Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-69


__ADS_3

Raka mengetuk-ngetuk jari-jemarinya kemeja, ia sedang menunggu kedatangan seseorang. Siapa lagi kalau bukan saudari Mira, susah payah Raka memintanya datang akhirnya gadis itu mau juga.


Kling~


Lonceng yang ada dipintu cafe berbunyi karena dibuka oleh seseorang. Raka mengangkat tangan kanannya sehingga Mira menghampirinya.


Jika diperhatikan wajah Mira pucat, matamya sembab dan bibirnya kering, cukup membuat Raka heran.


Aira yang disakiti kenapa Mira yang nampak depresi.


"Kamu mau pesan minum?" tanya Raka.


"Lansung saja, apa lagi yang mau bapak buktikan kedia?" ucap Mira tajam.


Raka tetap tenang, tujuannya itu untuk bernegosiasi dengan Mira.


"Saya gak punya apa-apa lagi, karena saya tau kesalahan kamu cuma itu"


"Cih..Bapak seneng kan udah ngerusak semuanya?"


"Saya? Bukannya kamu yang ingin merusak persahabatan kalian? Saya cuma meneruskan kerjaan kamu" balas Raka.


Mira mengepal tangannya.


"Bapak pasti dipihak mereka kan?" lanjutnya.


"Saya gak dipihak siapapun"


"Lalu kenapa bapak repot-repot menemui saya membahas masalah pribadi saya?"


"Karena ini menyangkut orang yang saya suka" ucap Raka dengan lantang.


Mata Mira membulat, see? bahkan Raka yang bernotabene pria incaran Mira menyukai Aira juga, tolong apa yang mereka pandang dari wanita itu.


Mira tidak mengerti selera mereka.


"Mira, saya yakin kamu orang baik, tapi kenapa kamu tega?" tanya Raka.


"Gak mungkin cuma karena kamu mau buat pelajaran karena Aira itu tidak pernah bersyukur, pasti ada yang lain"


Mira diam.


"Mira lebih baik minta maaf, Aira pasti maafin kam-"


"Enggak! Saya udah benci sama dia, saya dan dia gak akan bisa kayak dulu, dia selalu merebut orang yang saya suka, saya seharusnya bisa bahagia, tapi apa? Dia terlalu serakah"


"Bunda juga ngejauhin saya, semua itu salah dia"


Mira juga korban disini tolonglah seseorang mendengarkan isi hatinya.


Mira tidak dapat menahan emosinya hingga air matanya mengalir membasahi pipi. Suara Mira cukup kuat untuk didengar pengunjung lainnya.


Semua mata mengarah pada mereka, seolah-olah mengintimidasi Raka.


'Apa itu pria cabul?'


'Kurasa itu semacam sugar daddy? Liat dia memakai setelan jas rapi'


'Mungkin gadis itu baru saja diputuskan'


Raka mengusap lengan Mira.


"Mi-Mira tolong tenang, saya yakin Aira juga tidak bermaksud-"


"Dia pasti sengaja" potong Mira sambil menangis sesegukan.


Raka menghela nafas.


"Mira seharusnya kamu sadar, itu semua berasal dari rasa iri didalam hati kamu"


"Coba kamu ingat bagaimana indahnya persahabatan kalian sebelum mengenal seorang laki-laki?"


Mira menunduk.


"Semua itu bukan salah Aira, itu semua ada dihati kamu yang kotor, cobalah intropeksi diri. Kalau kamu tidak memotret Aira dan laki-laki itu, semua tidak akan begini Mira" ucap Raka.


"Jadi salah saya?" ucap Mira pelan.

__ADS_1


"Kamu renungkan itu, temui saya kalau kamu sudah nengambil keputusan" ucap Raka beranjak dari tempat duduknya.


"Ingat Mira, mencari sahabat seperti Aira itu sulit, terutama yang mau menerima kamu kembali dengan tangan terbuka" ucap Raka lalu pergi.


'Gue iri?, apa bener ini semua salah gue karena iri?'


Hotel xx.


Aira berendam dengan busa mandi di bathtub, berendam memang hal yang terbaik, ia merasa damai.


Tapi kedamaiannya tidak berlangsung lama. Tiba-tiba pintu kamar mandi diketuk oleh Alex.


"Aira, kamu masih lama?" tanya Alex.


Aira mengerutkan dahi, padahal dia baru saja mulai berendam.


"Iyaa, kenapa?"


"Saya kedinginan" ucap Alex.


Aira duduk tegak, Alex kedinginan? Apa pria itu tidak memakai pakaian?.


"Ya pake baju" ucap Aira.


"Saya lupa bawa"


'astahfirulloh'


Yaampun berarti Alex belum memakai baju dari tadi? Pantas saja kedinginan. Aira buru-buru membersihkan dirinya dan membuka pintu.


Cklek..


Pria itu bersandar dinding dengan berbaluk handuk, tubuh Alex menggigil kedinginan.


"Astaga mas"


Aira membawa Alex berbaring ditempat tidur dan menyelimutinya, ia khawatir saat melihat wajah pucat Alex.


"Kenapa gak bilang dari tadi?" tanya Aira.


Aira menaruh jari telunjungnya dibibir Alex.


"Sstt, kalau udah gini siapa yang salah? Saya juga kan.."


"Saya cuma mikirin kamu" ucap Alex, nada suaranya manja dan bibirnya mengerucut kedepan.


Bhuk!


Aira melempar bantal ke wajah Alex, sedang kedinginan masih sempat membual.


"Baju yang tadi mana? Pake aja dulu"


Alex menggeleng.


"Abis gimana lagi? Mau pakai baju saya?"


"Mana bisa"


Aira menghela nafas.


'Sabar Aira sabar'


"Makanya pake dulu baju tadi, nanti kan mas pulang bisa ganti" ucap Aira, ia bangkit dari tempat tidur.


"Saya tidak mau, saya disini sama kamu aja" Alex menarik tangan Aira.


Alex menggenggam tangan Aira, tatapannya berubah sendu. Ia tengah membujuk Aira.


Ingin rasanya bilang tidak, tapi suaminya sedang sakit.


"Oke" ucap Aira.


Alex tersenyum senang.


"Tapi nurut sama saya" tegas Aira.


Alex mengangguk cepat.

__ADS_1


"Tunggu disini saya ambil baju yang tadi"


Aira pergi mengambil pakaian Alex tadi, tak lama ia kembali.


"Nih, cepetan dipake"


Aira menyerahkan pakaiannya pada Alex, tapi pria itu tidak mengambilnya, malahan mengusap kedua lengan sambil menggigil.


"Dingin Aira" ucap Alex.


"Yaudah ini dipake mas"


Alex meminta Aira agar memakaikannya baju, alasannya Alex sangat menggigil jadi tidak bisa memakainya sendiri.


"Duduk" ucap Aira.


Alex menurut, pria itu duduk didepan Aira. Alex tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajah cantik Sang istri, Aira dengan telaten memakaikannya kemeja.


"Udah" ucap Aira.


Aira mendongak sehingga mata mereka bertemu.


'Ganteng' ucap Aira dalam hati.


"Celananya tidak dipakaikan?" tanya Alex.


Aira mengerjapkan mata.


"Aa-apa?"


"Celananya tidak kamu pakaikan sekalian?"


Sembulat merah muncul dipipi Aira.


"Me-mesum! Pake sendiri!" Aira melempar celana Alex tepat didada pria itu.


"Loh kok gitu?" tanya Alex.


Aira memalingkan wajah.


"Ya-ya pake sendiri, masa saya yang pa-pake-in" ucapnya.


Alex tersenyum, Aira salah tingkah.


"Buruan pake"


Aira berbalik badan sampai Alex selesai berpakaian lengkap.


"Mas kenapa sih? Sampai mengigil? Biasanya juga gakpapa" seru Aira.


Aira menaruh telapak tangannya didahi Alex dan satu lagi kedahinya untuk mengecek suhu.


Dahi Alex panas, pria itu jatuh sakit! Pasti ia melewakan kebutuhannya!.


"Mas gak makan siang kan?" tebak Aira.


Alex tidak mau menjawab


"Bener gak makan siang?"


Alex mengangguk takut.


"Yaallah mas, kenapa sampai gak makan? Ini masuk angin jadinya" protes Aira.


"Saya tanya kenapa bisa gak makan?" ulang Aira.


"Saya tadi ada urusan dan saya cuma fokus nyusul kamu" ucap Alex.


Aira tertegun, ia bungkam saat mendengar ucapan Alex, lagi-lagi Aira merasa bersalah.


Bagaimana bisa ia marah pada Alex, sedangkan Alex melewatkan makan siangnya karena Aira yang lalai dari kewajiban.


Alex memperhatikan mimik wajah Aira.


"Maaf" ucap Aira.


"Hum?"

__ADS_1


__ADS_2