
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, Alex memberikan perhatian penuh pada Aira. Ia dengan telaten membantu sang istri melakukan segala hal.
Alex mengambil cuti untuknya dan Aira.
Aira duduk di sofa kamar sembari menyemil cookies ibu hamil, ia dengan wajah polosnya memandangi sang suami yang mondar-mandir keluar masuk kamar.
Alex mulai sibuk mempersiapkan segala hal, untuk menyambut kelahiran anak pertama mereka. Ia memasukan peralatan yang dibutuhkan bayi kedalam tas.
Beberapa waktu lalu, Alex dan Aira pergi kerumah sakit untuk konsultasi perihal kandungan Aira, dokter bilang Aira akan melahirkan minggu depan.
Dan sekarang tinggal 5 hari lagi, Alex akan bertemu sang buah hati.
"Mas duduk dulu" ucap Aira.
"Nanti, mas masih sibuk" ucap Alex.
Aira tertawa kecil, dengan perlahan ia bangkit menghampiri Alex.
Ia menangkup wajah sang suami lalu menatap matanya.
"Makasih ya mas.." ucap Aira.
Cup..
Alex mengecup bibir Aira lalu tersenyum.
"Sama-sama sayang.."
"Mas udah kabarin kak hendra?" tanya Aira.
"Udah..Mereka besok balik ke indonesia"
Aira tersenyum senang, Akhirnya Kakak laki-lakinya akan datang.
"Aira, semalam Mama hubungi mas, Mama nyaranin kita buat tinggal disana, karena rumah mama dekat sama rumah sakit, kamu mau?" tanya Alex.
Iren memang menghubunginya, wanita itu khawatir dengan Aira, rumah mereka juga dekat rumah sakit, akan lebih mudah saat Aira kontraksi nanti.
Aira mengangguk.
"Tapi, Bunda gimana mas?"
"Bunda gak ada masalah kok"
'Syukurlah'
"Kamu duduk gih..Mas siapin baju kamu buat dibawa kerumah mama"
Aira terharu.
"Makin sayang sama papanya bayi" Aira mencubit pipi suaminya.
Alex membantu Aira duduk kembali.
"Gak makin cinta?" tanya Alex.
"Enggak, cintanya buat bayi, sayangnya buat papa.." jawab Aira.
"Kenapa gitu?
Alex mengusap kepala Aira.
"Berbagi itu indah" ucap Aira.
Alex tertawa.
"Ada-ada aja kamu"
"Gak percaya banget, tanya mama dedeh" ucap Aira.
Alex mengiyakan ucapannya, ia melanjutkan kesibukannnya.
Hari berganti malam, keduanya sekarang berada di keduaman orangtua Aira.
"Mama kangen banget sama kamuuu" ucap Iren memeluk sang putri.
"Aira juga kangen sama Mama"
"Bohong!" ucap Mama.
"Kalo kangen kenapa gak telfon mama? Cuma menantu mama yang telfon mama"
Aira melepas pelukannya sambil mencebik.
"Jadi mama sayang sama mas Alex?" ucapnya.
Wajah pura-pura kesal dari Iren memudar, mana tahan ia melihat anak bungsunya yang amat ia rindukan.
"Bercanda jelek" ucap Iren.
"Mama jelek" balas Aira.
Alex bersalaman dengan ayah mertuanya.
__ADS_1
"Sehat nak?" tanya Adrian.
"Alhamdulilah sehat pa.."
"Bunda kamu sudah dikabari kalo kalian nginep disini sampai persalinan Aira?"
Alex mengangguk.
"Sudah, bunda sama Ayah gak keberatan pa.."
Adrian tersenyum, ia menepuk pundak Alex.
"Alhamdulilah..Jadi gimana? Repot gak ngurusin bumil?" candanya.
"Gampang-gampang susah Pa"
"Haha, kamu juga bilang Aira ngidamnya tengah malam..pasti kurang tidur kamu" ucap Adrian.
Alex tersenyum.
"Iya pa, tapi Alex senang bisa menyanggupi semua keinginan Aira"
"Bagus..Papa bangga sama kamu, tetap jadi papa yang siap siaga ya sampai anak kamu lahir" ucap Adrian.
Alex mengangguk.
"Oh iya kita makan malam yuk, kalian belum makan kan?" tanya Iren.
"Ayo kita makan bersama" sambung Adrian.
Aira menggandeng tangan suaminya.
"Iyaa..Aira udah laper berat" ucap Aira dramatis sambil mengusap perutnya.
"Bumil setiap saat laper" ucap Iren.
Aira manyun, Alex tertawa melihatnya.
Mereka mendapat sambutan hangat dari mertua, Alex jauh lebih tenang sekarang. ada Iren dan Adrian yang bisa membantunya.
"Makan yang banyak Lex, kamu pasti tertekan sama bumil" canda Iren.
"Makasih Ma"
Alex tersenyum mendengar kejahilan mertuanya.
"Mana ada, Aira bisa merawat suami seperti malika"
"Malika?" tanya Adrian.
"Ck..Papa gak tau?"
Adrian menggeleng.
"Mas juga gak tau?"
Alex ikut menggeleng.
"Ituloh malika kedelai hitam,yang di iklan"
'Astaga Aira..'
"Oalah..Haha kamu ini Ra, papa pikir apa tadi" kekeh Adrian.
"Korban iklan dia pa" ucap Iren.
"Serius, Aira bisa kan mas?"
"Iyaa kamu yang terbaik" ucap Alex.
"Tuh dengerin orangnya langsung.."
Alex menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan sang istri. Wanita itu dengan bangga tersenyum lebar.
"Jadi..Kamu melahirkan secara normal Ra?" tanya Iren.
"Iya ma"
"Dokternya bilang apa?" Iren bertanya pada Alex.
"Ma aku juga bisa jawab pertanyaan mama loh" ucap Aira.
"Suami kamu lebih pinter dan bisa dimengerti ucapannya, jadi gimana lex?"
"Dokter bilang, kandungan Aira sehat, dan minta Aidamenahan diri agar tidak stress, banyak-banyak istirahat, insyaallah Aira bisa melahirkan secara normal" jelas Alex.
"Ooh alhamdulilah.." ucap Adrian dan Iren.
"Aira mama bakal bimbing kamu sampai hari H" ucap Iren.
Aira mengangguk.
"Oh iya ma, Kak Mawar mana?" tanya Aira.
__ADS_1
"Itu dia..Mawar pergi ke acara seminar sama orang kantor, jadi dia nginep, dua hari lagi pulang, sebenarnya udah Mama larang karena kamu bakal disini"
"Tapi dia ngeyel banget" ucap Iren.
"Sudahlah ma..Itukan keputusan kantor Mawar, mana bisa dia menentang" ucap Adrian.
"Papa mah dibelain terus anaknya"
"Apasih kok berantem?" tanya Aira.
"Gak berantem, cuma mam ngasih tau papa" ucap Iren.
Adrian itu pria yang sangat sabar, ia tidak pernah jengkel pada Iren, bahkan selama Aira tinggal bersama mereka, ia tidak pernah melihat Adrian marah dan berkata kasar.
"Gakpapa ma, Alex udah ambil cuti, Alex bisa jaga Aira, kak Mawar memang sibuk yasudah gakpapa, jangan dimarahi" ucap Alex.
"Bener tuh" ucap Aira.
Makan malam pun usai, Aira duduk diruang keluarga bersama Iren dan Adrian, sedangkan Alex pergi kekamar, ia merapikan barang bawaan dan ranjang tidur.
Meskipun sudah dibersihkan oleh pembantu, Alex tetap ingin mengecek kebersihannya.
"Papa tau gak?"
Aira bersandar pada Adrian.
"Apa nak?"
"Eh Aira belum ceritakan soal mas Alex?"
"Belum, memangnya ada apa?" tanya Adrian.
"Alex macem-macem?" saut Iren.
Aira menggeleng.
"Mas Alex setia kok ma"
"Ya terus apa dong?"
Aira berdehem, ia tersenyum sumringah.
"Waduh senyum-senyum, papa makin penasaran"
"Ternyata ya pa, ma..Mas Alex naksir sama aku dari dia masih sekolah!" ucapnya girang.
Iren dan Adrian saling lihat.
"O-oh iya?"
"Uhm!"
"Wah..seneng banget pasti ya, papa kaget dengarnya" ucap Adrian.
Iren cekikikan, jelas-jelas mereka tau lebih dulu. Alex sudah bercerita saat hendak meminta restu untuk meminang Aira.
Keduanya pura-pura kaget agar Aira senang.
"Terus?"
"Terus ya ma, kan terbukti pesona Aira dari dulu tuh udah kuat banget, no pelet-pelet..Sampai blasteran kepincut" ucapnya bangga.
"Haha iya dong, anak mama" saut Iren.
"Kamu senang?" tanya Adrian.
Aira mengangguk.
"Aira ledekin dia pa haha"
"Papa dan mama juga senang.. Alex sayang sama kamu, jadi kita gak perlu khawatir lagi.."
"Tapi pa..mas Alex itu dimanapun berada selalu dilirik orang" eluh nya.
"Wajar, suami kamu ganteng, kayak papa waktu masih muda" ucap Iren.
"Si mama, bisa aja.."
"Kamu tenang aja Ra, laki-laki mau dideketin seribu perempuan, kalo perempuannya modelan ngeyel begitu,gak akan mau" ucap Adrian.
"Bener tuh..Papa kamu pengalaman Ra" ucap Iren.
"Hum..Bener juga, mas Alex kalem, cocoknya memang sama aku doang sih..Aku pawangnya" percaya diri.
"Nah itu..Udah tenang aja"
"Kalo macam-macam papa iket dia dimonas"
Aira tertawa.
"Papa jahat banget"
"Kan biar kamu gak overthingking lagi"
__ADS_1