
Maaf author baru up, empat hari ini Author sakit, sebenernya yg double up kemarin pun author nulisnya pas mulai demam tinggi.
Maaf ya..Author emang fisiknya lemah jadi ya begini, alhamdulilah masih diberi umur yang panjang.
"Gimana? Sore ini udah lumayan
jalan-jalannya ?" tanya Alex sembari membawa masuk kantung belanjaan.
Aira mengangguk.
"Iya lumayan, sayang cuma sebentar" lanjutnya sedih.
Alex tersenyum, ia mengusap rambut Aira.
"Hari minggu kita jalan lagi, satu harian penuh" ucap Alex.
Mata Aira berbinar-binar.
"Janji?"
"Janji" jawab Alex.
"Aaaa makasih mas" Aira memeluk Alex erat.
"Sama-sama, sekarang kita siap-siap sholat maghrib, abis itu kamu minum susu, mas bantu kerjakan tugas-tugasnya, dan terakhir minum vitamin sebelum tidur" ucap Alex dengan jelas.
Alex lebih tau banyak dari Aira, pria itu telaten mengurusnya.
"Oke big boss!" ucap Aira.
Aira segera berbalik badan, tapi Alex memeluknya dari belakang.
"E-eh kenapa?" tanya Aira bingung.
Alex menarih dagunya dipundak Aira.
"Pegel nyetir mobil" ucap Alex memelas.
Aira menarik sudut bibirnya lalu cekikikan, ia tau apa maunya Alex.
"Yaudah nanti aku pijetin" ucap Aira.
"Gak usah kamu capek" elak Alex.
"Oke gak usah jad-"
"Jadi sayang, nanti pijetin mas ya" potong Alex.
"Oke"
Aira mencuci wajahnya, ia menatap pantulan dirinya didepan cermin. Melamun sedikit saja sudah kepikiran hal-hal lain.
'KK Gilan masih hidup kan?'
'Sebentar lagi dia sidang, kalau dia bunuh diri, pasti gue yang diintrogasi polisi'
'Terus pak Alex gue tinggal..Nanti kalo ganteng gue diambil orang gimana?'
Aira menggeleng cepat, ia menepuk kedua pipinya.
'Lo mikir apa sih Aira, gak mungkin Gilan bunuh diri, sakit jiwa kali dia'
'Tapi tadi si Mita itu modusnya doang minta nomor whatsapp gue, lama-lama berkunjung kesini terus nemplok suami orang'
'Memang ya yang namanya Mita sama Mira nyebelin!'
Aira meremas handuk ditangannya.
'Eh Mira udah best gue, tapi kita pantau aja dulu'
"Dasar perempuan" kesalnya.
Lalu melempar handuk begitu saja.
Ia tidak menyadari keberadaan Alex yang sejak tadi berdiri didepan pintu sambil mengamati Aira yang terus bergumam tidak jelas.
"Terus kamu apa kalau bukan perempuan?"
Aira melirik kearah pintu sebentar lalu fokus lagi kecermin.
'Eh?'
Aira melirik lagi pintu.
"Mas Alex? Sejak kapan disitu?" tanya Aira.
"Sejak kamu ngedumel gak jelas" ejeknya.
Bibir Aira mengerucut.
Alex menghampirinya lalu memegang kedua pundak Aira.
"Kamu pakai apa itu?" tanya Alex penasaran dengan benda yang ada dihadapan Aira.
"Serum pak, eh kok pak sih Hahaha.."
Aira tertawa sendiri.
Alex menoyor pelan pipi Aira.
"Masih muda udah pikun" ucap Alex.
"Sorry, banyak pikiran" ucapnya.
__ADS_1
Aira meneteskan serum di pipinya.
"Kenapa kamu bisa banyak pikiran?kamu mikirin apa Aira?" tanya Alex.
"Karena aku manusia mas" ucap Aira santai.
Hei tolong, Alex menganggap ucapan Aira serius, ia tidak mau Aira stress karena itu dia sangat sensitif dengan kata banyak pikiran.
"Aira"
Aira menyudahi rutinitas malamnya, ia menoleh pada Alex.
"Mas, orang ngomong ngasal doang, jangan dibawa serius gitu" ucap Aira.
"Ya mau gimana Ra, mas takut berpengaruh ke baby nya"
Aira terkekeh.
"Duh, baby, papa kamu ini perhatiannya luar biasa, cepet lahir ya, biar kamu ngerasain juga gimana rasanya" ucap Aira jahil.
Alex menarik hidung Aira.
"Aaa lepas ih! Sakit tau!" protes Aira.
"Salah si ibuk jahil" ucap Alex.
"Dasar cabul" ledek Aira.
"Dasar bocah" ledek Alex balik.
Mereka keluar kamar mandi saling bersaut-sautan dengan ejekan-ejekan.
"Dasar pedofil, udah tau bocah masih mau" ucap Aira.
"Ya bocahnya juga mau gimana?"
"Mitos" ucap Aira.
"Dasar perempuan gak mau salah"
"Nyenyenye" Aira menutup telinganya, pinggulnya bergerak kekanan dan kiri, mencoba mengabaikan ucapan Alex.
"Waktu itu ada perempuan nangis gak mau dijodohin sampai ninggalin meja makan mau kekamar, siapa itu? Kamu kenal gak Ra?"
"Gak tau aku budeg" ucap Aira.
"Mau di aminkan?"
Aira mendelik.
"Jangan! Nyebelin!"
Alex tertawa, makin kesini Aira makin gembul. Padahal kandungannya baru masuk minggu ke lima.
Aira melipat kedua tangannya didepan dada, ia duduk ditepi ranjang, tubuhnya menghadap kedinding, tidak mau melihat Alex.
Hebat wanita itu yang merajuk.
Begitulah Aira, jelas-jelas dia yang memulai, tapi Alex yang salah dan harus mengalah.
"Sayang" panggil Alex lembut.
"..."
"Sayangku"
Aira mendengus.
"Tadi ada yang bilang mau pijetin mas" ucap Alex.
Ia perlahan naik keatas ranjang mendekati Aira yang merajuk.
"Gak tau, gak dengar" ucap Aira singkat.
Greb!
"Ah dapat!"
Alex berhasil menangkap Aira. Ia memberi kecupan bertubi-tubi dipipi wanita itu.
Cup
Cup
Cup
Aira berusaha menghindar, tapi usaha gagal, Alex menimpa pahanya dengan kaki besar pria itu.
'Menyebalkan'
"Mass, udah ih bau ntar pipi aku" eluh Aira.
"Gak tau, gak dengar" Alex mengecup pipinya lagi.
Cup
Cup
Aira terus berusaha menutupi pipinya dengan menggunakan tangannya sebagai tameng.
"Iya udah ampun, aku gak marah" ucap Aira.
"Nanti bohong"
__ADS_1
"Gak-gak bohong" ucap Aira.
"Masih gak bisa dipercaya"
Cup
Cup
Cup
'Huwaa pipi gue bau iler pak Alex'
Aira menahan bibir Alex dan berusaha mendorongnya.
"Mas sumpah, bau iler pipi aku" ucap Aira memohon.
"Ngambek lagi?" tanya Alex.
"Enggak mas" ucap Aira.
"Bener?"
"Bener mas" Aira sudah cemas.
"Oke udah" ucap Alex.
Ia mulai menyingkir kebelakang membuat Aira lega. Wanita itu menghadap ke Alex.
"Buka baju nya" ucap Aira.
"Kamu mau ngapain Ra? Jangan Ra"
Alex tiba-tiba berubah dramatis, tangannya menutupi tubuhnya, seolah-olah Aira ingin mengeranyangi tubuhnya.
Aira menatap geli Alex.
"Jangan mikir aneh-aneh, buka buruan" ucap Aira, tingkah Alex membuatnya tidak sabaran.
"Aduh Mama galak" gerutu Alex.
Alex membuka satu-persatu kancing piyamanya.
Deg-deg
Aira menelan salivanya, kenapa ini! Jelas-jelas Aira yang minta Alex supaya melepas pakainnya, tapi kenapa Aira jadi tidak tenang dan berdebar.
Aira menyentuh dadanya yang berdetak kencang. Ia menggigit bibir bawahnya.
'Please tenang, kenapa grogi sih? Kan udah biasa, please'
Aira menarik nafas lalu menghembuskan pelan, ia mengulangi hal itu, sampai lupa Alex sudah selesai melepas piyama bagian atasnya.
Alex memgerutkan dahi.
"Aira"
Aira sibuk memegang dadanya sambil mengatur nafas.
"Sayang?"
"Ha iya?"
Mata Aira langsung tertuju pada tubuh Alex, tubuh pria itu semakin bagus, kalau dipikir-pikir sudah lama Aira tidak emm..Menyentuh perut sixpack Alex.
"Aira kamu hamil makin mesum ya" ucap Alex.
Alex menatap Alex.
"Se-sembarangan!" elaknya.
'Amazing! Yakin banget, suami gue pasti rajin olahraga..roti sobeknya itu argh!!'
'Gak ada yang boleh liat, itu punya gue!'
"Pipi kamu kok merah?" ledek Alex.
Aira menyentuh kedua pipinya.
"Kamu gerogi ya?"
"Eng-enggak,..Itu..Anu...panas banget"
Jawabannya membuat Alex tersneyum misterius.
'Yah goblok jelas-jelas dingin gini, malah ngeles kepanasan'
'Stupid Aira stupid'
"Kepanasan?"
Aira menyengir.
'Pak Alex mukanya ngeledek mulu heran'
"Yaudah biar mas gedein AC nya"
"Ja-jangan.."
Aira menahan Alex, sehingga tangan putih nan secar tidak sengaja menyentuh dada Alex.
Matanya membulat sempurna.
'OMG Tangan gue tau dimana tempat yang bagus'
__ADS_1