
Raka mengangguk kikuk.
"Ya waktu itu saya kan belum tau pak, saya kira dia mahasiswi yang..."
"Lanjutkan kalau anda mau mati" potong Alex.
Raka bergedik ngeri, Alex terlihat menyeramkan.
"Itu saja pak..Dan soal saya yang mungkin pernah buat Aira nethink, maaf sekali saya sampaikan pak" ucap Raka.
"Sudah selesai?"
Raka mengangguk.
"Saya sampaikan maaf bapak ke istri saya, saya permisi"
Alex mengambil handphonenya hendak pergi keluar ruangan, tapi Raka ikut bangkit mencegahnya.
"Tunggu ada satu lagi" ucap Raka menatap Alex.
"Saya..Saya yang kirim video itu ke Aira" ucap Raka ragu-ragu.
Mata Alex membulat, ia menarik kerah kemeja Raka hingga pria itu berjinjit.
Sialan Raka ini, karena dia Aira menangis hingga membuatnya tidak tenang seharian.
Raka tercekik, ia berusaha membujuk Alex agar melepaskan cengkeramannya.
Alex menghela nafas kasar, ia melepaskan cengkeramannya membuat Raka tersungkur dilantai.
'Hampir mati aku' ucap Raka dalam hati.
Raka mengusap lehernya.
"Darimana anda mendapatkan video itu?" tanya Alex serius.
"Sa-saya sendiri yang merekamnya"
Satu pukulan hampir mendarat kewajah Raka, sangking geramnya Alex. Beruntung Raka langsung berbicara.
"Kalau bukan karena saya, istri bapak bakal terus dibodohi" ucap Raka cepat.
Ya memang benar kan? Kalau bukan karena tindakan Raka, siapa yang akan memberitahu Aira tentang kebusukan sahabatnya.
Alex menurunkan tangannya beralih membantu Raka duduk dikursi.
Ia duduk, memijit kedua pelipisnya, Raka sangat membingungkan. Dipihak siapa pria itu sekarang? Dia orang baik atau bukan, Alex tidak bisa memahami.
"Saya tau bapak pasti berpikir saya orang jahat" ucap Raka.
Tepat! Kamu pintar Raka.
"Tapi percaya pak, saya memang tidak suka melihat gadis yang bernama Mira, setelah tau Aira itu siapa"
"Anda ini sebenernya berpihak pada siapa?" tanya Alex.
"Saya tidak berpihak kesiapapun, saya cuma mau meluruskan saja,supaya Aira mau memaafkan saya" ucap Raka.
"Andai saya tau lebih awal Aira istri bapak, mungkin saat itu juga saya cegah Mira" lanjutnya dengan suara pelan.
Alex tertegun.
"Dari pertemuan kemarin, saya langsung menyiapkan cara buat nyudutin Mira..Jujur saya heran masih ada manusia seperti itu, padahal masih muda" ucap Raka, wajahnya ikut kesal.
"Saya juga gak menduga Mira bakal tega ke istri saya" ucap Alex.
Keduanya sama-sama diam.
"Semalam, saya coba telefon anak itu" ucap Raka tiba-tiba.
Alex menoleh.
"Saya ingin lihat bagaimana reaksinya, tapi dia tidak mau menjawab" ucap Raka.
Alex berdecap.
"Bukan masalah, saya tenang ternyata bapak bukan orang yang buruk" ucap Alex.
Raka tersenyum lega mendengarnya.
__ADS_1
"Saya merasa bersalah, pasti terjadi keributan diantara mereka" suara Raka merendah.
"Ya, Aira langsung pergi kerumah Mira hari itu juga"
Raka mendelik.
"Mereka ribut didepan rumah Mira" lanjut Alek.
"Lalu? Apa Mira meminta maaf?"
Alex menggeleng.
"Wah, bener-bener sinting anak itu" umpat Alex.
Suasana berubah serius, Raka menyipitkan matanya menatap Alex.
"Sebenernya ada apa sih pak? Sampai Mira tega"
Raka yang mengirim video itu agar membongkar kebusukan Mira, tapi dia sendiri tidak tau menau apa penyebab Mira senekat itu.
Alex diam sejenak.
"Masalah pribadi"
Raka ber-oh ria.
Dulu Raka suka pada Aira, karena itu ia sering tersenyum pada wanita itu, yang mungkin Aira pikir Rakanitu misterius, tapi Raka tertampar oleh kenyataan kalau Aira sudah punya orang lain.
"Lalu mau kita apakan Mira?"
Alex menatap kedepan, kedua tangannya bertautan didekat bibir.
"Saya mau bicara dengan anak itu, tapi Aira melarang, Aira mau masalahnya tidak usah diperpanjang" ucap Alex.
Raka melongo, kagum.
Aira wanita yang baik pikirnya.
"Cuma sampai disitu saja? Ck..ck..Aira memang baik" ucap Raka.
"Ya, dia baik"
"Em, bapak mau saya yang bereskan?" tawar Raka.
"Yah hitung-hitung permintaan maaf saya"
Alex menatap Raka, bisakah pria itu diandalkan?.
Beralih pada Aira, wanita itu tetap nekat untuk bolos. Tidak perduli mau Alex marah, Aira cuma mau menyendiri, ia tidak bisa fokus pada mata kuliahnya.
Ia sekarang berada di sebuah cafe, menyeruput segelas minuman dingin yang dipesannya tadi. Matanya menghadap kearah jalanan.
"Apa gue bakal terus gini?"
"Sendirian, gak punya temen ngobrol" gumam Aira.
Huft..Kehidupan itu memang sulit ditebak, Aira dulu tidak percaya dengan orang-orang yang bilang kalau musuh terbesar itu hadir dari orang yang paling dekat dengan kita.
Buktinya sekarang Mira menjadi musuhnya.
Aira menutup wajah menggunakan kedua tangannya. Ia jadi emosional.
"Brengsek banget sih!" Isaknya.
"Coba gue gak sama pak Alex, mungkin Mira tetap disini sama gue"
Aira menghapus air matanya.
"Gu-gue kenapa sih? Kenapa nyalahin pak Alex?" tanya Aira pada dirinya sendiri.
"Gak, gak boleh Ra, pak Alex itu suami lo, lo bersyukur dia jadi kekuatan buat lo"
Aira mengipas-ngipas tangannya.
Ia tidak boleh menyesali pernikahannya, Alex sangat berjasa padanya, pria itu selalu ada untuk Aira, tidak pernah mengeluh seperti dirinya.
Ia berusaha meyakinkan diri sendiri, walaupun sulit, beginilah jalan yang dibuat tuhan untuknya.
Aira tidak menghiraukan pengunjung-pengunjung cafe yang memperhatikannya. Mereka pikir Aira hanya anak muda yang tengah putus cinta.
__ADS_1
"Hiks..Kenapa gini sih" isak Aira.
"Udah dek, cowok bisa dicari lagi,gak usah ditangisin" ucap salah satu wanita yang kebetulan mejanya bersebarangan dengan Aira.
Aira mengusap air matanya.
"Apasih mbak? Saya udah punya suami" ucap Aira.
Wanita itu menutup mulutnya kaget, lalu berbisik dengan sahabatnya.
'Duh Aira, ngapain nangis-nangis disini, di kira putus cinta kan'
'Pulang ajalah'
Aira berbenah dan pergi keluar cafe.
Didepan cafe ia berhenti melihat sekitar, langit cerah dan angin sepoi-sepoi menerpanya.
Dreeet Dreeet..
"Halo?"
"Nanti keruangan saya"
'Loh?!pak Alex?!'
Aira mengecek nama si penelpon, dan benar itu Alex. Ia tadi tidak begitu memperhatikan siapa yang menelponnya.
"Ke-keruangan mas?" Aira gelagapan.
"Hum"
Aira merutuki kebodohannya, bagaimana mau kembali kekampus? Mata kuliah pak ramto masih berlangsung kalau dia sampai kepergok bolos, bisa habis.
Aira mengigit bibir bawah bingung.
"Ee-ee anu pak-eh mas"
"Sa-saya lagi gak dikampus" ucap Aira diakhiri kekehan kecil.
"Bagus Aira, bagus, lanjutkan saya bangga sama kamu"
"Iya bakal saya lanjutkan kok, mas tenang aja" ucap Aira percaya diri
"Iya lanjutkan, tapi hari berikutnya bolos sama saya diatas ranjang"
Glek!
Aira menelan saliva.
'Mati gue!'
"Enggak, ini yang terakhir, sumpah mas" ucap Aira panik.
Kacau kalau sampai Alex serius dengan ucapannya.
"Oh ini yang terakhir? kalau gitu tunggu saya dirumah ya" ucap Alex dengan nada merayu.
"E-eh Mas?!"
Terlambat, Alex sudah mematikan panggilannya.
"Aduh..Mati gue"
Aira mengigit kukunya cemas, tubuhnya jadi merinding.
"Pulang, enggak, pulang, enggak" ia menimang-nimang keputusannya.
"Fiks, pulang...Pulang kerumah Mama aja"
Aira hendak berjalan tapi tidak jadi.
"Jangan deh, nanti pak Alex nyusul"
Ia berpikir keras, kerumah siapa ia akan kabur.
"Yaallah Aira bego, kartu pak Alex kan sama gue"
Senyuman licik terulas di bibirnya.
__ADS_1
"Sip, bobo dihotel!" ucapnya mantap.