Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-67


__ADS_3

Dan benar saja, Aira memesan satu kamar dihotel untuk satu malam. Ia merebahkan tubuhnya dikasur empuk berwarna putih.


"Eungh, nyamannya"


"Gini ya rasanya lari dari rumah" ucap Aira.


Sangking takutnya pada Alex, ia sampai nekat tidak pulang.


Aira bangun dari tempat tidur, ia baru sadar kalau tidak membawa baju ganti.


Sebuah ide terlintas dikepalanya, ia meraih benda persegi pnjang didalam tasnya.


"Masih jam sebelas, pak Alex pulang jam dua belas..Berarti ada kesempatan buat ambil baju"


Aira buru-buru memesan Driver online menuju rumahnya, ia harus bergerak cepat untuk mengambil pakaiannya dirumah.


Sesampainya dirumah, Aira meminta Sang Driver untuk menunggu, ia masuk mengambil satu ransel dan memasukan beberapa pakaian didalamnya dan kembali kedalam mobil.


Tentu saja ia tak lupa meletakkan stiker note diatas tempat tidur untuk Alex.


Aira yang tidak pernah berpikir kedepannya, bahwa dengan tidak ada kehadirannya dirumah, justru membuat Alex semakin marah.


Ia mengelus dada, lega rasanya.


"Mamanya galak ya mbak?" tanya Driver.


Aira menggeleng cepat.


"Enggak kok pak"


"Terus mbaknya kenapa bawa tas mau balik ke hotel lagi"


Aira menyengir.


"Gakpapa pak, saya gak berani dirumah sendirian" elak Aira.


"Oalah begitu mbak"


"Iya hehe"


'Maaf pak, sebenernya saya kabur dari suami saya yang pedofil hehe'


Mobil yang Aira naiki berhenti di hotel tadi, ia segera naik menuju kamar yang sudah dipesannya.


Tangannya bergerak membuka kunci kamar, tiba-tiba handphonenya berdering.


Ternyata Alex yang menelponnya, dengan santai Aira menggeser tombol merah.


"Selamat tidur sama guling" ucap Aira senang.


Sudut bibir Alex terangkat, Aira mau bermain-main ternyata. Alex sudah tau wanita itu pasti tidak ada dirumah, tapi Alex tidak sebodoh Aira.


Ia masuk kedalam kamar, mendapati stiker note diatas tempat tidur. Senyuman terulas dibibirnya saat membaca isinya.


...Coba mas gak ngancem saya, pasti saya udah dirumah sekarang....


...Tapi gakpapa...


...Saya tidur dihotel aja...


...Adem.....


...Selamat! Anda tidur sendirian haha โ™ก...


...Aira-...


Lihat? Bodoh kan Aira? Sudah Alex duga, wanita itu tidak akan bisa lari darinya.


Jelas-jelas Aira menulis ia akan tidur dihotel. Apa Aira lupa Alex itu seorang Dosen? Yang jelas lebih pintar darinya.


"Bodohnya" gumam Alex.


Ia memasukkan catatan yang ditinggalkan Aira kedalam sakunya.


Pria itu mengecek lokasi hotel terdekat, Alex yakin istrinya itu tidak akan berani pergi jauh-jauh.


Alex tidak langsung pergi menemui Aira, ia ingin mengulur waktu timingnya pas.

__ADS_1


Ia duduk diatas tempat tidur, kesunyian membuatnya teringat ide Raka.


Flasback on.


"Yah hitung-hitung permintaan maaf saya"


"Perpecahan mereka juga karena saya, Aira pasti masih belum bisa membuat Mira benar-benar hilang dari pikirannya, Saya bukan bermaksud buruk"


"Caranya?" tanya Alex.


"Soal itu saya belum bisa kasih tau, pak Alex serahkan saja kesaya, biar saya yang atur" ucap Raka meyakinkan.


"Oke, tapi saya minta jangan dekat-dekat istri saya, apalagi menghubunginya" ucap Alex dingin.


Raka menelan ludah.


"Ba-baik pak"


Flasback off.


Entahlah, Raka memang sudah meminta maaf, tapi Alex masih saja ragu pada pria itu, tentu saja karena pria itu licik.


Alex membiarkan pria itu, terserah mau bagaimana, asalkan tidak ada yang mengganggu Aira.


"Huft.." Alex menghela nafas lalu bangkit.


Ia berjalan kearah laci, tangannya mengambil buku nikah miliknya dan Aira, lalu dilempar ketempat tidur.


"Punya istri kerjanya kabur" gumam Alex.


Pukul 16:22 Wib.


Alex sudah rapi dengan kemeja berwarna hitam dan celana kain hitam, bagian lengannya digulung sedikit.


Tak lupa ia membawa sebuah tas pinggang berisikan buku nikah dan kunci rumah. Alex bersiap menyusul Aira.


Buku nikah, benda itu akan digunakan Alex nanti.


"Mas Al, rapi banget mau kemana?" tanya seorang gadis yang lewat didepan rumah Alex.


Alex tersenyum ramah.


Ririn nama gadis itu, ia mengangguk, lalu melihat sekeliling Alex.


"Istrinya kemana mas? Kok gak diajak"


"Ini mau saya jemput mbak, saya duluan ya mbak" ucap Alex.


"Iya mas, hati-hati" ucap Ririn.


Alex masuk kedalam mobil, ia melaju menuju hotel yang bisa dipastikan kalau Aira ada disana.


Ia sengaja tidak menghubungi Aira dan akan tiba disana untuk membuat kejutan.


Setelah menempuh perjalanan, Alex tiba dihotel xx, dengan langkah panjang Alex masuk menghampiri resepsionis.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya resepsionis.


"Saya mau tanya, ada kamar yang dipesan atas nama Aira Alkeyna?"


"Maaf pak, kami tidak bisa memberitahukan privasi pengunjung ka-"


"Saya suaminya mbak" potong Alex, tak lupa senyuman manisnya yang membuat sang Resepsionis terkesan.


"Mbak?"


"Ah iya pak, tetap tidak bisa kecuali ada bukti yang jelas" ucapnya, mata wanita itu masih menganggumi wajah Alex.


Ini dia benda yang akan dibutuhkannya, yap! Alex mengeluarkan buku nikahnya.


"Maaf pak, apakah ada masalah?" tanya wanita itu tiba-tiba.


Alex tertawa kecil.


"Tidak ada mbak" ucap Alex.


"Kalau begitu, saya check dulu ya pak"

__ADS_1


Alex menunggu wanita itu melihat buku tamu.


"Aira Alkeyna memesan satu kamar siang tadi, Biar kita hubungi ibu Aira dulu ya pak"


Tebakan Alex tidak melesat, Aira benar ada dihotel ini.


"Sebelum itu, saya mau minta tolong boleh?" tanya Alex.


Si resepsionis mengangguk.


Sedangkan dikamar hotel, Aira baru saja selesai mandi, ia mengenakan jas mandi


Aira membuka tirai jendela sehingga pemandangan kota terlihat dari atas. Sungguh suasana yang nyaman.


Ia berencana untuk melihat matahari terbenam dari balkon hotel, dalam keadaan memakai jas mandi.


"Sendirian doang, gak masalah pake kayak gini, kalau ada pak Alex.Nah bahaya" monolog Aira.


"Bay the way, Pak Alex gak nelfon gue lagi? Dia gak kecarian?"


Aira mengambil handphonenya, benar-benar tidak ada pesan maupun panggilan masuk dari Alex.


Wajahnya kesal.


"Cih..Pasti seneng gak ada gue dirumah" cibirnya.


Kring..Kriing..


Telepon yang ada dikamar hotelnya berbunyi, buru-buru Aira meraih benda itu dan menempelkan ketelinga.


"Halo?"


"Halo ibu, selamat sore maaf mengganggu, tadi ada orang tua anda yang datang menanyakan nomor kamar anda"


Aira mengerutkan dahi.


"Orang tua saya?"


"Iya ibu, beliau menyebutkan data diri anda dengan lengkap, jadi saya memberikan kamar nomor anda"


"A-ah gitu, yaudah deh"


"Iya ibu, selamat sore"


Aira menaruh kembali benda itu.


"Masa iya papa kesini?"


"Apa papa lagi ada urusan? Tapi kok tau gue disini?"


Mata Aira membulat.


"Atau jangan-jangan orang jahat yang ngaku jadi papa?!"


Tok..Tok..


Jantung Aira berdetak kencang, ia mulai panik saat mendengar pintu kamarnya diketuk seseorang.


Dengan ragu-ragu, Aira mendekati pintu.


"Si-siapa?"


Tidak ada salahnya bertanya lebih dulu sebelum membuka pintu. Orang itu tidak menjawab.


"Pa-papa ya?" tanya Aira takut-takut.


Aira menarik nafas dalam-dalam, jika tau akan terjadi hal seperti ini, Aira lebih baik bersama Alex. Pria itu pasti melindunginya.


Tok..Tok..


Orang itu mengetuk lagi pintunya, Akhirnya Aira memberanikan diri untuk membuka pintunya.


Cklek..


Mata Aira membulat sempurna saat melihat orang misterius yang mengetuk pintunya.


"Pak-Mas Alex?!"

__ADS_1


Terciduk kamu Aira๐Ÿ˜…


__ADS_2