
Usai mengantar Mira dan Raka sampai didepan pintu, pasangan itupun masuk kedalam rumah.
Alex merangkul Aira.
"Mas berat tau" protes Aira.
"Peluk"
Alex merentangkan tangannya, Aira tertawa geli.
"Gak mau ah" tolaknya.
Alex mencubit pipi Aira.
"Gembul, Aira Abasya gembul" gemasnya.
Aira pasrah wajahnya diuyel-uyel sang suami, wajar saja, wajahny searang lebih lebar karena berat badannya naik.
"Mas.."
"Hum?"
Aira menyentuh wajah Alex, matanya menatap lekat Alex.
"Mas"
"Dalem Aira.." ucap Aex dengan suara lembut.
Blasteran satu ini memang bersuku jawa.
Alex yakin Aira pasti ingin bermanja dengannya sekarang.
"Mas, beli bakso bakar lagi~" pintanya.
Alex terdiam, jauh dari ekspetasinya. Ternyata wanita ini tetap ingin bakso.
"Mas?"
"Tadi kenapa kamu kasih ke Rachel semua?" tanya Aira.
Aira menunduk memainkan jari jemari Alex.
"Tadi tuh kesenengan ketemu Mira jadi melupakan bakso bakar" gerutunya.
"Terus sekarang inget begitu?"
Aira mengangguk lemah.
"Ta-tapi.."
'Takut aku marah ya? lucunya istriku'
"Yaudah mas beliin" ucap Alex mengusap rambut Aira.
Wanita itu mendongak sambil tersenyum, tapi tiba-tiba senyumnya luntur.
"Kenapa hum?"
"Mas pasti capek.." ucap Aira khawatir.
"Hah.."
Alex menangkup wajah Aira.
"Udah mas kasih tau berkali-kali, mas bakal nurutin kemauan kamu" ucap Alex.
"Iya tau..Tapikan-"
"Mas mu ini disenyumin aja udah gak capek lagi.." potong Alex.
Aira menatapnya.
"Gak percaya sama mas?"
"Percaya!" seru Aira.
"Nah coba senyumnya mana?"
Aira tersenyum lebar, lalu mencium pipi Alex. Alex menyentuh pipinya yang dicium Aira dengan reaksi berlebihan.
"Ke-kenapa mas?" cemas Aira.
"Kalau gini mas Bisa overdosis, kamu manis banget Aira" ucap Alex.
phak!
Aira memukul lengan Alex.
__ADS_1
"Jangan gitu ah" ucap Aira.
"Utututu..malu ya?" ledek Alex.
"Gak, udah kebal"
'Kebal konon..'
Alex tersenyum mengejek.
"Iyaa aku udah kebal, hampir setiap hari mas godain aku" ucapnya meyakinkan Alex.
Alex cuma mangut-mangut, Aira tau Alex tidak akan percaya, tapi memang Alex benar, Aira tidak kebal, ia mudah tergoda dengan rayuan Alex.
'Meleyot mulu gue dibikin pak Alex'
"Gak jadi beli nih?" tanya Aira.
"Astagfirulloh lupa, mas beli dulu ya" ucap Alex bergegas.
"Hum!"
"Kamu mau nitip apa lagi?"
Aira berpikir sejenak.
"Eum...Mampir keapotek bisa gak?"
Alex mengangguk.
"Bisa, mau beli apa?"
Aira tersenyum.
"Coba tanya ada obat anti meleyot gak" ucap Aira.
"Buat apa itu?" Tanya Alex yang belum bisa mencerna titipan sang istri.
"Buat diminum, setiap hari hati aku meleyot gara-gara kegantengan mas dan senyum mas" ucap Aira
Alex tertawa.
"Astaga Aira.."
"Haha, udah sana belii" ucap Aira.
Alex melangkah kedepan pintu, ia menunda tangannya yang akan membuka pintu.
"Oh iya, mas juga butuh ke apotek" ucapnya.
'Mau ngelawak juga ini pasti'
"Mau beli apa tuh?" tanya Aira.
"Pengaman" celetuk Alex.
'What!'
Aira membulatkan matanya.
"Dadah sayang"
Cklek..
Alex langung keluar rumah menghindari amukan sang istri.
"AWAS KALAU DIBELI, AKU CINCANG!" Teriak Aira.
Cklek..
Kepala pria itu muncul lagi.
"Mau merek apa Aira?" godanya.
"MAS ALEXX!"
Blam!
Pintu tertutup kembali dan terdegar uar tawa Alex.
"Seneng banget godain istri"
"Awal nikah kayak robot, sekarang malah keliataan kayak anak autis..." gumam Aira.
Aira memegang pinggangny dan mengelus perutnya.
"Liat nak kelakuan papamu, kalau lahir nanti di pihak mama ya, kita serang papa" ucapnya.
__ADS_1
"Pasti mas Alex berulah" ucap Rachel menuruni anak tangga.
Aira menoleh kebelakang, Rachel menghampirinya lalu menggandeng kakak iparnya.
"Btw mbak bakso bakarnya enak..Beli dimana?" tanya Rachel.
"Didepan Chel, kamu mau lagi?"
Rachel mengangguk.
"Oke mas Alex lagi pergi beli"
Aira mengelus kepala Rachel.
'Senengnya punya adek perempuan'
Mereka duduk disofa, Rachel menyandarkan kepalanya di pundak Aira sambil mengelus perut Aira.
"Mbak..Mas Alex sayang banget ya sama mbak" ucap Rachel.
"Hum?"
"Mas Alex gak pernah marah, memang dari dulu begitu anaknya, tapi mas Alex memang berubah drastis sama mbak.."
"Bunda juga bilang Chel, mbak seneng dengernya"
"Hum..Mbak tau gak? si mas kan dingin terus cool gayanya, jadi dulu di aussie, ad perempuannya namanya heylin dia itu teman sma nya mas, dia nempel terus sama mas, bahkan sampai datang kerumah" ucap Rachel.
Apa ini? Alex tidak pernah menceritakan tentang ini padanya.
"Serius dek?"
"Uhm..Gatal banget anaknya" ucap Rachel.
Aira panas, ternyata ada yang berani menempel pada Alex yang tampan dan mempesona miliknya.
"Terus-terus gimana?"
Rachel semakin bersemangat.
"Dia ngajak mas buat belajar bareng, bahkan maksa si mas supaya mau kencan bareng dia, intinya didepan bunda Heylin berani peluk-peluk si mas"
"Mas Alex diem aja gitu?"
"Iya dia gak ada ekspresi, datr banget mbak, Heylin itu kayak gak terlihat" ucap Rachel.
"Kurang ajar ya, katanya naksir mbak dari dulu, tapi ditempelin perempuan lain mau aja!" kesal Aira.
Rachel melongo.
"Eh aduh..sabar mbak"
"Huh..Sabar aku tuh, untung ya dia gak menodai mas Alex"
"Iya untung mas Alex gak goyah dan tetap menjaga hati" ucap Rachel.
"Oh iya mbak, nanti malam Rachel ketempat bunda, Rachel mau nginep disana, kangen..Pengen jalan-jalan terus shopping" girangnya.
Aira tersenyum.
"Asiknya mau jalan-jalan" ucap Aira menyentuh pipi Rachel.
"Hehe iyadong, aku kan sekarang jadi anak tunggal bunda sama ayah, jadi paling dimanja"
Aira mencubiit gemas pipi Adik iparnya.
"Tapi..sepi dong rumbah mbak"
"Ah iya juga..."
"Aku batalin aja deh"
"Eh jangan, mbak bercanda kok..Mbak disini ada mas Alex yang heboh" ucap Aira.
"Aku bakal sering dateng dan merusuh disini, boleh kan?" tanya Rachel.
Aira tertawa.
"Iya boleh, nanti tinggal nyalahin mas kamu haha" kekeh Aira.
"Hahaha benar, kita ini PMAM ( persatuan membuat Alex menderita)"
"Oiya dong.."
"Mbak mau kebalkon gak? liat sunset" tawar Rachel.
Aira mengangguk setuju.
__ADS_1
"Leggo!"