Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-153


__ADS_3

Aira mengelus lembut dahi anaknya, ia memandangi sang buah hati tanpa berkedip. Rasa sakitnya hilang begitu saja saat melihat hasil jerih payahnya melahirkan putri kecil yang lucu. Tadi dia sudah menyusui anaknya dan melakukan skin to skin saat diruang bersalin.


"Mas tadi pas aku nyusui dia, aku belum bisa liat dia jelas- jelas karena masih lemes.."


"Gemes banget, pipinya gembul kayak aku" ucapnya.


"Gak boleh dicubit pipinya Ra" ucap Alex.


Aira mengangguk.


"Sayang kamu tau gak, laki-laki yang disamping mama ini papa kamu, ganteng kan?"


"Bucin banget loh sama mama" lanjut Aira.


Alex tertawa mendengarnya.


"Ngarang, siapa yang bucin" ucap Alex.


"Ck..kalo gak bucin gak lahir ini anak kita"


Alex mencubit pipi istrinya.


"Mulut kamu itu"


"Bodo wlee" ledeknya.


Alex mengelus pipi putrinya.


"Gantian" ucapnya.


"Nanti aja, dia masih butuh sentuhan mamanya" ucap Aira.


Alex mengangguk patuh.


"Oh iya mas udah kasih nama belum?" tanya Aira.


"Belum, mas tunggu kamu dulu, kamu mau siapa namanya?"


Aira berpikir sejenak.


"Nama kita sama sama dari A, mas gimana kalau anak ini namanya juga huruf depannya A?" saran Aira.


"Hum..Atiya putri abasya?"


Aira tersenyum lebar.


"Bagus mas"


Aira mencium wajah putrinya.


'Atiya putri Abasya..Nama yang cantik'



"Atiya..anak mama, semoga kamu tumbuh menjadi anak yang pintar dan baik hati" ucap Aira.


Alex memandangi dua orang yang amat ia sayangi.


"Dia bakal jadi anak yang penurut Ra.." ucap Alex lembut.


Aira dan Alex saling bertatapan, lama kelamaan wajah keduanya mendekat, bibir mereka hanya berjarak 5 cm.


"Bener ini kam.."


Aira dan Alex menoleh kesumber suara, ada Gilan dan nana yang baru saja tiba dan melihat mereka berdua.


"Marnya.." lanjut nana.


'Owh **** momen yang tidak pas' umpat Gilan.


Spontan Alex berdiri tegak dan Aira beralih pada bayinya.


'Kok gak kedengeran suara pintu dibuka' ucap Alex dalam hati.


Nana terpelongo melihatnya, sangat canggung suasananya.


"E-eh Nana" sapa Aira.


Gilan dan Nana yang terdiam langsung mengedipkan kedua matanya.


"Ha-hai mama muda" balasnya kaku.


Nana melirik Gilan.


"Sapa" bisiknya.


"So-sorry kita ganggu" ucap Gilan.


Aira tertawa garing.


"Hah ganggu? hahaha enggak kok, sini- sini" ucapnya sambil melirik Alex.


'Malu banget njir'


Nana mendekat ke ranjang Aira, diikuti Gilan.


"Iiii pas banget ada dedek bayiinya, lucuu bangett" gemas Nana.


"Makasih tante"


Nana menutup mulutnya.


"Yaampun udah jadi tante-tante gue" ia menyengir.


Gilan tersenyum melihat bayi mungil digendongan Aira.

__ADS_1


"Nurun pak Alex semua ya" ucap Nana.


Aira mengangguk.


"Oh iya ini, gue sama Gilan bawa buah-buahan" Ucap Nana.


"ih kok ngerepotin" ucap Aira.


Gilan memberikan buahnya pada Alex.


"Makasih udah datang" ucap Alex.


Gilan mengangguk.


"Sama-sama pak, ini gak ngerepotin sama sekali kok, iya kan sayang?" Nana menyenggol lengan Gilan.


"Iyaa"


Nana menggandeng tangan Gilan, Gilan berusaha menepisnya karena malu.


"Jangan gitu Na" ucapnya.


Nana cemberut.


"Apasih, gandeng doang"


Aira tersenyum melihat mereka berdua.


"Nana kamu duduk aja dibangku saya, saya mau keluar dulu" ucap Alex.


"Eh gak usah pak.." tolak Nana.


Alex tersenyum.


"Gakpapa, kalian lanjut ngobrol aja" ucap Alex.


Alex mengusap kepala istrinya.


"Mas keluar dulu ya dek" ucap Alex lembut.


Aira mengangguk.


Alex pun keluar kamar, Gilan tidak mengalihkan pandangannya dari pria itu.


"Jelas ya Ra aku ditolak..saingannya bule" celetuk Gilan.


Aira dan Nana menatapnya lalu tertawa.


"Hahahaha astaga.."


"Haha..aduh sakit buat ketawa" pekik Aira.


Gilan menatap bingung.


'Pada kenapa?'


"Jadi aku jelek Na?"


Nana mengangguk.


"Jelek tapi bisa mengguncangkan hati seorang Nana" gombalnya.


"Cih.."


Aira menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh Ra, lancarkan persalinan lo?" tanyanya.


"Alhamdulilah lancar, ini Atiya udah lahir dengan normal" ucap Aira.


"OMG Atiya namanya?" heboh Nana.


Aira mengangguk.


"So cute~ A familly ya" ucap Nana.


"Tau gak Aira, gue panik banget lagi belanja bareng Gilan tiba-tiba Mira sambil nangis ngabarin lo mau lahiran..Spontan gue teriak dong sampai diliatin orang-orang di mall." ucap Nana dengan ekspresi yang angat mendukung.


"Hum, malu-maluin" sambung Gilan.


"Eh Gilan, jangan bilang malu-maluin, padahal sendirinya juga teriak" cibir Nana.


Gilan menaikkan bahunya.


"Duh sorry ya gue bikin panik, ini bayi tiba-tiba minta keluar" ucap Aira.


"Gakpapa..Kita gitu karena seneng, apalagi keponakannya cantik" ucap Nana.


"Kalo jelek?" tanya Aira.


"Otw pulang lagi yuk sayang" celetuk Nana.


Aira membulatkan matanya.


"Sia-"


"Eh gak boleh toxic didepan anak" cegah Nana.


Aira mendengus.


"Sshh anak mama jangan deket-deket tante Nana ya?"


Aira mengecup pipi anaknya.


Atiya kecil mengeliat.

__ADS_1


"Omg gemes banget mau satuu" ucap Nana memandangi Atiya kecil.


"Btw nanti spill ya cara bikin anak secute dan secantik Atiya gimana" bisiknya.


Gilan mendelik kaget.


"Wah parah, kak Dia udah kasih kode nih" ucap Aira.


"Nana.." panggilnya.


Nana menyengir.


"Bercanda..lagian belum tentu Seorang nana menikah dengan Gilan" ceplosnya tak berdosa.


Ia malah bermain dengan Atiya kecil dan mengabaikan wajah kaget kekasihnya.


Cklek..


Mereka melijat kearah pintu secara serentak, ternyata perawat yang datang untuk membawa bayinya.


"Selamat sore ibu Aira, waktunya untuk bayinya untuk dibawa dulu yaa" ucap perawat dengan ramah.


Aira mengangguk.


Atiya kecil dimasukkan kembali kedalang tabung bayi.


"Dadah sayang..nanti ketemu mama lagi ya? muach" ucap Aira.


"Yah...gak bisa liat lagi dong" eluh Nana.


"Bisa kok, datang ke ruangan para bayi, liat lewat kaca ya kak" ucap perawat.


Nana mengangguk.


"Suami ibu Aira dimana? kita butuh beliau untuk mendata si bayi" ucap perawat.


"Oh oke sus" ucap Aira.


"Gilan..liat lucuuu banget huhu"


Sangking gemasnya ia mengigit jaket Gilan. Gilan marah? tidak, ia justru mengusap kepala Nana layaknya seorang kucing.


"Ibunya juga butuh istirahat ya"


"Baik" ucap Aira.


"Dadah Atiyaaa


Perawat meninggalkan ruangan Aira.


"Ekhem.." Nana tiba-tiba berdehem.


Gilan menaikkan dagunya.


"its girl's time" ucapnya.


Gilan memutar bola matanya.


"Silahkan.." ucap Gilan berjalan menuju pintu keluar.


Nana menyengir.


"Makasih sayanggg"


Gilab menutup telinganya.


Blam!


"Ra, mau tanyaa" ucap Nana.


"Hum? tanya aja"


"Lo lahiran normal kan?"


Aira mengangguk.


"Sa-sakit banget?" tanyanya ragu-ragu.


"Sakit banget..ini bagian bawah gue rasanya kayak diobrak abrik..gak ngerti lagi, intinya dipikiran gue yang penting anak gue lahir dengan selamat" ucapnya.


Bulu kuduk Nana merinding.


"Kok serem banget.."


"Tapi setelah plong kok..Pak Alex yang kasian, gue tarik rambutnya, gue cakar-cakar.."


"Kenapa nanyain itu, lo dihamilin Gilan?" tanya Aira.


"Astagfirulloh Ra mulut lo..Gue cuma kepo dan siapin mental doang, kan kedepannya gue juga berumah tangga" ucap Nana.


"Ooh.."


"Seneng pasti yaa"


Aira mengangguk.


"jelas, pak Alex baik banget..gue dimanjain dong" ucapnya.


"dan dia ekstra sabar, intinya mau gue bales deh semuanya buat pak Alex, selama gue hamil, dia kurang kasih sayang kayaknya" ucap Aira.


Nana spontan tertawa.


"Gak ada akhlak"


"Yaudah setelah 40 hari, lo manjain deh suami lo, bereskan"

__ADS_1


Aira tersenyum.


"Santai aja, udah ada di pikiran gue mau gimana nantii" ucap Aira.


__ADS_2