan Lara pergi kedapur, Mira memegang tangan Raka.


"Seriusan pak Raka mau sarapan bareng?" tanyanya lagi.


"Hum, bunda kamu yang minta mana mungkin saya nolak, lagipula saya udah lama gak sarapan bareng keluarga" ucapnya.


Mira mengerjapkan matanya.


"Emm si mbak ngomong apa tadi?" tanya Mira mengalihkan.


Ia tidak tau menau tentang keluarga Raka, tapi yang pasti dari ekspresinya Mira tau, pria itu tidak baik-baik saja.


"Enggak, dia baru mau ngomong kamu udah dateng" ucap Raka.


Mira menghela nafas, Raka mengerutkan dahi bingung.


'Untung mbak Lara gak sempet bilang soal gue tadi malem'


'Sumpah kesel sama mbak Lara, bisa-bisa dia ngasih tau pak Raka soal gue yang curhat sama dia'


Flashback on.


"Mbaaak tau gak? Mira tuh udah suka lama sama pak Raka, mbak liat sendirikan, dia tuh..errr ganteng, terus putih, badannya beuh...bagus"


"Pas tau dia nyatain perasannnya, rasanya hati Mira berubah jadi yuppy, meleyot mbak"


Lara mendengarkan cerita Mira sambil ngangguk-ngangguk. Majikannya itu mengajaknya masuk kekamar untuk diajak ngobrol.


Obrolan cinta.


"Mbak kalau jadi saya pasti gitu kan?"


"Iyalah Non"


"Intinya Pak Raka itu my honey, my lovely, belahan jiwaa deh" ucap Mira lebay.


"Aaaaa gemes banget cubit pipi pak Rakaaa" ucapnya sambil menguyel-uyel pipi Lara.


"Kan pacarnya Non, cubit aja"


Lara malah ditepuk pundaknya.


"Jaga image dong Mbak, masa saya gitu, tapi gak taua kalau udah nikah hahaha"


Mira bangkit.


"Gak kebayang jadi istrinya pak Raka~" ucapnya.


Flashback off.


'AAAA BENER-BENER MALU-MALUIN TAU GAK! KENAPA GUE NGOMONG KAYAK GITU!'


"Kenapa hela nafas gitu kamu?"


Mira menggeleng cepat.


"Gak, gakpapa hehe" ucapnya.


"Ngomong-ngomong, saya pikir kamu tomboi" ucap Raka.


Mira diam sejenak lalu tertawa.


"Saya tomboi? Hahaha kata siapa?"


"Bukan kata siapa-siapa, cuma asumsi saya aja, soalnya kamu kalau sama Aira, keluar sifat laki-lakinya"


Mira tertawa.

__ADS_1


"Kapan saya gitu?"


Raka mendesis lalu menoyor pelan jidat Mira.


"Dikantin kamu teriak-teriak sambil gulung lengan baju, kayak preman, saya pikir kamu tomboi" ucapnya.


"Oh itu, saya memang suka marah-marah, jadi yaaa gitu deh.. Tap-tapi saya gak tomboi" ucap Mira membela diri.


Raka tertawa kecil.


"Iyaa kamu gak tomboi, saya yang salah menilai"


"Inget, harus maklum, saya tukang marah, tapi saya bisa juga jadi anak baik" ucap Mira.


Raka tersenyum, menatap Mira jahil.


"Ya-yaudah ayo sarapan, biar cepat gemuk" ucap Mira sembari menarik tangan Raka.


Raka tertegun melihat tangannya yang digenggam Mira.


'Lucunya~'


"Bunda ini anaknya" ucap Mira pada Maeza, begitu mereka sampai ditempat makan.


"Duduk nak, disebelah Mira ya" ucap Maeza.


"Iya bundaa"


Mira duduk lebih dulu dikursinya, Raka juga ikut duduk disebelahnya. Ia jadi kaku, tidak pernah sarapan bersama keluarga orang lain.


Mira melirik sang kekasih yang nampak tegang.


"Relaks, gak ada ayah kok" bisiknya.


"Saya juga tau" balas Raka.


Mira cekikikan.


"Terus kenapa tegang gitu mukanya, lagi ospek ya?" ledeknya.


"Diem kamu"


Maeza menghidangkan makanan diatas meja dibantu Lara.


"Ini Raka, makan yang banyak ya" ucap Maeza.


"Iya bunda"


Maeza tertawa.


"Harus dong, Mira ambilin makan buat Raka" pintanya.


Mira menurut, ia mengambilkan makanan untuk Raka.


"Nah bagus, latihan dulu, nanti kalau udah nikah gak kaku lagi"


Blush~


Mira dan Raka membeku, pipi keduanya memerah. Maeza menatap keduanya dengan wajah polos.


'Bunda mulutnya'


Mira melirik Raka, wajah pria itu merah padam. Mau ditaruh dimana mukanya ini.


"Ini" ucap Mira.


"Makasih Mira"


Mereka pun sarapan bersama, Maeza terus mengoceh dan menceritakan kebobrokan putri semata wayangnya didepan Raka, lihat betapa malunya Mira didepan sang kekasih.


"Bunda makasih sarapannya" ucap Raka.


"Hehe sama-sama, nanti kalau ayah Mira pulang, kita makan bareng lagi" ucap Maeza.


"Oke siap bunda, kalau gitu saya sama Mira mau berangkat dulu"


Maeza mengangguk.


"Bun berangkat dulu ya"


Mira mencium tangan bundanya, wanita itu mengantar Mira dan Raka sampai kedepan pintu.


"Hati-hati ya nak"


"Iyaa" balas Mira.


Di mobil.


"Bunda kamu lucu ya" ucap Raka.

__ADS_1


"Emang heboh gitu orangnya ya?" tanya Raka.


Mira mengangguk.


"Heboh banget, makanya temen-temen say pada akrab sama bunda, bunda orangnya have fun" ucap Mira.


"Rumah rame terus ya Mir"


"Iya gitu, belum lagi ayah, duh sakit kuping saya pak" ucap Mira sambil memegang telinganya.


Raka tertawa.


"Bersyukur kamu masih bisa sama orang tua Mira" ucapnya.


Suasana jadi hening.


Mira semakin penasaran kenapa sebenarnya dengan keluarga Raka.


"Orangtua bapak kenapa?" tanya Mira hati-hati.


"Orangtua saya?"


"Hum"


"Mereka masih ada kok, cuma jauh, mereka tinggal jauh dari saya, paling datang kejakarta waktu hari-hari spesial aja, ya kalau bukan mereka yang kesini berarti saya yang kesana" ucap Raka.


Mira mangut-mangut.


"Kenapa gak tinggal sama bapak aja? Bapakkan udah punya rumah"


"Ya gakpapa, orang tua saya maunya tinggal disana, mungkin karena semua keluarganya ada disana"


"Ah jadi gituu, saya pikir bapak broken home"


"Enggak haha"


"Abisnya bapak tatapannya sedih gitu diajak makan bareng bunda" ucap Mira.


"Udah lama gak makan bareng, biasanya saya selalu sendiri, masak sendiri, semua saya kerjakan sendiri"


'Kok ganteng-ganteng miris'


Mira mengusap lengan Raka.


"Sabar ya pak, semua akan indah pada waktunya" ucapnya.


"Tapi saran saya lebih baik bapak cari pembantu, jangan yang masih muda, yang tua aja" lanjut Mira.


Raka menoleh sebentar.


"Kenapa?"


"Kalau masih muda nanti falling in love gimana?" ucapnya dengan wajah khawatir.


"Haha ya enggaklah"


Raka menoel hidung Mira.


"Kan dikhawatirkan" ucap Mira.


"Gimana kalau kamu yang jadi pembantunya?"


Mira mendelik.


"Heh kok saya?"


"Pembantu sekaligus istri" ucapnya diakhir tawa.


"Yeuu"


Raka tersenyum melihat Mira.


"Sama Aira udah gak ada masalah kan?"


"Enggak, baik-baik aja kok" jawab Mira.


Gadis itu duduk sambil memainkan handphone miliknya. Raka melirik, apa yang dilakukan gadisnya itu.


"Kamu ngapain?"


"Main instagram"


"Stalking siapa?"


"Stalking kuliner, pengen ke jogja" lanjutnya pelan.


"Ke jogja?"


Mira mengangguk lemah.

__ADS_1


"Nanti honeymoon kesana"


__ADS_2