
"Ini kita pelukan mau sampai kapan?" tanya Maeza.
Mereka melepas pelukan sambil tertawa.
"Haha maaf ya nak, Ayah sangking senangnya" ucap Jaris, nama ayah Mira.
Maeza menepuk lengan suaminya.
"Untung gak kusut gaunnya Mira" ucapnya.
Mira tersenyum memandang kedua orang tuanya.
"Kalian harus terus senyum ya, ayah bunda" ucap Mira.
"Pasti nak" saut Jaris.
Terdengar suara ketukan pintu lagi dari luar kamar.
"Nyonya, tuan?" panggil mbak Lara.
"Masuk aja mbak" ucap Mira.
Mbak Lara membuka pintu dengan perlahan lalu memunculkan kepalanya, tangannya memegang knop pintu.
"Ada apa mbak? yang diruang tamu udah kamu bereskan semua?" tanya Maeza.
Mbak Lara mengangguk.
"Sudah Nyonya..Tadi pihak mempelai laki-laki telepon, mereka udah hampir sampai, bapak penghulu juga sudah datang" ucapnya.
Degh!
"Ooh iya iya mbak, kita kesana, makasih" ucap Maeza.
Jaris merapikan jasnya.
'Penghulunya udah dateng..Gue makin deg-degan..Ya Allah'
"Ayo Ayah, Mira bunda sama Ayah keluar dulu nak" ucap Maeza sembari menepuk pundak anaknya.
Mira mengangguk pelan.
Jaris tersenyum.
"Mira" panggilnya.
"Iya yah?"
"Senyum ya nak" pintanya.
Mira tersenyum lebar.
"Siap ayah! udah sanaa kasian penghulunya hehe" ucap Mira.
keduanya pun melangkah keluar kamar, begitu pintu itu tertutup, Mira menghela nafas.
"Huft..Tenang Mira, tenang" ucapnya menenangkan dirinya.
Paniknya muncul lagi karena penghulu telah tiba, jantungnya ingin meledak. Mira mengipas-ngipas tangannya sembari mondar-mandir didepan pintu.
"Huwaaa bentar lagii sah dong gue"
"Jantung tolong tenang, santai aja jangan bikin gua panik" gumamnya.
Cklek..
"Dor!"
Sebuah kepala menyembul saat pintu dibuka.
"AAa setan!" kaget Mira.
__ADS_1
Pelakunya menyengir.
"Astaga Aira..Lo bener-bener ya?!" omel Mira, ia mengelus-elus dadanya.
Aira masuk lalu menutup pintunya, matanya menatap kagum tubuh sahabatnya yang dibaluti gaun mewah, Mira terlihat sangat anggun dan mempesona!. bibirnya juga terbuka sangking kagumnya.
"Mira, lo-lo CANTIK BANGET GILA" pujinya.
Mira langsung memeluk Aira.
"Aaaa Aira Alkeynaaaa kenapa lo lama banget datengnya" ucap Mira.
"Maaf Mir, ngurus anak sama suami.."
"Sumpah Ra, gua deg-deg an banget loh, bentar lagi gua jadi istrinya Raka" hebohnya.
"Makanya gue samperin ke kamar lo, kata bunda, nanti gue yang anter lo keluar kok, tenang tangan gue siap menggandeng lo hehe" ucap Aira.
Syukurlah Aira datang tepat waktu.
"Aayo duduk, pegel berdiri lama-lama" ucap Mira.
Keduanya duduk ditepi ranjang, Aira tak henti memandangi wajah Mira.
"Mir MUA lo siapa yang nyariin?" tanya Aira.
"Bundalah, gimana? bagus kan? gue keliatan cantik?"
Aira mengangguk cepat.
"Bagus! cantik banget sampai gua pangling tadi" puji Aira.
"Tapi memang udah dasarnya gue cantik ya gak?"
"Iyain" singkatnya.
"Hahaha, parah lo Ra"
"Gak nyangka lo sebentar lagi nikah, dan kita sama-sama berstatus seorang istri dari Dosen, sekampus pula" kekeh Aira.
Mira menutup mulutnya.
"Eh bener ya?! kok bisa sama gini haha"
"Kita memang sahabat sejati" ucap Aira.
Mira tiba-tiba manyun.
"Gue sedih Ra, pisah dari ayah bunda.." ucapnya.
Aira menangkup pipi Mira, ia tersenyum simpul.
"Ini yang gua rasain dulu, beraaat banget, rasanya hati hancur, gak ada lagi yang ngomel-ngomel kalau bangun telat.."
"Huum.."
Mira menyenderkan kepala dipundak Aira.
"Ayah baru sampai dua hari yang lalu..Dan langsung pisah sama gue, Ayah pasti sedih..Gue masih pengen bareng mereka" ucap Mira.
"Hei Mira, jangan ngomong gitu, inget! pernikahan ini yang lu impi-impikan, gua paham kok rasanya..Tapi tenang ini hanya sementara, kedepannya setelah menikah, suami itu jadi tempat lu mengadu, berbagi suka duka, dia juga yang bakal selalu ada buat lo, masih panjang lagi masa depan kita.."
"Gua gak bisa kasih banyak contoh, karena pernikahan gua jugaa belum lama, masih banyak rintangan yang harus dilewati, intinya harus saling suport!" ucap Aira.
"Kita harus sering ketemu Ra" ucap Mira.
Aira mengangguk.
"Harus! semangat Mira, kebahagian sudah didepan mata! lo pasti bisa" ucap Aira.
Mira duduk tegak kembali, ia mengangguk yakin.
__ADS_1
"Semangat!" ucapnya lantang.
"Aaaa pengantin baruu" Aira memeluk Mira, matanya berkaca-kaca.
"Lo juga semangat ya mama muda"
"Heem"
Diluar ruangan, rombongan keluarga mempelai pria telah tiba. Raka dipersilahkan masuk agar akad nikah dapat dilangsungkan dengan segera.
Raka melihat sekeliling ruang tamu yang sudah dihias dengan indah. Ia juga melihat mertuanya tersenyum ramah kearahnya.
"Wah bagus (ganteng) sekali mempelai laki-lakinya" puji sang penghulu.
"Bismillah.." ucap Raka dalam hati, ia memejamkan matanya beberapa saat.
"Mempelai laki-laki disilahkan duduk dikursi yang sudah disediakan, duduknya berhadap-hadapan dengan ayah dari mempelai perempuan" ucap pak penghulu.
Raka mengangguk, ia menghela nafas gugup sampai telinganya memerah, jantungnya berdetak cepat dan panas dingin. Sebentar lagi ijab kabul, ia sudah latihan puluhan kali agar tidak membuat kesalahan yang memalukan, bahkan sempat minta Alex untuk membantu.
Akad nikah ini mengikat perjanjian antara mempelai laki-laki dengan wali dari mempelai perempuan dengan syarat disaksikan langsung oleh dua orang saksi dari kedua mempelai.
Alex duduk dibelakang memperhatikan teman satu kerjanya yang akan melangsungkan akad atau ijab kabul, ia tersenyum, salut.
Acara ini diawali pembacaan ayat suci al-Quran oleh Ustad yang telah diundang, serta beberapa tahap lain.
Dan tibalah saatnya ijab kabul, Raka melihat kearah orangtuanya, memberi isyarat agar didoakan semoga ia bisa mengucapkannya dengan lancar.
"Ayah dari mempelai perempuan silahkan berjabat tangan dengan mempelai laki-laki"
Jaris dan Raka saling berjabat tangan.
"Laki-lakinya mau latihan dulu supaya tidak salah-salah nantinya?" tawar pak penghulu.
Raka mengangguk.
"Monggo diikuti kata-kata saya ini, setelah ayah dari mempelai perempuan"
"Baik" jawab Raka.
Dibelakang Alex menahan tawanya, karena lucu melihat wajah pucat sekaligus tegang.
'Kalau dipikir-pikir aku juga sama ekspresinya dulu'
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Raka Alkemal bin Ahmad dengan anak saya yang bernama Mira putriani dengan mas kawin berupa emas seberat 50 gram dan seperangkat alat solat, dibayar tunai" ucap Jaris.
Raka menelan saliva.
Seketika semua yang sudah dihafalkan dan latihan puluhan kali buyar.
"Saya terima nikah dan kawinnya.." ucap penghulu memandu Raka.
"Sa-saya teri-ma nikah dan kawinnya" ucap Raka terbata-bata, penghulu tertawa kecil.
"Mira putriani binti jaris"
"Mira pit-pitriani bin-"
"Putriani.." potong pak penghulu, karena Raka salah menyebut mama calon istrinya.
Raka tertawa kaku.
"Mira putriani binti jaris" ucapnya.
"Dengan maskawin tersebut, tunai" lanjut pak penghulu.
'Kenapa jadi susah, tadi malam aku lantang bicaranya'
"Dengan maskawin tersebut, tunai" ucap Raka.
"Masyaallah, langsung dimulai apa mau latihan lagi? biar semakin lancar" tanya pak penghulu.
__ADS_1