Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-154


__ADS_3

Aira sudah boleh pulang beberapa waktu yang lalu, dan sekarang ia tengah berada dikamar untuk menyusun pakaian-pakaian milik Atiya yang ia dapat dari kerabat.


Awalnya, begitu tiba dirumah, ia sedikit kaget, karena Alex mengubah kamar mereka jadi dilantai satu, dan kamar yang ada dilantai dua ia pakai untuk ruang kerja.


Aira heran kenapa bisa begitu cepat Alex memindahkan semua itu, tapi untungnya Alex menjelaskan itu meminta tukang agar memindahkan barang-barang.


Atiya sendiri sudah dibuatkan kamar, dengan tatanan yang rapi. Tapi Aira tidak membiarkan putri tidur sendiri dulu, jadi kamar itu bisa jadi tempat bermain dan bersantai.


"Mas ini banyak banget hadiahnya" ucap Aira.


"Atiya baru lahir tapi bajunya satu lemari penuh"


Alex tidak mendengarkannya, pria itu tengah asik dengan putrinya yang digeletakkan dipaha.



Aira menggeleng-gelengkan kepala, Alex benar-benar mengeluarkan seluruh perhatiannya untuk Atiya, saat pulang kerja ia segera mandi lalu menemui Atiya, ia banyak melupakan makanannya.


"Mas?"


"Hum?"


Alex berdehem tanpa mengalihkan pandangannya.


Aira berjalan kearah pria itu.


"Istirahat mas, biar Atiya sama aku dulu" ucap Aira.


Alex memberi tatapan sedih.


"Bentar lagi ya?" tawarnya.


"Gak ada nego-nego" ucap Aira.


Alex menekuk bibirnya.


'Astagfirulloh..gini nih kelakukannya'


Aira memegang tangan Alex sambil tersenyum manis.


"Ayo papa istirahat, nanti Atiya bobo disamping papa" ucap Aira.


"Ayo papaa" seru Aira.


Alex terkekeh, ia pun menurut. Atiya digendong Aira, pria itu pergi mengganti pakaiannya.


"Anak mama lucu banget kayak mama" ucap Aira sambil menoel-noel pipi Atiya.


Tiba-tiba Atiya menangis.


Aira menghela nafas, selalu begini, Atiya kalau diawal sudah digendong Alex, ia tidak mau lagi Aira yang menggendongnya.


"Sssh..cup..cup anak mama..Ini mama loh nak.."


"Masa sama mama nangis, giliran sama papa enggak huhu.." Aira memasang wajah pura-pura menangis.


Bukannya diam, Atiya malah menangis semakin kencang.


"Mas..Cepetan keluar, anakmu gak mau sama aku ini" ucapnya.


"Bentar-bentar"


Cklek..


Alex keluar dengan keadaan bertelanjang dada, ia berlari kecil menghampiri sang istri. Ia mengendong Atiya.


"Anak papa kenapa rewel hum?"


"Mama galak ya?"


Dan benar saja, bayi itu langsung diam.


Aira memasang wajah jutek.


Lihatlah Atiya bahkan belum berumur satu tahun, tapi sudah bisa merespon pria tampan seperti papa nya, bahkan menggeliat saat Alec mencium pipinya.


"Dih..Langsung diem" cibir Aira


'Prik banget punya anak'


"Sstt.."

__ADS_1


Alex memintanya diam.


"Ya Allah aku yang ngandung, aku juga ngelahirin, tapi malah nempel ke papanya.." eluh Aira.


"Kamu nyusu sama papa aja ya Atiya, awas nyariin mama"


Alex terkekeh mendengarnya.


"Tau ah kesel" ucapnya.


"Sabar sayang" ucap Alex.


Aira memutar bola matanya.


"Ini lagi, kenapa gak pakai baju? mau masuk Angin?"


"Ambilin Mama~" pinta Alex dengan suara dibuat-buat.


Aira sudah kebal dengan gaya imut Alex.


Salah..Maksudnya sedikit kebal!.


"Jangan kayak gitu, jelek pak" ledeknya.


"Tapi cinta kan?" tanya Alex balik.


Aira menahan senyumnya.


"Gak ya.."


"Atiya dengar? mama katanya gak cinta papa, giliran papa cium aja udah merah mukanya" ucap Alex.


Aira menutup telinganya.


"Sayang, ini geletakin Atiyanya" ucap Alex.


"Yaudah ini pakai dulu bajunya"


Aira memberi kaos oblong untuk suaminya.


"Taruh aja disitu, mas mau buka baju aja" ucap Alex.


"Yaudah sini"


"Bukan, Atiya sini biar aku geletakin" ucap Aira.


"Oh kirain kamu mau-"


"Ssshh diem" potong Aira.


Ia menggeletakkan Atiya dengan perlahan di atas ranjang, Alex menyusul, pria itu merebahkan tubuhnya disamping Atiya, kepalanya mengarah ke sang putri.



"Atiya, masyaallah cantiknya" ucap Alex kagum melihat wajah putri kecilnya.


Aira tersenyum.


Pemandangan yang menyejukkan hatinya, ia sangat-sangat bersyukur dan berterimakasih pada allah yang sudah memberikannya kesempatan untuk melahirkan Atiya dengan lancar dan ia masih diberi umur yang panjang.


Tapi semua sudah berlalu, Rasanya ingin menangis, Aira terbayang perasaannya saat proses bersalin. Ia takut akan meninggalkan suami dan anaknya.


Aira berjalan keluar kamar, ia menutup dengan perlahan pintu tersebut agar tidak mengganggu dua orang yang amat ia sayangi.


Aira menuju dapur untuk menyeduh segelas teh hangat.


Tubuhnya lelah, ia kurang istirahat beberapa hari ini karena Atiya.


"Tugas kuliah agak malem aja dikerjain.." gumamnya.


Aira duduk dikursi meja makan, memejamkan matanya untuk merilekskan tubuhnya.


"Sesulit ini jadi seorang mama, tiba-tiba gue ngerasa durhaka sering kesel ke mama.." gumam Aira.


Ia menarik sudut bibirnya.


"Kangen Mama papa.." lanjutnya.


Aira membuka matanya, kedua tangannya mengipas-ngipas didepan wajah.


'Please jangan nangis..'

__ADS_1


Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghela secara perlahan.


"Huft.....Aira you can do it!"


Ia berusaha memperkuat diri, disaat-saat ia ingin berisirahat, pasti orangtuanya muncul dibenaknya dan membuatnya rindu.


Orang tuanya dekat, tapi terasa jauh.


"Ck..Aira lo gak boleh kayak gini, lo udah punya anak" kesalnya pada diri sendiri.


Aira menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.


Tiba-tiba ia merasakan tangan seseorang tengah memijat pundaknya dengan lembut.


Aira mendongak lalu menoleh kebelakang.


"Capek ya sayang?"


Aira tersenyum sambil menahan air mata. Itu tangan Alex, pria itu tersenyum manis kearahnya.


Aira menyentuh tangan pria itu.


"Mas"


"Hum?"


"Udah gak usah dipijitin, mas lebih capek" ucap Aira.


"Mas cuma bangun tidur, kerja..kalau kamu bangun tidur, ngurusin Atiya, ngurusin mas, masak lagi.."


"Capeknya mas kerja gak sebanding sama ibu rumah tangga kayak kamu, ditambah kamu kuliah.." lanjutnya.


Aira tersentuh mendengarnya.


Dari siapa suaminya ini n


Alex menunduk lalu mengecup pipi Aira. Aira mendelik kaget.


"M-mas?!"


Alex cekikian.


"Udah mas duduk sini" ucap Aira.


Ia memegang tangan Alex, pria itu menurut dan duduk disebelah Aira, tak lupa ia menarik kursi agar lebih dekat dengan sang istri.


Mereka saling berhadap-hadapan, tangan Aira bergerak mengusap rambut Alex.


"Atiya udah mas kasih pembatas kiri-kanannya?" tanya Aira.


Alex mengangguk.


"Ternyata istri aku makin cantik ya" puji Alex.


Aira menahan senyumnya dan salah tingkah.


"Ma-mana mungkin..Orang kayak gembel gini" elaknya.


Alex memajukan wajahnya.


"Pipinya merah" ledek Alex.


Aira mendengus, ia menarik telinga Alex.


"Akh..Galaknya mama muda" eluh Alex sambil menyentuh telinganya.


Aira tertawa kecil melihat bibir Alex yang manyun kedepan.


"Mas tangan kamu masih sakit?" tanya Aira.


Alex menggeleng.


"Udah gak sakit, tinggal bekasnya"


luka tangan Alex yang dicakar Aira sudah mulai mengering.


"Ini dikampus mas gak gulung lengannya" adunya.


"Maaf ya..Parah banget itu lukanya" ucap Aira.


Alex tersenyum.

__ADS_1


"Gak kok..Ini dimanja sama kamu aja udah sembuh" celetuk Alex.


__ADS_2