Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-65


__ADS_3

Aira buru-buru keluar dari mobil, menghindari Alex. Wajahnya memerah, jujur saja Alex merasa lucu melihatnya.


"Aira kamu belum sun saya loh" ucap Alex jahil.


Aira benar-benar salah tingkah dibuatnya.


"Bye, sun aja sama tangan sendiri" ucap Aira lalu pergi dengan kaki yang dihentak-hentakkan.


Sikapnya membuat Alex terkekeh.


"Padahal saya sudah lihat semuanya, masih saja malu" ucap Alex.


Koridor kampus.


Mulut Aira tak henti mengerutu, Alex berulah lagi! padahal ini masih pagi.


Aira tidak habis pikir.


Sedikit lagi Aira sampai didepan kelasnya, tetapi langkahnya terhenti, tiba-tiba ia menjadi nervous.


Ingatan berputar dikepala Aira, biasanya Mira sudah ada dikelas pagi-pagi begini. Aira bukan takut, malahan ia ragu tidak bisa mengontrol emosinya.


Ia berhenti disana cukup lama.


"Aira" panggil seseorang.


Aira tersentak kaget hingga jantungnya berdetak kencang, orang yang memanggilnya itu datang disaat yang tidak tepat!.


Siapa yang memanggilnya tiba-tiba!.


Aira menoleh kebelakang, Matanya membulat, lihat siapa yang membuatnya kaget.


Itu Raka, Yap! pria itu berani sekali menyapanya seperti tidak ada kejadian.


"P-Pak Raka?!"


"Yap, it's me" ucap Raka.


"Oh..Ma-maaf pak saya sibuk" Aira gugup, bukan karena Raka.


Aira balik badan, mempercepat langkah tapi ditahan oleh Raka.


"Aira tunggu, saya perlu bicara"


Aira melepas kasar tangan Raka.


'Dua kali lo nyentuh tangan gue ya bajingan'


"Pak bisa sopan gak?" ucap Aira geram.


Untungnya disekitar mereka sepi.


Raka tersenyum menampakan gigi-giginya.


"Maaf, tapi saya minta waktu kamu sedikit saja Aira"


Aira menatap curiga Raka, ia tidak bisa menghindari pikiran negatif kalau dekat Dosen satu ini.


"Boleh?"


"Maaf saya gak bisa" ucap Aira.


Aira bisa mendengar Raka menghela nafas.


"Kalau mau langsung disini aja" lanjut Aira.


"Oke, kamu tadi berangkat bareng suami kamu kan?" tanya Raka.


"Hum"


"Oke itu saja terimakasih"


Aira melongo, Raka langsung pergi begitu saja meninggalkannya.

__ADS_1


Apa-apaan ini?, pria itu melakukan hal yang bertele-tele hanya untuk menanyakan dengan siapa Aira berangkat?.


Raka sehat?.


"Btw ngapain dia nanyain pak Alex?"


"Dia gak mau ngambil pak Alex kan?"


'Omaygat!'


Aira menutup mulutnya.


"Sialan! gue lupa dia kan....BELOK?!"


"Gak! pak Alex gak bakal mau sama dia, sadar Aira, sadar"


Aira menatap arah depan dengan serius, ia menarik nafas lalu menghembuskannya, Raka memang pernah mendekatinya dan punya masalah dengan mulut nyinyirnya, tapi sekarang Aira membenci pria itu karena menganggapnya 'gay'.


Awalnya Aira cuma bercanda mengatakan Raka gay, tapi akhirnya ia malah kebablasan dan memikirkan perkataannya sendiri. Ia mengambil kesimpulan selama ini ternyata Raka itu memang mengusiknya karena ingin Alex.


Iya pasti benar!


"Jangan nethink Ra, Raka gak senekat itu" ucapnya.


Aira berjalan mendekati ruangan kelasnya, dua langkah lagi ia akan sampai, Aira semakin nervous.


Dua langkah yang terasa berat, Aira melangkah masuk dan matanya mengerjap beberapa kali.


'Kok gak ada?'


Ia tidak mendapati Mira dikursinya, gadis itu belum tiba?.


Aira meletakkan tasnya dikursi miliknya.


"Eum, Miranya kemana?" tanya Aira pada salah satu temannya.


"Belum dateng Ra, mungkin kena macet kali"


'Apa dia takut ketemu gue?'


Aira duduk dikursinya sambil melihat sekeliling kelas, sungguh membosankan, ia tidak punya teman mengobrol.


"Bosen" gumamnya.


Matanya menatap sendu kursi Mira, Aira tidak munafik, ia merasa kehilangan, kehilangan sosok teman karib yang biasanya akan menyapanya saat tiba dikelas, Aira ingin mendengar ocehan anak itu.


Aira menunduk mengigit bibir.


'Kenapa sih Mir, seharusnya kita baik-baik aja'


Mata Aira berkaca-kaca, cairan bening menetes dipipinya, beruntung Aira segera menghapusnya.


Sakit sekali pengkhianatan Mira.


Dua puluh menit berlalu, Aira masih menanti kedatangan Mira, entahlah rasanya masih kurang cukup penjelasan yang dilontarkan Mira padanya.


Sialnya gadis itu tidak datang, ia bolos kelas.


'Beneran takut ketemu gue lo Mir?'


Aira tersenyum, senyuman yang amat menyakitkan.


'Pengecut lo Mir, lo sanggup nusuk gue tapi takut buat ketemu orang yang lo tusuk'


Mata kuliah pertama selesai, Aira memutuskan keruangan Alex untuk menghilangkan kegabutannya yang tidak punya teman berbicara sekaligus berniat bolos di mata kuliah berikut-berikutnya.


Tok..Tok..


"Pak ini saya Mahasiswi Aira" ucap Aira.


Tidak ada jawaban dari pria itu, Aira mengetuk sekali lagi, tapi tidak dijawab juga.


Ia memberanikan diri untuk membuka pintu sendiri, sayang usahanya sia-sia, pintunya dikunci.

__ADS_1


"Kok tumben dikunci sih?"


"Pergi kemana dia?"


Aira merogoh saku mengambil handphonenya.


"Halo mas? mas kemana kok tumben ruangannya dikunci?" tanya Aira dengan volume pelan.


"Saya lagi di luar"


Aira mengerutkan dahi.


"Gak ada kelas emang?"


"Baru selesai tadi"


Aira samar-samar mendengar suara ramai dan lantunan musik dari tempat Alex.


"Mas dimana?" tanya Aira.


"Dicafe sayang, mas tutup dulu ya mas ada urusan"


"Tu-tunggu dulu mas-"


Tutt..


Aira berdecak sebal.


'Urusan sama siapa sampai kecafe segala? pake ditutup segala telfonnya'


'Gak mungkin kecafe seramai itu'


Alex meletakkan handphonenya diatas meja, ia sedang berada di tempat karaoke. Ini adalah tempat yang dibilang Raka, pria itu sudah memesan satu ruangan untuk mereka bertemu.


Kalau bukan karena pria itu membawa nama Aira, Alex tidak sudi bertemu dengannya.


"Istrinya kecarian ya pak?" tanya Raka.


"Langsung saja, kenapa Bapak mimta saya kesini, sangat tidak baik kalau terlihat Mahasiswa kita berada disini" ucap Alex dingin.


Raka malah tertawa.


"Kalau saya boleh jujur istri pak Alex memang cantik" ucap Raka.


Alex bangkit, tangannya mengepal.


Apa ini? Raka malah membahas kecantikan Aira.


"Eh te-tenang dulu pak"


Brengsek sekali Raka, berani memuji istrinya didepan Alex.


"Saya kesini bukan untuk menanggapi hal-hal merugikan dari pak Raka" ucap Alex geram.


"Baik-baik, bapak duduk dulu"


Mau tidak mau Alex duduk kembali.


"Saya meminta bapak kemari, untuk minta maaf, saya tau Aira sangat tidak suka melihat saya, jujur saya memang tidak tau Aira itu istri anda" ucap Raka.


"Saya mau jelasin semuanya, jadi saya ketemu Aira waktu dikoridor kampus, saya langsung tertarik dan coba mengajak dia kenalan, tapi dia langsung bereaksi buruk kesaya, selanjutnya ketemu lagi diparty mahasiswa"


Alex mengepal tangan sambil mendengarkan penjelasan Raka.


"Party mahasiswa?"


Suara Alex terdengar berat, percakapan ini menjadi serius.


"Iya, disana saya benar-benar salah, istri bapak ketakukan karena saya cegat, saya ngebet mau kenalan, tapi dia nolak terus, sampai akhirnya saya liat Aira sering keruangan bapak, dan gak sengaja liat bapak pegangan tangan sama Aira waktu pulang"


Rahang Alex mengeras.


"Lalu anda mengatakan kalau istrinya saya wanita murahan" sambung Alex dengan tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2