
SUDAH BISA BERINTERAKSI NIH
yuk join digrub chat!
Mira menompa dagunya dengan tangan kanan, ia menghadap kedepan, dimana Alex sedang memberikan materi kuliah.
Matanya memang fokus kedepan, tapi pikirannya melayang-layang.
Ia tengah menimang-nimang, haruskah mengikuti perkataan Raka dan menerima kesempatan itu agar aman?.
Sulit mempercayai Raka, pria itu tampan tapi ia telah mengubah pandangan Mira terhadapnya.
Semua jadi rumit karena Raka, coba saja pria itu tidak mencampuri urusannya. Pasti Mira bisa melakukannya sedikit lagi.
"Baik, kalian bisa bentuk kelompok sendiri, minggu depan dinata kuliah saya juga kalian harus mempresentasikannya" ucap Alex didepan.
"Baik pak" seru Para Mahasiswa.
Mira melirik wanita disebelahnya, yang senyumnya tidak luntur sejak kelas suaminya dimulai, yap! Itu Aira.
Merasa dilirik, Aira melihat Mira lalu tersenyum.
"Kita satu kelompok ya" ucap Aira.
Mira mengangguk.
Alex berbenah dan membawa laptopnya meninggalkan kelas, Aira bangkit menghampiri Mira tapi wanita itu lebih dulu bangkit membawa barang-barang miliknya mendahului Aira.
Aira menatap bingung Mira yang mulai berjalan keluar kelas. Ia mengambil tas lalu mengejar sahabatnya itu.
"Miraa" panggil Aira.
Mira tidak menoleh, padahal Aira yakin Mira mendengar suaranya karena jarak mereka berdua tidak jauh.
Aira tetap berpikir positif, ia mempercepat langkahnya.
"Mira lo gue panggilin dari tadi loh" protes Aira, ia menaikan tangannya dipundak Mira.
"Berat Ra"
Mira menepis tangan Aira, Aira semakin bingung dibuatnya.
"Lo kenapa Mir? Gue ada salah?" tanya Aira.
"Enggak tuh" balas Mira singkat.
"Kok jutek? Tadi pagi masih baik-baik aja" ucap Aira.
Mira tadi masih baik-baik saja, tapi kenapa jadi berubah.
"Gue salah ya Mir? Maafin dong"
Aira merasa dirinya membuat kesalahan setelah melihat sifat Mira.
"Maafin yaaa" ucap Aira sambil menggosok-gosok tangannya didepan Aira.
Wajah Mira tetap sama, tidak ada reaksi apapun.
Aira menghela nafas.
"Mir kenapa sihh!" Kesal Aira.
Mira mengangkat kedua bahunya.
"Jangan diem aj-"
"Balik gih, suami lo pasti nungguin tuh" potong Mira.
Aira tau Mira sengaja menghindarinya.
"Yaudah deh, lo hati-hati ya" ucap Aira.
"Iya"
Mira dan Aira berpisah, Aira pergi keruangan Alex. Ia menunduk sambil berpikir, kenapa Mira terlihat kesal padanya.
Baiklah! Mungkin Mira mau datang bulan jadi moodnya sedikit buruk, wanita itu sedang ingin sendiri.
Sampai didepan pintu ruangan Alex, pas sekali Alex tengah membuka pintu, Aira yang menunduk secara spontan menabrak Alex didepannya.
Bhuk!
Aira mendongak.
"Eh maaf pak, gak sengaja" ucap Aira.
"Jalan itu kepala lurus kedepan, bukan nunduk, untung saya yang kamu tabrak"
Alex menyentuh dagu Aira, senyuman terulas dipipi pria itu.
"H-hum"
Reaksi yang tidak seperti biasanya, apa yang dipikirkan wanitanya sampai termenung.
"Kamu kenapa?" tanya Alex pelan.
Aira menggeleng cepat.
"Gakpapa, pulang yuk laper banget, sekalian belanja buat isi kulkas" ucap Aira.
Alex mengangguk, jelas sekali Aira mengalihkan pertanyaannya. Alex tidak memaksa, mungkin ada hal yang tidak ingin Aira katakan sekarang.
"Diluar udah sepi?" tanya Alex.
Aira mengangkat alis.
__ADS_1
"Belum, masih ramai"
Alex merogoh sakunya lalu memberikan kunci mobil pada Aira.
"Kamu keparkiran dulu, saya nyusul"
Aira mengernyit, apa maksud Alex menyuruhnya lebih dulu keparkiran.
"Bukannya kamu bilang masih ramai?"
Aira baru paham, bisa-bisanya dia lupa situasi sekitar, padahal dia sendiri yang mengucapkannya pada Alex.
"Ah iya lupa"
"Saya pergi dulu" ucap Aira.
Aira memutar balik tubuhnya.
"Jangan kamu tinggal saya, awas kamu" ucap Alex.
"Iya ah bawel amat" ucap Aira.
"Takut banget ditinggal" lanjut Aira pelan.
"Bukan gitu, mobilnya mahal saya takut kamu larikan" celetuk Alex.
Aira mendelik.
Apa ini? Alex suudzon padanya? Menuduh Aira akan melarikan mobilnya?.
Aira menghadap Alex lagi, matanya menyipit.
"Bapak kok suudzon gitu sama saya?"
"Saya gak suudzon, cuma khawatir"
Aira mencubit lengan pria itu, sampai sang empu kesakitan, ringan sekali mulut mengatakan khawatir pada Mobil, tapi tidak dengan istri sendiri.
"Akh"
"Aira, kamu..." Alex menatapnya tajam.
Aira malah menjulurkan lidah.
"Rasain, itu akibatnya suudzon sama istri"
Aira melangkah pergi dengan kesal, Kurang ajar, Alex lebih menyayangi mobil yang tidak seberapa itu daripada dirinya. Baru semalam pria itu bilang sayang padanya, tapi hari ini hatinya cepat sekali mendua.
Kembali pada Mira, gadis itu berdiri dipintu masuk universitas, menengok ke kanan dan kiri seperti memantau keadaan sekitar.
Ddreett!
Handphonenya berdering.
'Pak Raka?'
Dengan Ragu Mira mengangkat panggilannya.
"Kamu setuju? saya masih baikloh kasih kamu kesempatan"
Mira menggigit bibir bawahnya, apa yang harus dilakukannya.
"Saya gak butuh"
"Kamu yakin?"
Mira memijat pelipisnya.
"denger ya pak..Urusannya sama bapak apa ya? Bapak ada hubungan apa sama Aira? Kenapa repot-repot buat bikin saya tersudut?" ucap Mira.
"Yang punya masalah saya sama Aira, anda bukan siapa-siapa"
Tutt tutt..
Bukannya menjawab Raka malah mengakhiri panggilannya.
"Cih..Gak berani jawab" cibir Mira.
"Lagi dan lagi, Aira dipandang semua cowok..Sialan" umpatnya.
"Cewek gak pernah bersyukur gitu banyak juga yang mau" sindir Aira.
"Loh belum balik Mir?"
Mira menengok kebelakang, matanya membulat kaget.
"Be-belum"
Tubuhnya keringat dingin. sejak kapan Aira disana? apa Aira mendengar ucapannya barusan?dan percakapannya dengan raka ditelfon tadi?. Kalau iya bisa gawat.
"Mau bareng aja gak?" ajak Aira.
"Enggak usah, bisa sendiri gue" jawab Mira.
Aira mencebik, Mira masih ketus.
"Serius Mir gakpapa, bareng gue aja"
"Udah pesen Driver online"
Aira diam.
"Gue gak tau kesalahan gue apa Mir, jangan jutek gini dong, paling gak bisa gue diginiin sama lo" ujar Aira.
"Apasih Ra? Gue gak kenapa-napa, harus banget gue happy setiap hari?"
Balas Mira.
__ADS_1
"Bukan gitu Mira, gue ngerasa aja lo jauhin gue..Gue takut lo beneran gitu" suaranya merendah.
Mira menghela nafas, lalu tersenyum, senyum palsunya untuk Aira.
"Liat? Gue gak marah kan? santai aja Aira, sana gih balik"
Aira tampak Ragu.
"Bandel ya kalau dibilangin"
"Iya tapi-"
"Gue lagi unmood gegara urusan pribadi, oke?"
Aira ber-oh ria, ia berpamitan pada Mira, Aira tau Mira tidak terlalu suka membicarakan masalah keluarhanya pada orang lain.
Mira menatap punggung Aira yang mulai menjauh dengan sinis.
'Gue gak salah, gue cuma ngelakuin apa yang menurut gue benar'
Mira bisa bernafas lega, Aira kelihatannya tidak mendengar percakapannya, wanita itu benar-benar terlalu mempercayai Mira.
Wajah polos Aira, wajah polosnya seolah-olah tidak memiliki dosa apapun membuat Mira merasa dirinyalah yang salah.
Mira benci itu.
'Inget Mir, dia yang jahat, dia yang gak tau diri, lo gak bersalah!' ucap Mira dalam hati.
Mira melangkahkan kaki keluar dari Area kampus, sekarang bukan saatnya santai, ia harus punya cara agar menyingkirkan poto dan video dari Raka.
Pukul 14:00 Wib.
Karena suasana sudah mulai sepi Alex mendekati mobil miliknya, sebelumnya ia pergi kekamar mandi lebih dulu. Kasihan sekali Aira menunggu lama sendirian didalam.
Alex membuka pintu mobil, bukan ocehan yang biasa Alex dapati tapi wanita itu hanya diam, diam dan duduk tenang ditempatnya.
Syukurlah, Alex bisa mengeluarkan mobil dengan tenang.
"Pak" panggil Aira.
Alex menghela nafas, sepertinya dugaanya salah, sebentar lagi Aira pasti mulai mengoceh.
"Saya tadi kekamar mandi dulu makanya telat" lebih baik langsung menjelaskan dari pada mendengar omelan Aira.
Hening...
Alex melirik Aira, wanita itu menatap lurus kedepan.
"Kamu kenapa?"
"Gakpapa"
"Yasudah mau makan siang diluar aja?" tawar Alex.
Aira menggeleng.
"Gak nafsu"
Bukannya tadi Aira bilang lapar? Kenapa tiba-tiba jadi tidak nafsu.
Alex menyalakan mobil keluar dari area parkir.
Ditengah perjalanan, ia meminggirkan mobilnya ditepi jalan, lalu beralih pada Aira.
"Kamu diapain Raka?" tanya Alex dingin.
"Gak ada"
Jika bukan Raka lalu siapa yang membuatnya jadi murung lagi. Wanita memang sulit dimengerti, tapi selalu ingin dimengerti.
"Dari tadi kamu diam..Ada masalah?"
"Kamu gak mau cerita kesaya?"
Aira menarik nafas lalu menghembuskannya pelan.
"Sebenernya saya sendiri juga bingung" ucapnya.
"Bingung?"
Aira mengangguk.
"Dari tadi kepikiran Mira, gak biasanya dia gitu kesaya"
"Mira jadi jutek, terus sinis, saya gak tau salah apa, dia main ngejauh" lanjutnya.
"Kamu tanyain gak dia kenapa?"
Mata Aira berkaca-kaca, secemas itu ia kalau Mira menjauh
"Udah, Setiap ditanya pasti bilangnya gakpapa, saya kan makin gak tenang"
Alex ikut berpikir, biasanya mereka selalu berdua saat pergi kemanapun Seperti anak kembar.
"Menurut saya, hal seperti ini biasa terjadi dalam pertemanan, teman kamu tiba-tiba ngejauh berarti dia lagi pengen sendiri, jangan overthingking dulu..Nanti balik sendiri" ucap Alex.
"Tapi saya jadi gak tenang pak, dia teman saya satu-satunya"
"Mungkin Mira lagi ada tamu bulanan?" tebak Alex.
Alex hanya membantu istrinya agar tidak berpikir buruk. Aira menatap Alex, ia juga berpikir begitu, tapi Rasanya tidak mungkin.
Sudah beberapa tahun Aira berteman dengannya, seingat Aira, Mira tidak pernah bersikap buruk saat datang bulan.
"Sudah jangan berpikir yang tidak-tidak"
"Hum" gumam Aira.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang?"
"Iya" ucap Aira.