
Aira menepuk jidatnya, astaga dia lupa membeli benda itu. Kenapa tidak terpikirkan olehnya untuk membelikan ****** ***** Alex.
"Sa-saya gak kepikiran beli itu" ucap Aira, menggaruk belakang lehernya.
"Saya juga gak inget ****** ***** mas seperti apa, kan saya gak pernah beliin" ucap Aira.
Alex melipat kedua tangan didepan dada.
"Jadii?"
Aira menyengir.
"Pake aja yang tadi hehe" ucapnya.
"Tidak nyaman Aira Alkeynaa" eluh Alex.
'Bener juga sih'
Aira berdecap.
"Yaudah saya rapiin ini dulu buat mas istirahat, baru saya beli itu" ucap Aira meneruskan kegiatan merapikan tempat tidurnya.
"Saya ikut ya?"
Aira menggeleng sebagai penolakan.
"Disini aja, mas sakit nanti kena angin lagi"
Alex cemberut.
"Ikutt"
Ia menghampiri Aira dan memeluknya dari belakang.
"Mas"
"Ikutt" ucap Alex.
Alex menciumi punggung Aira yang berbalut pakaian. Aira risih? Tidak wanita itu malah merasa geli.
"Mas awas" ucap Aira.
"Mas ikut ya dek?"
'Dek?'
Blush~
Pipi Aira merah, panggilan dek memang sudah biasa ia dengar dari kedua kakaknya, tapi ini menjadi luar biasa karena Alex yang menyebutnya.
"Hum?"
"Iya ikut" ucap Aira.
Alex melepas pelukannya, ia langsung menarik tangan Aira agar berdiri.
"Yuk" ajaknya.
Namun Aira menahan.
"Mas mau keluar gini aja?"
Alex mengangguk, Aira pun pergi menuju koper miliknya. Ia membawa dua hoodie miliknya, beruntung hoodienya oversize jadi Alex bisa memakainya juga.
"Nih" ucap Aira menyerahkan hoodie pada Alex.
Lihat betapa perhatian istrinya saat ia jatuh sakit. Alex segera memakai hoodienya, mereka keluar dari hotel dengan bergandengan tangan.
"Mas beli celana dalemnya dimana?" tanya Aira.
"Di supermarket ada"
Aira mangut-mangut. Ia melihat sekitar yang tadi di laluinya, terasa berbeda.
'Tadi rasanya sepi banget jalan sendirian, sekarang berdua gini kayak lagi pacaran'
Hampir enam menit mereka berjalan tidak ada tujuan, Aira tidak tau dimana supermarketnya. Ia hanya mengikuti suaminya.
Aira berhenti melangkah.
"Mas tau dimana supermarketnya? Dari tadi yang keliatan cuma cafe, sama toko baju"
Alex diam sejenak, lalu menggeleng.
Yatuhan! Jadi mereka cuma berjalan tanpa tau dimana supermarket berada.
"Ck..Gak tau kenapa malah jalan terus" kesal Aira.
Alex mengangkat tangan Aira yang ia genggam, menyentuh pipinya. Aora mendongak menatap Alex.
"Kamu kesel ya?" tanya Alex dengan wajah melas.
'Bye world Gak jadi kesel gue!'
Alex pandai sekali membuat wajah imut yang sangat tidak baik untuk hati dan jantung Aira.
"E-enggak"
Aira menarik tangannya menjauh.
__ADS_1
"Besok harus periksa gula darah gue, gue takut diabetes" gumam Aira.
"Kamu ngomong apa?"
Aira menggeleng cepat.
"Coba liat ditoko baju aja mas, mana tau ada kan?"
Aira membawa Alex menuju tempat awal dia membeli pakaian untuk Alex.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu mbak, mas?"
"Mbak..Itu saya cari..Eum.."
Aira bingung bagaimana mau menanyakan dimana letak ****** ***** pria. Ia melirik Alex, pria itu ikutan diam sambil melihat sekeliling toko.
"Mas, ngomong dong" bisik Aira pada Alex.
"Ngomong apa?"
'Rese nih orang'
"Yaa ituuu, kita kan cari ****** ***** mas" ucap Aira jengkel.
"Ohh"
Alex melangkah maju agar jaraknya lebih dekat dengan pelayan toko. Tapi lengan pria itu ditahan oleh Aira, bukan apa-apa. Masalahnya si pelayan itu seorang gadis cantik.
"Disini aja, gak perlu maju-maju" sewot Aira, yang pasti didengar si pelayan.
Alex melongo, istrinya bahkan cemburu pada pelayan toko?.
"Iya mas cari apa?" tanya pelayan toko.
"Disini ada jual ****** ***** pria?" tanya Alex.
Pelayan tersenyum.
"Ada mas, mari saya tunjukkan"
Aira merasa tidak suka melihat cara pelayan itu tersenyum pada Alex, memang senyum yang sama saat ia datang tadi. Tapi Alex kan suaminya, pria itu tampan dan mempesona.
"Iya mbak jalan duluan" ucap Aira.
Ia merangkul lengan Alex.
Jujur Alex bisa menangkap gerak-gerik Aira.
"Kamu cemburu kan?" Bisik Alex.
Aira menatapnya sinis.
"Masa sih?"
"Bawel" ucap Aira.
"Ini mas, silahkan dilihat" ucap pelayan.
Lagi-lagi gadis itu tersenyum, membuat Aira panas.
'Senyam-senyum lo sama suami orang, gue sambit juga nih'
Alex tersenyum senang, dengan jahil ia meraih pinggang Aira, hingga wanita itu tersentak kaget.
Ini namanya mendapat kesempatan dalam kesempitan.
Tentu saja pelayan toko yang melihat itu langsung pergi meninggalkan mereka.
"Eh makasih mbak" ucap Aira.
"Sayang" panggil Alex.
Bulu kuduk Aira merinding.
"Kita seri"
Cup!
Alex mencium daun telinga Aira.
'What? Apa maksud? Seri?'
Alex tau istrinya akan marah, buru-buru ia menghindar seperti tidak terjadi apa-apa.
"Mas-"
"Aira, saya sudah dapat, ayo bayar" potong Alex.
'Loh loh gue belom selesai ngomong maemunah'
Sampai didepan kasir, Aira memberi jarak antara Alex dan pelayan tadi.
Tatapan sinisnya membuat pelayan sedikit tidak nyaman.
"Aira" tegur Alex.
Merasa tidak senang Aira melangkah keluar toko sambil menghentak-hentakkan kaki.
"Istrinya ya mas?"
__ADS_1
Alex mengangguk.
"Yang sabar ya mas, istri lagi hamil muda lebih sensitif, mama saya dulu gitu waktu hamil adek saya" ucap pelayan.
Aira hamil?.
"Ah iya mbak, terimakasih" ucap Alex.
Ia bergegas menyusul Aira, ternyata wanita itu berdiri didepan toko dengan melipat tangan.
Melihatnya Alex teringat perkataan pelayan tadi, Aira belakangan ini sangat sensitif dan lebih agresif.
Apa benar Aira hamil?.
"Udah?" tanya Aira membuyarkan lamunan Alex.
"Iya, kamu mau langsung balik kehotel?"
"Iya" jawab Aira singkat.
Selama perjalanan Aira terus bungkam. Ia bolak-balik menepis tangan Alex.
"Saya pulang aja ya?" ancam Alex.
Aira mendelik.
"No!" Tegasnya.
"Kamu cemburu sama pelayan tadi?"
Konyol, mereka sama-sama cemburu pada seorang pelayan.
"Gak, jelas cantikan saya" ucap Aira percaya diri.
Mulut bilang tidak tapi wajah tidak bisa berbohong.
"Iya jelas istri saya cantik, kalau jelek sudah saya poligami" celetuk Alex.
Aira menatap tajam Alex.
"Berarti nanti saya udah gak cantik lagi mas mau poligami?" tanyanya.
Alex mengangguk tanpa ragu.
Aira mengertakkan gigi, ia melepas genggaman tangan Alex lalu berjalan lebih dulu.
'Ringan banget bilang mau poligami'
Alex mengejarnya, cepat sekali Aira merajuk.
"Saya bercanda, mana mungkin saya poligami kamu" ucap Alex.
"Heum"
Aira benar-benar menghindarinya, begitu sampai dikamar hotel, Aira langsung naik keatas tempat tidur dan berbaring, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Alex melangkah mendekat.
"Aira"
"Apa?"
"Kamu kenapa?" tanya Alex.
"Ngantuk, udah malem besok mau kekampus lagi" ucapnya dengan kesal.
Alex mengusap kepala Aira yang ditutupi oleh selimut sebelum pergi kekamar mandi. Mungkin Aira memang mengantuk.
Tak berselang lama Alex selesai berganti pakaian, ia membuka pintu kamar mandi, Alex tersentak kaget karena Aira sudah berdiri didepan pintu kamar mandi. Wajahnya datar.
"Kamu mau bikin saya jantungan?"
"Lama banget" ketus Aira.
Alex mengerutkan dahi.
"Mas lama dikamar mandi" lanjutnya.
Lama? Alex bahkan tidak sampai sepuluh menit mengganti pakaian, apa itu pantas disebut lama?.
Alex tersenyum, ia menangkup kedua pipi Aira hingga kepalanya mendongak.
"Kamu kenapa hum?"
Ekspresinya berubah sedih.
"Gak tau..Rasanya saya gelisah" ucap Aira.
Alex membawa Aira kepelukannya.
"Sudah ada saya disini, kamu gak perlu gelisah"
"Hum"
Ia mengusap pipi Aira.
"Tidur ya?"
Aira mengangguk.
__ADS_1
Buat ibu-ibu nih kaliaan waktu hamil gimana gejala-gejalanya? pasti berbeda dong setiap wanita, jangan lupa komen ya biar nambah wawasan Author😇