
Satu jam berlalu...
Aira terus menatap handphone ditangannya. Ia menunggu Mira yang tak kunjung datang.
Mira juga tidak membalas pesannya. Ada masalah apa gadis itu, biasanya Mira selalu menepati janji dan tepat waktu.
"Ck..Mira kenapa ya?" Gumam Aira.
"Kamu ngapain?"
Aira mendongak.
"Nunggu Alex eh Mira maksudnya"
Alex duduk disebelah Aira.
"Sudah kamu hubungi?"
"Udah tapi gak dibales, ilang kemana tuh anak" ucap Aira.
"Mungkin dia ada urusan, jangan dipaksa"
Masuk akal, tapi kenapa Mira tidak membalas chatnya. Aira sudah suntuk memikirkan sahabatnya, takut terjadi apa-apa pada gadis itu.
"Pak kalau dia kenapa-napa gimana?" risau Aira.
"Bukannya kamu bilang dia jago taekwondo"
'Iya sih, gak mungkin Mira gak bisa jaga diri'
Alex merapatkan kursinya ke Aira, jari jemarinya menggenggam tangan Aira.
"Ra, saya pengen punya anak" ucap Alex.
Aira mengerjapkan mata, kesambet apa nih tiba-tiba minta anak.
"T-tunggu aja, nanti dikasih sama allah" ucap Aira.
"Gimana cara kasihnya?"
Aira mengingat lagi bagaimana ia dan Alex melewati malam pertama. Aira menjadi gugup.
"Ha?-ee-itu-"
"Tapi bukan hari ini, saya tau kamu capek" Alex mengusap kepala Aira lembut.
"Hum" saut Aira.
"Lagipula dirumah cuma kita berdua"
'Stop! Gue gak bisa bahas ginian, ntar muka gue merah gimana'
"Pak masih ramai jangan bahas itu, nanti kedengeran gimana?"
"Kalau bahas beginian dikamar nanti" ucap Aira.
"Dikamar beda kisah lagi"
Aira bingung harus menanggapi Alex bagaimana lagi.
"Diem ya ganteng, masih banyak orang" Aira ada dipuncak kesabarannya.
Mendengar dirinya disebut Ganteng, Alex tersenyum lebar, buru-buru Aira membekap mulut Alex dengan tangannya.
'Mau bikin gue mimisan?'
"Jangan lebar-lebar, senyuman kayak gini khusus buat saya" ucap Aira tegas.
Alex mengangguk.
"Aira Alkeyna, cium" ucap Alex pelan.
'Hei anda tidak tau tempat'
'Ini masih ramai orang'
"Nanti dikamar"
Mata Alex seolah berbinar-binar dengan ucapan Aira, padahal Aira hanya mengalihkan semua agar Alex diam.
__ADS_1
*S**kip*..
"Aira, mama sama papa pamit dulu ya" ucap Iren.
Aira bangkit lalu memeluk kedua orang tuanya.
"Makasih udah dateng ya ma, pa, Aira seneng banget" ucap Aira.
"Iya nak, kamu pinter-pinter ngurus rumah, kalau bisa gak usah pakai pembantu" ucap Iren.
"Iya mama"
Aira berganti memeluk papanya.
"Papa jaga diri yaa, Aira bakal sering jengukin kalian"
Mata Aira berkaca-kaca.
"Hati-hati dijalan pa, ma" ucap Alex.
Iren dan Adrian pun pergi, Aira masih setia menatap orangtuanya yang mulai memasuki mobil.
"Seharusnya saya masih disana" gumam Aira.
Alex merangkul pundak Aira.
"Tapi sekarang kamu disini dan menjadi tanggung jawab saya" ucap Alex.
"Masuk yuk, dingin diluar" lanjutnya.
Semua kerabat mulai berpamitan untuk pulang, kedua orang tua Alex tidak hadir karena mendadak ada urusan penting.
Karena Rumah kembali sepi, bibi dan mbak Rina juga sudah pulang. Aira yang membersihkan sisa-sisa kekacauan dirumahnya.
Alex duduk santai disofa, pada dasarnya pria itu tidak bisa melakukan apa-apa kecuali makan dan tidur.
"Untung piring udah dicuciin semua tadi" gumam Aira.
Aira membersihkan sudut-sudut ruang tamu menggunakan vakum cleaner. Rambutnya ia ikat sanggul agar tidak gerah.
"Ra" panggil Alex yang duduk disofa ruang tamu.
"Kesini sebentar"
Aira mematikan vakum cleanernya, melangkahkan kaki menghampiri Alex dengan wajah bingung.
"Sini"
Pria itu meminta Aira duduk didepan membelakanginya.
"Mau ngapain?"
Aira duduk dilantai membelakangi Alex, tiba-tiba tangan Alex bergerak memijat kedua pundak Aira, sontak Aira kaget dengan perlakuan manisnya.
"P-pak"
"Shutt, biar pundak kamu gak sakit"
'Aaaaa so sweet banget'
Aira memejamkan matanya menikmati pijatan Alex, ia menjadi lebih rileks, pundaknya memang terasa sakit sejak siang tadi.
Aira mulai terhanyut sampai ingin tertidur, pijatan Alex sungguh candu. Namun semua gagal, ada sesuatu yang menganggu kenyamanannya, yaitu tangan Alex, tangan yang awalnya hanya memijat berubah menjadi usapan-usapan lembut dan turun ke punggung Aira.
"U-udah pak makasih"
Aira langsung bangun saat sadar Alex mulai tidak beres.
"Pu-pundak saya udah enakan" ucap Aira.
Alex malah menarik Aira kepangkuannya, ia memeluk pinggang Aira lalu kepalanya bersandar didada Aira. Posisi ini sangat tidak baik untuk jantung Aira.
Aira sampai menahan nafasnya, ia yakin Alex bisa mendengar suara detak jantungnya. Hembusan nafas Alex, Aira bisa merasakannya.
"Kamu benar-benar capek?" ucapnya.
Tubuh Aira bergetar, ia tau apa maksud pertanyaan Alex.
"Saya bosan nungguin kamu dari tadi siang" ucapnya pelan.
__ADS_1
'YAAMPUN CUTE BANGET MAMA, HELP PAK ALEX GEMESIN'
Aira mengigit bibirnya, jika diperjelas Aira tidak terlalu letih, karena banyak orang yang membantu.
"Sa-saya gak capek" ucapnya pelan.
Tidak ada salahnya Aira mengabulkan permintaan suaminya, nada bicara pria itu saja sudah menyedihkan bagi Aira.
"Sedikit capek sih" ucap Aira malu-malu.
"Jadi..Boleh?"
Aira mengangguk, Alex langsung menggendong tubuh Aira.
"Eh-ru-ruang tamunya masih kotor" ucap Aira.
Alex mengabaikannya, pria itu menggendongnya menaiki anak tangga menuju kamar tidur.
Brak!
Alex menendang pintu kamar agar terbuka, ia melempar tubuh Aira diatas tempat tidur lalu menindihnya.
Tanpa basa basi lagi Alex langsung menerkam bibir merah Aira, wanita itu tidak menolak sama sekali bahkan membalas ******* Alex. Keduanya saling bertukar saliva.
"Pak" desah Aira.
Alex menghentikan ciumannya, menatap dalam Aira.
"Kali ini tolong lembut, jangan kasar" pinta Aira.
Alex membelai rambut Aira.
"Panggil saya mas, baru saya mau main lembut" ucap Alex.
"M-mas tolong ya" ucap Aira malu-malu.
Tangan Alex bergelirya menjelajahi tubuh Aira, membuat gadis itu mendesah.
Aira sudah tidak mengenakan sehelai benang pun, Alex melempar pakaiannya kesembarang arah.
"Kamu cantik" puji Alex.
Wajah Aira memerah.
"J-jangan gitu dong" ucapnya.
Alex terkekeh.
"Kamu siap sayang?" tanya Alex.
Aira paling lemah kalau Alex memanggilnya sayang, pipinya langsung memerah dan salah tingkah.
"Pelan-pelan mas" lirih Aira.
Alex mengangguk.
Keduanya mulai melakukan aktivitas yang sama seperti malam pertama, Aira terus mendesah membuat Alex semakin bergairah.
"Mas" Desah Aira, ia mencakar punggung Alex menahan sakit dibagian bawahnya.
"Mas..Pelan" lirihnya.
"Iya sayang" ucap Alex.
Ia mengecup bibir, pipi dan dahi Aira agar wanita itu tenang.
"Saya udah gak kuat" racau Aira.
Alex mempercepat temponya dan Akhirnya Alex menyemburkan benih kerahim Aira lalu tumbang disamping Aira.
Wanita itu menutup mata dengan nafas terengah-engah.
Cup
Alex mencium kening Aira.
"Semoga dia cepat hadir dirahim kamu" ucap Alex.
Ia mendekat untuk memeluk Aira. Aira lebih memilih tetap menutup matanya, hingga keduanya sama-sama terlelap.
__ADS_1