Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-78


__ADS_3

Untuk chapter ini bener-bener butuh koreksi kakak-kakak sekalian.


"Mas, apa saya hamil?" tanya Aira.


Jantung Alex berdetak kencang.


"Ki-kita kedokter ya?"


Aira mengigit bibir bawahnya, lalu mengangguk. Mereka memutuskan untuk pergi kerumah sakit, Alex menunggu diluar ruangan dengan gelisah.


Ia mondar-mandir sambil berharap apa yang ia inginkan benar terjadi. Aira sudah masuk beberapa menit lalu, Alex tidak bisa tenang.


Cklek..


"Pak Alex boleh masuk" ucap suster.


Alex langsung melangkah masuk, entahlah kakinya ikut gemetar saat melihat Aira yang terbaring dengan bagian perut yang terlihat, beruntung dokternya seorang wanita juga.


"Anda suaminya?" tanya dokter.


'Bukan saya tukang parkir dirumah sakit buk'


Alex mengangguk.


"Ibu Aira bisa duduk sekarang" ucap Sang dokter.


Alex dan Aira mengikuti dokter itu kearah meja, Alex tidak sabar mendengar hasil pemeriksaan Aira.


"Istri saya kenapa dok?"


"Istri bapak tidak kenapa-napa, malahan saya mau kasih ucapan selamat" ucap dokter.


Alex dan Aira saling pandang.


"Se-selamat?"


"Iya, Bapak Alex dan ibu Aira..Selamat kalian akan segera menjadi orang tua" ucap dokter sambil tersenyum.


Jantung Aira ingin lompat dari tempatnya, ia menoleh pada Alex, senyuman tak bisa pria itu tahan lagi


"Istri saya hamil?"


"Sa-saya hamil dok?"


Dokter mengangguk.


Pantas saja Nana bilang ia gemukan, dan Alex mengatakan dia aneh, tapi Aira tidak menyadari dirinya sendiri tengah mengandung.


"Benar buk, usia kandungan ibu masuk minggu keempat, masih sangat rentan" ucap dokter.


"Dan satu lagi pak Alex tolong lebih perhatikan istri anda, usia kandungannya lemah, mungkin karena ibunya terlalu banyak pikiran dan strees, jangan sampai kecapean dan melakukan pekerjaan berat" ucap Sang dokter.


Alex kaget mendengar kandungan istrinya lemah, memang karena masalah Aira dan Mira, wanita itu banyak menangis dan strees.


"Baik dok"


"Oiya untuk suaminya, saya tau kalian ini pengantin baru, bapak harap menahan diri untuk beberapa bulan ya pak sampai usia kehamilan ibu Aira membaik"


Pernikahan mereka sudah berjalan tiga bulan lebih, Alex sedikit sedih dan sekarang ia harus menahan diri dulu.


"Bapak jangan sedih ya, nanti tetap bisa untuk berhubungan yang pasti dengan prosedur yang diberi dokter"


Aira menengok Alex yang menyengir salah tingkah.


"Iya dok, terimakasih banyak, kami permisi"


Alex menggengam erat tangan Aira hingga keluar dari ruangan, tangan wanita itu dingin.


Aira menahan tangisnya, antara bahagia dan takut. Pikiran Aira campur aduk, bagaimana dengan kuliahnya dan orang sekitar yang belum mengetahui pernikahannya.


"M-mas.." lirihnya.


"Saya takut, gi-gimana kuliah sa-"


Greb..


Belum selesai Aira bicara Alex sudah memeluknya.


"Aira, saya benar-benar bahagia saat dokter bilang kamu hamil" ucap Alex.


"Kamu jangan khawatir, saya bakal ada disamping kamu, membantu kamu..Apapun itu saya selalu ada" ucap Alex bersemangat.

__ADS_1


Aira tidak mengerti, rasanya ini sulit.


"Mas, kuliahnya"


"Ssstt..Kita bicara nanti, sekarang kita pulang biar kamu istirahat, ingat kata dokter kandungan kamu lemah.."


Aira menahan Alex.


"Bun-bunda gimana?"


Alex menyentuh dahinya, sangking senangnya Alex lupa mereka akan kerumah orang tuanya.


"Batalkan saja, kesehatan kamu dan anak saya lebih penting"


"Mas gak boleh gitu, bunda udah seneng kita mau dateng, ditambah...Ditambah tau saya hamil"


Alex mengusap pipi Aira.


"Oke kita nginep disana"


Aira tersenyum paksa lalu memalingkan wajah kearah lain, tapi Alex tau dibalik senyum Aira itu ada rasa bingung dan gelisah.


"Aira..."


"Hum?"


"Kamu bahagia kan?"


Aira mengangguk, Alex mengecup keningnya.


"Terimakasih dan maaf, dia hadir disaat kurang tepat" ucap Alex.


Ucapan Alex membuat Aira merasa tertampar, seolah-olah itu sindiran untuknya yang bersikeras untuk menunda kehamilan.


Aira memejamkan mata.


"Mas..Saya bisa terima dia..Saya janji bakal jadi ibu yang baik" ucap Aira.


"Good job sayang..Kita pulang" ucap Alex.


"Kerumah bunda mas" ucap Aira.


"Ah iya"


Alex bahkan membukakan pintu mobil untuk Aira.


"Pelan-pelan duduknya"  ucap Alex sambil tersenyum.


Aira membalas senyuman pria itu.


"Kamu mau saya pakaikan sabuk pengaman?" tawar Alex.


Aira menggeleng cepat.


'Stop gue salting!'


"Oke-oke, saya bawa mobilnya pelan-pelan, sa-"


"Mas kayak biasa aja, jangan gitu aku ngerasa canggung" ucap Aira.


Ah seperti ini rasanya akan menjadi seorang ayah, Alex sampai tidak bisa mengontrol dirinya. Ia hanya memcoba menjadi suami yang siap siaga.


Alex mengusap wajahnya.


"Maaf saya masih tidak percaya Aira" ucap Alex.


Aira meraih tangan Alex yang gemetar dan menggengamnya. Yang hamil Aira yang gemetaran Alex, Aira akui Alex membuatnya tersentuh.


"Mas, tarik nafas dulu..jangan panik, nanti sayanya ikutan panik" ucap Aira.


Alex menarik nafas panjang lalu menghembuskannya sembari  mengelus dada.


"Udah tenang?"


Alex mengangguk.


"Mas yakin udah bisa nyetir dengan aman?"


"Iya sudah"


"Oke berangkat!" Seru Aira.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Aira menatap keluar kaca jendela mobil. Ia hamil, sebuah kejutan yang luar biasa, Aira tidak menduga akan secepat ini, tapi anak adalah titipan yang maha kuasa, mungkin ia diberi anak sekarang karena memang sudah saatnya.


Semangatnya Alex membuat Aira lebih tenang.


"Kamu mau beli sesuatu?" tanya Alex.


Ia pikir Aira ingin membeli sesuatu karena terus melihat keluar jendela mobil.


"Enggak"


"Kamu mau tiduran?" tanya Alex lagi.


"Enggak mas, saya cuma liat jalanan aja" ucap Aira.


Oke baik, Alex bingung harus menanyakan apa lagi. Keduanya sama-sama diam sampai tiba dirumah orang tua Alex.


Baru saja Aira hendak membuka pintu, Alex dengan cepat keluar mobil dan membukakan pintu untuknya.


"Mas saya bisa kok" ucap Aira segan.


"Buat anak saya" ucap Alex.


'Oke, dia masih maruk karena anak pertama' batin Aira menahan tawa.


Mereka berdua saling tatap.


"Waah, anak bundaa udah datang" sapa Reva, entah sejak kapan wanita itu ada disana.


Aira menggeser tubuh Alex, ia menghampiri Reva lalu mencium tangan Sang mertua.


"Assalamuallaikum bun" ucap Aira.


"Waalaikumsalam, duhh anak bunda makin cantik, makin chubby~ gemes bunda liatnya" ucap Reva cekikikan.


'Ini karena gue hamill bundaaa'


Aira menyengir.


"Ayah mana bun?" tanya Alex.


"Ayah lagi beli cemilan diluar, katanya buat Aira, ayah kangen sama kalian" ucap Reva.


"Ayo masuk-masuk, bunda udah siapin makan malam" lanjut Reva.


Aira melangkah masuk lebih dulu, Alex ikut menyusul, tapi tangannya ditahan Reva.


Kedua alis Reva naik, senyumannya penuh arti.


"Ekhem...Bunda bangga, kamu bisa ngurus Aira dengan baik" puji Reva.


"Sudah seharusnya kan bun, Aira istri Alex, dia tanggung jawab Alex"


Reva mangut-mangut.


"Yasudah ayo masuk"


Alex membawa Aira kekamar lamanya, membantunya untuk berbaring, padahal Aira nasih bisa melakukan semua itu sendiri, perutnya belum membesar jadi tidak sulit.


"Mas kamu mau mandi?" tanya Aira.


Alex mengangguk, ia belum menyadari sesuatu.


"Iya-eh"


Alex menatap Aira kaget.


"Kamu bi-bilang apa tadi?"


Aira mengerutkan dahi bingung.


"Mas kamu mau mandi? Itu kan?" ucap Aira.


Finally! Biasanya Aira terus manggil bapak atau mas, tapi kali ini secara langsung Aira menggunakan kata "kamu".


Bolehkah Alex berbangga hati?.


"Aira kamu-kamu sadar?"


"Apasih?" Aira mulai risih.


"Bukan apa-apa, saya mau mandi dulu"

__ADS_1


Ah sudahlah, Alex langsung pergi kekamar, biar kebahagian ini ia nikmati didalam hatinya sendiri.


__ADS_2