
Gilan duduk diruangan miliknya, ingat jabatannya Presiden Mahasiswa, ia tidak sendirian ada teman-teman Mahasiswa yang satu organisasi dengannya.
"Gi, soal cewek kemarin itu gimana?" tanya Radit.
Radit salah satu teman dekat Gilan, dia Mahasiswa yang aktif disegala organisasi. Melihat Gilan tidak menjawab, Radit mengangguk paham.
Ia menepuk pundak Gilan.
"Sabar Gi, masih banyak cewek cantik" ucapnya.
"Gak bisa, gue cuma suka sama dia" jawab Gilan.
"Yaa..Gue maklumin karena lo masih belum move on, tapi lo liat diluar sana banyak cewek yang ngantri buat jadi pacar lo"
"Siapa sih yang gak mau sama Presiden Mahasiswa" ucap Radit.
Yang dikatakan Radir ada benarnya, tapi Gilan bukan pria yang mudah berganti-ganti pacar, ia tidak suka hal seperti itu.
Setelah putus dengan Nana, Gilan menutup hatinya dan tidak menjalin hubungan dengan siapapun, hanya satu wanita yang membuatnya membuka hati, yaitu Aira.
Sampai detik ini Gilan tidak bisa percaya kalau Aira langsung menolaknya begitu saja, ia tak menyangka.
"Udah..Masih ada Nana yang setia nunggu lo balik ke dia" ucap Radit.
'Nana?'
Gilan diam, mengingat bagaimana ia bisa putus dengan Nana. Nana memang baik dan perhatian padanya, namun karena satu kesalahan yang Nana perbuat membuat Gilan mengakhiri hubungan mereka.
"Come on Gi.."
Gilan bangkit, membuat semua orang yang ada diruang itu memperhatikannya.
"Kalian boleh keluar, nanti aja lanjutin tugasnya" ucap Gilan.
Mereka langsung berjalan keluar ruangan, kecuali Radit.
"Lo kenapa gak keluar?" tanya Gilan.
Radit justru tersenyum.
"Lo mau bikin Aira cemburu gak?"
ucapnya.
Gilan mengerutkan dahi, apa maksudnya.
"Ck...Lo balikan sama Nana, jangan perduli sama reaksi Nana tujuan lo cuma bikin Aira cemburu dan balik ke elo..Gimana"
"Gue yakin lo tau apa yang gue maksud"
Radit ingin menjadikan Nana umpan, agar Gilan bisa bersama Aira.
Gilan tampak berpikir.
"Coba aja dulu Gi"
"Ya...Siapa tau berhasil?" ucap Radit.
"Tapi, lo tau kan masalah gue sama Nana dulu? gue gak bisa balik lagi"
"Come on..Gara-gara kesalahan itu doang lo gini? ayolah ambil baiknya aja yang buruknya buang"
"Gue pergi dulu, kabarin kalau lo udah setuju" ujarnya lalu pergi.
Gilan menimang-nimang ide dari Radit, haruskah ia memakai cara ini.
Gedung Auditorium.
Gilan diberi tau oleh Ajeng, temannya Nana kalau gadis itu ada di Auditorium. Gilan melihat sekeliling gedung, mencari keberadaan Nana.
__ADS_1
"Gilan kamu ngapain?" tanya seorang Dosen yang kebetulan dosen pembimbingnya Nana, buk Marta namanya.
Gilan mengusap tengkuk.
"Saya cari Nana buk"
"Oh Nana, saya ada perlu tadi sama dia, kalau sekarang lagi ketoilet tunggu aja" ucapnya.
Gilan mengangguk, Marta pun pamit. Ia bersandar dipintu auditorium menunggu Nana.
Tak lama gadis itu muncul, betapa senangnya Nana melihat tambatan hatinya ada dihadapannya sekarang, dengan tersenyum lebar Nana melangkah cepat.
"Gilan" sapanya.
"...."
Nana menyelipkan rambut dibelakang telinga.
"Lo nyari gue atau..."
"Iya gue nyari lo"
Nana semakin senang.
"Oh nyari gue? ada apa? tumben banget" ucapnya dengan suara dibuat-buat.
Ayolah, dirimu hanya akan menjadi umpan dan sesegera mungkin dicampakkan.
"Gue setuju" ucap Gilan.
Nana menatap Gilan.
"Gue setuju balikkan sama lo" lanjutnya.
Nana tersenyum sumringah, ia memeluk Gilan sambil melompat-lompat kegirangan, akhirnya Gilan menjadi miliknya.
Gilan sebenarnya muak, tapi Radit mengatakan harus tetap ikuti cara yang dibuatnya, demi Aira.
"Iya, gue sadar selama ini gue sayang sama lo..Maafin gue" ucap Gilan pura-pura bersedih.
Nana yang sedang dibodohi pun luluh.
"No baby, jangan ngomong gitu..Yang penting lo sadar aja udah cukup buat gue" ucap Nana.
"Jadi kita balikan?"
Nana mengangguk antusias
"Yap!"
Mereka berpelukan mesra, kasihan Nana, ia merasa bangga karena mengira Aira hanya dipermainkan oleh Gilan, justru dialah yang dipermainkan Gilan.
'Rasain lo Aira...'
Seperti biasa Aira dan Mira pergi kekantin fakultas untuk makan siang, mereka duduk meja paling sudut, itu tempat favoritnya . Mira sudah pernah bilang, Aira seperti hantu suka sekali tempat disudut-sudut.
"Materinya udah siap kan?" tanya Mira dibalas anggukan.
"Gue males Pak Ucup suka ngulah kalau Mahasiswinya lagi presentasi..Yang makalah dirobeklah, dicoretlah..Untung Dosen" curah Mira.
"Hadeuh..Ucup-ucup"
"Kita cuma Mahasiswi bisa apa Mir, Dosen yang punya kuasa" ucap Aira.
Tiba-tiba kantin menjadi lebih berisik, orang-orang saling berbicara dan berbisik, Aira tidak tau kenapa. Yang pasti beberapa dari mereka menunjuk-nunduk dirinya dan menyebut namanya.
'Serius mereka balikan? Jadi cewek yang kemarin ditembak diapaain?'
'Kasian jadi pelampiasan'
__ADS_1
'Enggak dipacarin malah dipermaluin hahaha'
'Eh dia yang duduk di sudut itukan? Miris banget sih'
Bukan Aira yang panas mendengar ucapan-ucapan julid itu, melainkan Mira lah yang panas.
"Ra lo denger kan? mereka ngerendahin lo" ucap Mira.
"Yaudahlah biarin aja"
"Tapi Raㅡ"
"Udah makan!" perintah Aira.
Aira tidak ambil pusing, ia berpikir positif dan tetap tenang, jika orang-orang menceritakannya atau mengejeknya maka pahala Aira bertambah dan dosanya berkurang. Mengingat Aira banyak dosa pada Alex jadi anggap saja itu penembus dosanya. Begitulah pemikiran Aira.
Tak lama datang dua sejoli dengan bergandengan layaknya truk gandeng, yang satu tersenyum seperti iklan pepsodent yang satunya datar seperti aspal baru.
'Tuhhh kan mereka beneran baikkan'
'Gak nyangka banget..Best Couple!'
'Hati-hati ada yang panas'
'Gila! Berita wow banget..Kak gilan gak jomblo lagi huhu'
Mira menepuk pundak Aira agar segera melihat apa yang ia lihat.
"Aira.."
Aira menoleh, pemandangan yang membuatnya kaget dan tak percaya, Gilan bersama Nana dengan mesra.
"Ra lo-"
"Gue-gue gakpapa" ucap Aira.
Mira menatap nanar Aira.
"Bener? apa perlu gue labrak dia?"
Aira menunduk diam.
"Come on say something"
"Gak.."
Mira yang frustasi melihat sahabatnya seperti ini, mau bagaimana lagi, ia tetap menahan diri untuk harga diri Aira.
'Brengsek, apa maksud kak Gilan cuma bikin malu gue?'
Lain halnya Gilan, meskipun ia duduk bersama sang kekasih, matanya tetap tertuju pada Aira. Gilan penasaran, cemburukah Aira padanya.
"Sayang~ mau makan apa?" tanya Nana manja.
Karena resmi berpacaran, kembali seperti dulu mereka berbicara aku dan kamu.
"Aduh Na lo bikin kita baper tau gak?" ucap Citra, ia dan Ajeng sudah seperti babu Nana yang mengikuti Nana kemanapun gadis itu pergi.
"Maaf ya" ucap Nana.
Citra dan Ajeng memutuskan pindah tempat, membiarkan sahabatnya bermesraan.
"Sayang liat apa?"
Melihat Gilan yang tak menjawab, Nana mengikuti kemana arah mata pria itu, ternyata Airalah yang menjadi pusat perhatian Gilan.
Nana mengepal tanggannya.
"Sialan" umpatnya pelan.
__ADS_1