
Reva masih berdiri sambil menyengir melihat kedua anaknya salah tingkah.
"Iya Nyonya ada apa?" tanya bibi yang tiba-tiba datang.
"Ehm itu bi..Ayo kita kebelakang aja" ucap Reva.
Bibi menatap majikannya bingung, namun Reva segera memberinya isyarat.
"O-oh iya Nyonya, ayo" ucap bibi.
"Alex Aira..Gih dilanjutin, area ini udah bunda sterilkan" ucap Reva jahil.
Dua wanita itu pun pergi.
Alex dan Aira saling tatap lalu membuang muka, Aira menutu wajahnya yang memerah.
"Gara-gara mas" protes Aira.
"Kamu" ucap Alex tak mau kalah.
"Kok saya? Mas yang nyosor"
"Kamu yang ngerayu" jawab Alex.
"Saya gak ngerayu, mas aja yang merasa" ucap Aira.
Alex malah tersenyum, boleh Aira pukul Alex dengan piring? Ah jangan nanti calon papa bisa luka.
Tangan pria itu melingkar dipinggang Aira.
"Kamu diam saya juga tergoda" ucap Alex genit.
Aira menyingkirkan tangan pria itu.
"Dosen mesum!"
"Kekamu gak ada masalah"
"Pinter banget ngejawab" kesal Aira.
"Jelas..Saya dulu menang debat jadi gak mau kalah debat sama istri" jawab Alex.
'Nahkan ngejawab mulu'
"Tau ah, saya mau balik kekamar, awas nyusul" ancam Aira.
"Yang tadi dilanjutkan atau gak?"
Aira mendelik.
"Tuh sama sendok aja" ucapnya.
"Terus saya kemana kalau gak boleh nyusul kamu?" tanya Alex.
"Diruang tamulah, kalau gak numpang dikamar bibi" ketus Aira.
Wanita itu mulai melangkah pergi.
"Kalau bibinya cantik, masih muda saya mau" celetuk Alex.
Aira segera berbalik, tatapannya seakan-akan siap mencincang Alex.
"Tapi gak mungkin, saya cintanya sama kamu" lanjut Alex sambil tersenyum lebar.
Bohong kalau Aira masih marah, malah dia langsung luluh.
"Gak lucu banget"
"Saya memang lucu" saut Alex.
"Pede"
"Masalah buat kamu?"
Aira mendengus.
"Baby, jauh-jauh dari papa ya, nanti kamu alay" ucap Aira.
Alex mengangkat sudut bibir.
"Babynya pasti bisa, tapi apa mamanya tahan gak dipeluk papa pas tidur?" goda Alex.
"Hoax banget" jawab Aira.
"Kita berbicara sesuai fakta Ra, kamu mungkin sekarang jual mahal, tapi gak tau nanti malam" ucap Alex santai.
"Gak akan"
Aira berbalik, wajahnya kesal kalah debat dengan Alex.
"Tunggu saya dikamar ya" ucap Alex.
"Gak"
__ADS_1
"Saya mau bicara sesuatu"
Aira hanya berdehem.
Kamar.
Aira berjalan kearah lemari, lalu membukanya.
"Ck...baju pak Alex semua..Baju gue cuma ada empat pasang, mana baju santai semua, masa iya pakai baju ini ketemu sama Sekar" omel Aira.
Aira duduk ditepi ranjang, berpikir sejenak, jauh kalau harus pulang kerumahnya untuk mengambil baju. Ia juga malas pergi membeli baju.
Ia kemudian tersenyum.
"Minta pak Alex beliin kan beres?" gumamnya.
Aira memutuskan menunggu pria itu datang kedalam kamar, cukup lama Aira menunggu tapi pintu kamar tak kunjung terbuka.
"Pak Alex beneran gak nyamperin gue?"
Aira mendengus.
"Kok sebel ya liatnya"
Ia pun bangkit, membuka pintu dan kembali keruang tamu. Rupanya Alex ini penurut, ia duduk diruang tamu, hanya duduk diam entah memikirkan apa Aira tidak tau.
Tapi yang jelas bukannya Alex bilang mau berbicara sesuatu?.
"Mas"
Alex menoleh, ia tersenyum.
"Sudah saya duga kamu pasti turun lagi" ucap Alex.
Aira memutar bola matanya malas.
"Kenapa gak naik?" tanyanya dengan judes.
"Katanya gak boleh" jawab Alex.
'Sok bener, biasanya main masuk aja'
"Yaudah kan gak beneran" ucap Aira tak mau disalahkan, tetap stay judes.
Bukannta menjawab Alex malah menghampiri Aira, meraih tangan wanita itu dan menuntunnya untuk duduk bersama disofa.
"Jam berapa kamu keluar?"
Aira mengerutkan dahi.
Tiba-tiba Alex menunduk, mendekatkan telinganya di perut Aira.
"Kata babynya kamu gak boleh pergi" ucap Alex.
Aira memukul lengan pria itu.
"Mana mungkin dia bisa ngomong gitu" ceplos Aira.
"Berarti selama ini kamu bohong?"
Aira terdiam, ia gelagapan.
"Se-sebagian emang ngidam k-kok" ucap Aira.
"Sebagian lagi?"
Aira menampakkan gigi-giginya.
"Sebagian akal-akalan saya" ucapnya.
Alex tertawa, sambil memeluk perut Aira.
"Hahaha, pasti kemauan kamu deket-deket saya" ucapnya percaya diri.
Aira berdehem.
"Minggir jangan peluk-peluk" ucap Aira risih.
"Enggak" ucap Alex, ia memejamkan mata,memeluk Aira dengan nyaman.
"Mas..."
"Enggak saya mau begini" ucap Alex.
Aira mendengus.
"Beliin baju"
Alex duduk tegak.
"Jangan protes, saya gak bawa baju, saya mau keluar masa pakai baju tidur" ucap Aira.
"Iya saya beli" ucap Alex.
__ADS_1
Aira tersenyum senang.
"Satu aja, iner drees span warna hitam sama jaket sally " ucap Aira.
Alex mengangguk.
"Sekarang?" tanya Alex.
"Enggak pas babynya lahir, ya sekaranglah!" kesal Aira.
"Iya-iya saya beli dulu, kamu tunggu"
Alex mengecup kening Aira.
"Mas, nanti saya pijitin deh, janji" ucap Aira.
Alex cekikikan.
"Hum, ditunggu ya sayang" ucap Alex bangkit dari sofa.
Aira ikut bangkit.
"Saya pergi dulu, kalau bunda tanya bilang keluar sebentar" ucap Alex.
"Oke" seru Aira.
Ia tersenyum sambil memandangi punggung Alex.
"Kapan lagi bisa nyuruh-nyuruh pak Alex" kekehnya.
...
Raka menyandarkan tubuhnya didinding, tangannya memutar-mutar kunci mobil. Ia sedang menunggu Mira disana.
Mereka janjian bertemu satu jam yang lalu, tapi Mira dengan kejamnya membuat Raka menunggu dikampus.
"Dia kemana sih?" gumam Raka, ia melirik jam tangannya.
"Pak"
Raka menoleh, Mira tengah berjalan kearahnya.
"Kamu sengajakan?" tanya Raka.
"Maaf saya sibuk tadi" ucap Mira.
"Sudah kamu pikirkan?" tanya Raka langsung keintinya.
Mira menunduk, menarik nafas dalam-dalam.
"Saya akui...Saya yang salah, saya tidak menghargai pertemanan saya" ucap Mira.
'Akhirnya...'
Raka lega mendengarnya, ia memegang kedua pundak Mira membuat gadis itu mendongak kaget.
"Bagus Mira, saya tidak benci kamu kalau kamu sudah mengakui" ucap Raka senang.
Mira tertegun melihat senyuman Raka. Ia tidak pernah melihat senyum Raka yang telihat tulus seperti sekarang.
Mira menundukkan kepala lagi.
"Y-ya..."
"Segera temui Aira dan minta maaf" ucap Raka.
"Ta-tapi..Saya gak tau caranya gimana..Saya malu..Bunda juga udah maafin saya"
Raka menyentuh dagu Mira, ia tersenyum manis.
"Jangan malu karena kamu yang menciptakan ini..Saya akan bantu kamu, saya dukung kamu" ucap Raka.
Ucapan Raka sukses membuat jantung Mira berdebar.
"Pak maaf" Mira menyingkirkan tangan raka dari dagunya.
"A-ah maaf saya terbawa suasana, kamu-kamu boleh pergi, nanti saya kabari lagi" ucap Raka salah tingkah.
"Saya permisi" ucap Mira buru-buru pergi.
Mira menyentuh dadanya, Raka membuatnya berdebar.
'Mira jangan tertarik sama dia lagi, dia gak akan mungkin bisa lo dapetin'
'Lo udah buruk dimata dia, lo gak pantes buat siapapun'
Raka mengusap wajahnya, ia merutuki dirinya yang entah kerasukan apa.
"Kenapa jadi begini" gumamnya.
Terbesit dipikiranya saat Mira mendongak dan wajah gadis itu memerah.
Raka menggelengkan kepalanya cepat.
__ADS_1
"Jangan dibayangkan Raka, jangan" gumamnya.