Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-158


__ADS_3

Cklek..


"Assalamuallaikum.." ucap Aira saat membuka pintu rumahnya.


"Waalaikumsalam" saut Alex.


"Ini mas taruh disini aja ya?" tanya Alex sambil menunjuk ruang kosong didekat pintu masuk.


Aira mengangguk.


"Mas gendong Atiya dong, aku mau nyiapin baju kerja kamu" pinta Aira.


Alex mengambil Atiya, ia duduk disofa sambil mengajak sang anak berinteraksi.


"Mas mau bawa bekal?" teriak Aira dari dalam kamar.


"Enggak sayang" saut Alex.


Beberapa menit Aira didalam kamar, Alex memutuskan untuk menyusul istrinya.


"Sayang" panggilnya.


Aira menoleh.


"Hum? Atiya ngompol?" tanyanya sembari mendekat.


Alex menggeleng.


"Ohh enggak, kenapa?"


Alex mengusap kepala Aira, tatapn matanya begitu lembut dan tulus.


"Kenapa mas?" tanya Aira lagi.


"Mas ambil cuti aja, nanti mas telfon mahasiswa mas buat ngasih tugas" ucapnya.


Aira mengerutkan dahi.


"Mas gak enak badan atau gimana? Sayang loh mas kalo gak kerja, dirumah udah ada aku yang handle semua" ucap Aira.


"Mas sebenarnya sedikit pusing sayang"


Aira menaruh tangannya didahi Alex.


'Gak panas badannya..'


"Yaudah mas istirahat gih, biar aku ambilin obat buat kamu" ucap Aira dengan tersenyum lembut.


Alex mengangguk.


"Atiya mas geletakkin diranjang aja ya?"


"Hu'um"


Aira memasukkan kembali kemeja dan celana kerja milik Alex yang ia pilihkan tadi ke dalam lemari.


Ia melihat kearah Alex sejenak, pria itu mulai berbaring di ranjang bersama Atiya.


"Indah banget pemandangannya" gumam Aira.


Alex menyadari sang istri yang berdiri didepan lemari sembari melihatnya.


"Tu-tunggu aku ambil obat" ucap Aira.


Cklek..


Sudut bibir Alex terangkat.


"Udah punya anak tetep gak berubah, salah tingkah terus kalo ditatap balik" kekehnya.


Kepala Alex sebenarnya tidak sakit, ia berbohong.


Ia hanya merasa tidak tega melihat betapa letihnya Aira. Alex heran dan tak habis pikir, kenapa wanita itu kekeh tidak membutuhkan baby sister ataupun pembantu agar pekerjaannya lebih ringan.


"Hiks..Hiks...Oekkkkk..Oeeekk"


Atiya tiba-tiba merengek.


"Sshh..Cup-cup"


Alex menepuk-nepuk pelan paha sang Anak.


"Kenapa anak papa? Gak suka tiduran hum?"


"Oeeekkk...Oekkkk"


"Cup-cup, ayo sayang papa, mau digendong ya"


Alex mengayun-ayunkan Atiya digendongannya, sambil menenangkannya.


Dan benar Atiya tenang kembali, hal itu membuat Alex tertawa geli.


"Haha Astaga..Digendong langsung diam kamu"


"Mirip mama" lanjutnya.


Wajah Atiya sangat menenangkannya, kulitnya bersinar dan lembut, buah hasil cintanya dengan Aira memang tidak gagal.


Alex tersenyum simpul.

__ADS_1


"Mama kamu cantik kan?"


"Nanti kalo Atiya sudah besar, papa ceritakan betapa sempurnanya mama kamu" ucapnya.


"Papa sayang sama mama, Atiya juga harus sayang sama mama"


Ia menyentuh hidung Atiya dengan jari telunjukkan.


"Janji" ucap Alex.


Cup...


Cup...


Cup...


Kecupan-kecupan diberikan ke dahi dan kedua pipi Atiya.


"Masyaallah gemasnya" puji Alex.


Cklek..


Aira masuk dengan membawa nampan ditangannya.


"Kamu bikin Teh juga?" tanya Alex.


Aira mengangguk.


Ia duduk ditepi ranjang dan meletakkan nampan didekatnya. Aira melihat Atiya yang tenang digendongan Alex.


"Tadi aku denger Atiya nangis, kenapa mas?" tanyanya.


"Gak mau digeletakin, maunya digendong" ucap Alex.


Aira mencebik.


"Dasar Atiya" ucapnya.


"Minum dulu teh nya mas, baru minum obatnya" ucap Aira.


"Teh aja, gak usah minum obat"


Aira mendelik.


"Heh, gak boleh, katanya pusing"


Alex menyengir.


"Itu..Sebenarnya enggak pusing" ucap Alex.


"..."


"Mas gak sakit, cuma-"


Alex mengangguk.


Aira menghela nafas.


"Huft..Kenapa bohong?"


"Emm.."


"Ayo sekarang bangun, berangkat kerja" perintahnya.


Alex mengigit bibir bawahnya.


Jangan sampai ia jadi berangkat kerja.


"Ra" panggilnya.


"Bangun mas"


"Sayang~"


"Kamu tuh-"


"Please, satu hari ini aja sayang, ya?"


Ia mengedip-ngedipkan matanya agar sang istri iba.


"Sayang..Boleh ya?"


Aira memutar bola matanya.


"Hem.."


Alex tersenyum lebar, ia menunduk lalu mencium pipi Atiya.


"Benarkan kata papa, mama baik" pujinya.


Aira menahan senyumnya.


"Minum ajalah teh nya"


"Makasih sayang" ucap Alex.


Waktu Mulai masuk tengah hari, Alex sudah mengabari salah satu mahasiswa dan memberikan tugas untuk mereka.


Mereka tengah bersantai diruang tamu sambil menonton kartun ditelevisi. Aira menyandarkan kepalanya dipundak Alex, Atiya pula berada ditangan Alex dengan tenang.

__ADS_1


"Aira"


"Hum?"


Pandangan Aira tertuju pada Alex sehingga mata mereka bertemu.


"Setelah wisuda, kamu ada rencana apa?"


"Sebenarnya pengen lanjut s2 mas, tapi sekarang udah punya Atiya, jadi aku tunda dulu sampai Atiya masuk sekolah dasar" ucapnya.


"Kamu nyesel punya Atiya?"


Aira mendelik lalu menggeleng cepat.


"Astagfirulloh enggak mas" kagetnya.


Alex tersenyum.


"Mas pikir kamu nyesel"


"Sama sekali enggak, malahan aku bersyukur banget dikaruniai anak secantik Atiya, aku gak keberatan buat menunda keinginan aku selama ini, karena yang terpenting bagi aku, Atiya gak kurang kasih sayang, dan aku tetap fokus ngurusin kalian berdua, kuliah lagi bisa kapan-kapan" ucapnya.


Senang mendengar tekad Aira, semakin kesini pola berpikir Aira lebih dewasa. Alex sangat menyayanginya.


Semua ucapannya sangat melegakan.


"Thank you sayang" ucap Alex merangkul pinggang Aira.


Aira tersenyum manis.


"Aku sekarang seorang ibu, aku juga bukan Aira yang dulu, Aira yang keras kepala, selaku nentang kamu, gak nurut sama kamu, sekarang aku bakal dengerin apapun yang kamu bilang, aku bakal lebih merhatiin ucapan aku, kamu kepala keluarga dirumah ini mas" ucap Aira.


"Yah..Kamu sekarang berubah, mas harap kita bisa rukun selalu, dan membesarkan Atiya bersama" balas Alex.


Aira mengangguk.


Mereka berdua melihat Atiya, Aira meraih tangan Alex yang ada dipinggangnya lalu menggenggamnya.


"Mas bakal percaya sama aku kan?"


"Mas percaya sama kamu, kita besarkan Atiya sama-sama ya" ucap Alex.


"Hum!"


Cup...


Aira mencium lama pipi Alex, menyalurkan semua rasa sayangnya.


"Love you"


"Love you so much" lanjut Aira.


Sekarang cinta dari Aira membuat Alex tetawa kecil.


"Jangan ketawa dong, bilang balik" ucapnya.


"Balik" godanya.


Aira menyipitkan matanya.


"Love you too" lanjut Alex.


"Uuuuhhh sayangggg" gemasnya.


"Oeekk...Oekkk"


"Eh sayang, ulululu mama juga sayang Atiya kok" ucap Aira.


"Hayoloh anaknya ngambek dikacangin" ledek Alex.


Aira menjulurkan lidahnya.


"Wlee, gara-gara papa kok, bukan mama" balasnya.


"Haha, kelakuan"


Alex mencubit pipi Aira.


"Aaak, sakit..Atiya papa cubit pipi mama, kita pukul papa ya nak" ucap Aira.


Ia langsung mencubit perut Alex beberapa kali.


"Akh, papa kalah" candanya.


Aira menggerakkan tangan Atiya seolah-olah bertepuk tangan karena berhasil mengalahkan Alex.


"Yeayy! Kita menang Atiyaa" ucap Aira.


Mereka tertawa bersama.


"Mas kita kayak orang bego, ngomong-ngomong terus padahal Atiya diem aja haha" kekeh.


"Nanti dia bisa ngomong kamu kaget"


"Gak gitu maksudnya"


"Karena dia masih kecil, baru juga dilahirkan, kita sebagai orang tua harus sering-sering berinteraksi sama bayi kita sayang" ucap Alex.


Aira mangut-mangut.

__ADS_1


"Ah iya-ya buk dokter juga jelasin ke aku waktu itu"


"Ngomong-ngomong, Mira udah kasih kabar soal pernikahannya?"


__ADS_2