
"Yeaaaah sampai dirumah mama mertuaa" ucap Mira riang.
Ia sangat tidak sabar untuk turun dari mobil begitu mereka sampai di area rumah Raka. Mira sudah sangat dekat dengan calon mama mertuanya, mama Raka wanita karir yang hebat, cantik dan anggun.
Niatnya nanti sore baru datang, tapi dikarenakan hujan turun, mereka datang kerumah lebih awal.
Raka tersenyum melihat Mira tersenyum.
"Udah kangen sama mama ya?" tanya Raka.
Mira mengangguk cepat.
"Hum, kangen banget"
"Oke sebentar ya, aku parkirin mobilnya, baru kamu bisa turun" ucap Raka.
Mira mengidolakannya dan amat menganggumi wanita itu, Mama Raka juga demikian terhadapnya, sering mengajaknya jalan-jalan dan menghabiskan waktu berdua.
Di awal pertemuan mereka dulu, Mama Raka saja sudah menyambut dengan baik kehadiran Mira.
"Udah, turun gih" ucap Raka.
Mira melepas sabuk pengamannya, jari-jari tangannya yang lentik, bergerak membuka pintu mobil tersebut.
"Ini keik nya aku atau kamu yang bawa?" tanya Raka.
"Aku, aku" ucap Mira mengambil alih keik yang baru saja diambik raja dari tempat duduk belakang.
"Cepetan dong kamu keluarnya" pinta Mira.
"Iya - iya, ini turun.." ucap Raka.
Tin..
Raka turun dari mobilnya, Mira menghampirinya lalu menggandeng tangan kekasihnya itu.
"Ini beneran Mama yang minta aku dateng kan?" tanya Mira.
"Iya sayang, lagipula gak perlu nunggu mama suruh, kamu bisa dateng kapan aja" ucap Raka.
Mira tersenyum.
Raka membuka pintu rumahnya.
"Assalamuallaikum.."
"Assalamuallaikum.."
Ucap keduanya begitu melangkah masuk.
Mama Raka ternyata tengah berbincang dengan seseorang, entahlah siapa itu Mira tidak mengenalnya.
"Waalaikumsalam"
Mama Raka menoleh.
"Eh..Miraa" ucapnya dengan tatapan hangat.
"Hai mama"
Wanita itu berbicara sebentar dengan orang yang disebelahnya lalu orang tersebut melangkah pergi.
"Pegang dulu, aku mau meluk mama" pinta Mira, menyerahkan keik ditangannya pada Raka.
Mira berjalan memeluk ibu mertuanya, wanita itu mengecup kedua pipi Mira lalu tersenyum lembut.
"Uh mama kangen banget sama kamu loh" ucapnya.
Mira menatap dengan tatapan sayu.
"Sama ma, mira juga kangen banget banget!" ucapnya.
Mama Raka tertawa, ia mengusap punggung Mira.
"Memang Raka nih bandel, udah mama minta bawa kamu kesini, mama kangen, dia selalu nolak, katanya kan setelah nikah bisa sering ketemu kamu"
"Padahal mama kangennya sekarang, iya kan?" adunya pada Mira.
Mira mengangguk setuju.
"Ish ish, memang kebangetan sayang, kamu kok gitu sih" ucap Mira.
Raka berdiri terbodoh sambil memegang keik.
"Iya maaf aku salah" ucap Raka.
"Eh iya ma, tadi aku sama Raka mampir beli keik buat mama loh" ucap Mira bersemangat.
Mama Raka tertawa kecil.
__ADS_1
"Haha aduh repot-repotnya menantuku ini" ucapnya.
Mira mengambil keik ditangan Raka lalu memberikannya pada mertuanya.
"Uhm, enggak, gak ngerepotin sama sekali, buat mama apa aja bisa aku lakuin hehe" candanya.
Mira mendapat usapan dikepalanya dari sang mertua.
"Menantu berbakti nih, gak kayak yang itu" sindir Mama Raka, sambil melirik Raka yang berdiri disebelah Mira.
'Aku lagi?'
Mira tertawa.
Ia memukul lengan Raka.
"Kalo ini memang rada durhaka sih ma, dikampus dia durhaka banget sama mahasiswanya" ceplos Mira.
"Hajar aja Mir, mama dukung kamu, papa juga dukung kamu"
Mira tersenyum iblis mendengar dirinya mendapat dukungan dari mertuanya, ia melirik Raka dengan tatapan puas.
'Merinding..' ucap Raka dalam hati.
"Yuk Mira duduk, kamu capek pasti"
"Enggak kok Ma, cuma bentar jalan-jalannya, karena hujan" ucap Mira.
Mereka duduk disofa rumah.
Raka duduk disofa panjang sendirian, sedangkan Mira duduk disebelah mama Raka.
"Oiya ma, Mira juga kangen sama papa" ucap Mira.
"Papa baru aja berangkat lagi kekantornya, tadi pulang sebentar, nanti mama sampaikan kalo menantunya ini kangen" ucapnya sembari menyentuh dagu Mira.
Mira mengangguk sembari tersenyum.
"Raka panggil bibi dulu ya, sekalian ini keiknya Raka minta bibi siapin" ucap Raka.
"Iya sana"
Raka pun pergi.
"Mama syifaa, Mira mau tanya sesuatu boleh?" ucap Mira.
Yap! Nama mama Raka adalah Arsyifa, biasa dipanggil Shifa oleh orang-orang terdekatnya.
"Apa sayang? Mira mau tanya apa?"
Mira menunduk, ia sedikit ragu untuk menanyakan hal ini pada mertuanya.
"Emm..."
"Soal apa? Tanyakan aja nak"
Mira menghela nafasnya.
"Raka gak punya wanita lain kan ma?" tanyanya.
Syifa mengedipkan matanya, lalu tertawa.
"Hahaha..Astaga, ini yang mau Mira tanya ke mama?"
Mira menggangguk.
"Coba mama tanya dulu, apa alasan Mira tiba-tiba kepikiran soal perempuan lain?"
Mira memainkan jarinya.
"Ini bukan tiba-tiba aja muncul dipikiran Mira ma, tadi pagi Raka datangnya terlambat, gak sesuai janji, aku tanyain dia dari mana, katanya dari kampus, tapiii aku yakin dari tatapan matanya, Raka bohong..Gak cuma itu Ma, dia juga main handphone terus pas makan sama aku" ucap Mira.
Syifa mengangguk paham.
Ia mengusap rambut Mira dengan lembut.
"Mira dengar ya..Raka gak ada perempuan lain, dia sayang sana kamu, cinta sama kamu ,dan cuma kamu yang ada dipikirannya..Itu semua cuma pikiran kamu nak, gak ada selingkuh-selingkuh insyallah semua lancar" ucap Syifa.
"Mama gak bermaksud membela Raka karena dia anak mama, kamu juga anak mama, kalo Raka salah akan mama salahkan, tapi soal selingkuh..Noo itu gak mungkin banget nak"
"Oke ya? Jangan mikir yang enggak-enggak, pikirkan saja hari bahagia kalian yang akan hadir sebentar lagii" ucap Syifa.
Mira mengangguk, benar yang dikatakan mama mertuanya, tapi tetap saja, rasanya masih ada yang mengganjal dihati Mira.
"Maaf ya ma" ucap Mira.
"Eh apasih kamu, kok minta maaf, gak mau ah mama begituu, kamu gak salah..Itu namanya feeling kamu sebagai wanita nak, gapapa kok gapapa" ucap Syifa.
Ah, sungguh beruntung Mira maupun Aira mendapatkan mertua yang begitu baik, layaknya ibu kandung.
__ADS_1
Disisi lain, Raka sudah meminta pada pembantunya untuk menyiapkan minum dan keik, ia segera pergi keruangannya.
Raka memastikan bahwa ia sudah mengunci pintu dengan baik, ia juga sudah minta tolong agar menyampaikan bahwa dirinya sedang ke kamar mandi.
Ia membuka handphonenya, ia menarik nafas dalam-dalam sebelum menghubungi nomor ayah Mira.
"Huft..Bismillah" ucapnya dengan yakin.
Setelahnya ia menempelkan handphonenya ketelinga.
"Assalamuallaikum pa, maaf Raka hubungi ayah lagi"
"Waalaikumsalam nak.."
Suaranya terdengar lebih lemah dari pada tadi, pria itu pasti sudah dititik yang sangat lelah.
"Yah, Raka siap membantu perusahaan Ayah, seratus persen siap yah, Raka sudah dengar ini dari bunda" ucapnya dengan tegas.
"Raka terimakasih ,tapi ayah bisa menyelesaikan sendiri"
Sudah Raka duga, jawaban sama akan diberikan ayah Mira.
"Ayah jangan merasa gak enak, Raka ini anak ayah juga, menantu ayah, anggap ini bantuan dari seorang anak untuk orangtuanya..Ayah tolong..Mira butuh ayahnya dihari pernikahan nanti" Nada bicara Raka memelan, ia memohon.
"Ayah tau, kamu anak yang baik dan tulus Raka, Ayah janji ayah bakal pulang secepatnya supaya bisa menemui kalian..Ayah menyetujui pernikahan kalian karena ayah percaya kamu, bukan untuk memanfaatkan bisnis perusahaan nak"
Tetap penolakan yang dilontarkan.
"Bukan yah, ini sama sekali bukan seperti, gak ada sangkut pautnya sama bisnis antar perusahaan, ini demi Mira yah"
"Demi Mira bahagia, uang ini gak ada artinya bagi Raka kalau gak bisa membahagiakan Mira, tolong ya yah..Raka mohon" pinta Raka.
Terdengar helaan nafas berat, dan suara sengau dari telpon. Setelah hening beberapa saat, Raka ingin bertanya lagi.
"Ayah?"
"Raka, ayah beruntung memilih kamu sebagai menantu, semoga Mira bahagia sama kami"
"Ayah se-setuju kan?" tanya Raka.
"Iyaa, tapi ayah janji secepatnya pula mengganti uang kamu"
Raka tidak bisa menyembunyikan kesenangan dan harunya. Air matanya menetes.
"Gak yah, jangan diganti Raka gak mau uang itu diganti..Yang penting perusahaan ayah aman dan bisa kembali kesini dengan selamat" ucap Raka senang.
"Terimakasih banyak nak"
"Sama-sama yah, Raka hubungi papa supaya ayah bisa kirimkan nomor rekening perusahaan ya yah"
"Iya nak, sekali lagi terima kasih banyak, ayah sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi"
"Yang penting ayah tetap sehat-sehat sudah cukup buat membalas ini yah"
"Iya nak pasti, ayah akan sehat selalu"
"Amiin, sudah ya yah, Raka lega dengarnya, Raka hubungi papa dulu ya..Assalamuallaikum"
"Waalaikumsalam nak"
Panggilan diakhiri.
"YEESS!" soraknya sembari melompat-lompat.
"Terimakasih ya Allah, terimakasih banyak"
Raka segera menghubungi orangtuanya.
Ia tidak sabar keluar dari ruangan dan memeluk erat kekasihnya.
"Papa berhasil pa" ucapnya.
"Astagfirulloh, ngucap salam nak"
"Assalamuallaikum pa, udah berhasil pa! Ayah Mira setuju, papa harus secepatnya urus ini pa"
"IYA? AYAHNYA SETUJU? Alhamdulilah, papa ikut senang"
Papa Raka memanggil asistennya agar menghubungi pihak sana.
"Sudah papa urus, kamu bisa tenang sekarang"
"Terimakasih pa"
"Iya, kamu bahagia banget ya Raka, semoga sukses, sampai hari H tidak ada masalah"
"Amin pa, Raka mau ketemu Mira dulu pa, dah"
Raka mematikan panggilannya, ia membuka knop pintu, wajahnya berseri-seri.
__ADS_1
ADA YANG KANGEN GAK? MAAFIN YAA, INI FOKUS BELAJAR BGT AUTHORNYA, MAU MASUK PERGURUAN TINGGI, DOAIN LULUS DI PTN TERBAIK YA GAYS! STAY SAFE TERUS KALIAN, SEKARANG COVID MAKIN MELUNJAK🤧 SEBEL BGT PADAHAL MAU BULAN PUASA YA ALLAH..
INI PARTNYA AKU PANJANGIN HEH**E💖**