Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-109


__ADS_3

"Mas harus janji sama aku, jangan pandang aku menyedihkan cuma karena mas pikir aku gak bahagia, gak butuh jalan kesana kesini, liburan jauh-jauh buat nyenengin aku, asalkan mas selalu ada disamping aku, jaga aku dan anak kita, jadi papa yang sigap, bantuin aku ini itu, udah jadi hal yang paling membahagia kan buat aku"


"Mas itu calon papa terbaik!" ucap Aira.


Alex terharu dengan perkataan Aira, matanya berkaca-kaca.


Aira menatapnya dalam sambil tersenyum lembut.


"Jangan sedih ah, papanya baby masa cengeng"


"Makasih sayang" ucap Alex.


"Hum..Liat kedepan gih, kalau nabrak gak keren banget" kekeh Aira.


Ia mengalihkan pandangannya ke depan jalan, Alex malu kalau menangis didepan istrinya.


Alex tersenyum.


Dalam hatinya ingin meledak, Aira yang dulu ia pikir akan menjadi bocah nakal dan tidak menurut dan terus memancing emosinya, tapi malah menjadi istri yang baik, bahkan bisa berbicara serius dan memberinya semangat.


Aira merangkul lengan Alex sembari tersenyum.


"Gak nyangka ya mas, kita bakal kayak gini" gumam Aira.


"?"


"Aku dijodohin sama mas, padahal dulu masih pengen main sama temen-temen, malah disuruh ngurus suami, mana suaminya dosen sendiri"


"Kaget banget kamu waktu itu?"


"Iya kaget, sampai lamaran pun aku masih gak nyangka, aku mohon sama Mama supaya gak nikah, aku beranggapan mas itu dingin plus nyeremin sama kayak dikampus"


"Aku juga belum kepikiran buat begitu-begituan" lanjutnya.


"Begitu-begituan gimana?"


"Yaa itu loh, berhubungan" ucapnya.


"Oh haha"


"Aku takut, ditambah aku masih mau jadi anak gadis" ucap Aira.


"Mas tau, aku sempet mikir "apa aku minta cerai aja ya sama mas" gitu"


"Serius itu Ra?"


Aira mengangguk.


"Tapi gak jadi, setelah aku pikir-pikir, kapan lagi bisa punya suami ganteng blasteran lagi, ditambah mas, tinggi terus putih, idaman aku" ucap Aira terang-terangan.


Alex terkekeh.


"Masa iya? Kenapa kamu gak mau mas deket-deket pas baru nikah?" tanya Alex.


"Gimana ya, masih canggung, ditambah hati aku suka sama yang lain" ucap Aira.


"Oh yang kamu pacaran sama Gilan dibelakang mas"


Aira mendengus.


"Enggak pacaran, cuma deket doang"


"Hum"


"Eh mas, tiba-tiba aku penasaran, sakit hati banget ya waktu liat aku sama Gilan?"


Alex mengangguk.


"Mas rasanya pengen hantam wajahnya, tapi masih mas tahan, mas mau liat sampai mana kamu sama dia, dan pas liat dia ngungkapin perasaan, kamu nutup-nutupin dari mas, mas marah banget, mas seperti gak kamu anggap, padahal mas yakin kamu bisa berubah, nerima mas"


Mata Aira berkaca-kaca, ia jahat sekali, tidak memikirkan sakit hati Alex dulu.

__ADS_1


"Maaf" ucap Aira.


"Yang lalu biarlah berlalu, sekarang kamu udah jadi milik mas, itu yang terpenting"


Aira tersenyum malu, sambil memukul-mukul lengan Alex.


"Dia apa kabar ya Ra? Kamu gak ketemu dia?" tanya Alex.


"Entahlah, aku gak ketemu dia sama sekali" ucap Aira.


"Dia gak samperin kamu pas tau hubungan kita udah go publik?"


Aira baru terpikirkan soal Gilan, apa kabar pria itu? Gilan menghilang seperti ditelan bumi, Padahal mereka satu fakultas, Aira tidak pernah bertemu ataupun berpapasan dengannya lagi setelah Aira menolak pernyataan cinta Gilan.


'Apa coba tanya Nana ya? Kak Gilan ngilang gitu aja, gue takut dia bunuh diri gara-gara gak jadi pacar gue'


"Gak, sama sekali, kayaknya dia gak perduli deh mas" ucap Aira.


"Kamu harus minta maaf Ra dan jelasin ke dia, dimaafin atau gak, yang penting kamu udah bicara apa adanya" ucap Alex tiba-tiba.


"Minta maaf?"


"Hum, mas gak bisa salahin dia soal pernyataan cintanya, karena yang dia tau kamu 'single', namanya anak muda kalau ketemu orang yang dia suka pasti gitu"


"Dia cuma orang yang kamu tipu Ra, kamu sama mas yang salah, karena mas yang terlalu terbawa emosi, dan kamu yang menutup-nutupi hubungan kita"


Aira menunduk, ya dia menipu Gilan.


"Coba kamu bayangin, cinta ditolak mentah-mentah,  tiba-tiba orang yang disuka udah berumah tangga, Gilan pasti terpuruk, makanya gak mau ketemu kamu"


"Aku gak kepikiran mas" ucap Aira pelan.


"Dia berhak untuk mendengar permintaan maaf dari kamu langsung Ra" ucap Alex.


Aira mengigit bibir bawahnya, Alex benar, tidak sepenuhnya semua itu salah Gilan.


"Dia mandang aku perempuan rendah pasti" gumam Aira.


'Bahkan pak Alex mengakui, seburuk itu gue dulu, dan sekarang gue gak perduliin Kak Gilan'


"Mas gak jijik sama aku?"


"Ngarang kamu, mana mungkin mas jijik sama istri mas sendiri"


"Tapi mas, dia pasti benci liat aku"


"Mas yakin dia maafin kamu, dia orang yang bijaksana Ra, kalau gak, mana mungkin jadi presiden Mahasiswa"


'Ah iya'


"Udah yuk, kita turun" seru Alex.


Aira duduk tegak, matanya mengerjap melihat kesekitar, mereka sudah berada diparkiran mall.


"Loh udah sampai?" tanya Aira kebingungan.


Alex terkekeh, ia melepas sabuk pengamannya.


"Udah, gara-gara bahas mantan kamu, jadi gak sadar ya" ucap Alex.


"Ish bukan mantan"


'Aih keasikkan ngobrol sampai gak sadar udah di mall'


Keduanya turun dari mobil, Alex menghampiri Aira lalu menggenggam tangannya.


Aira menatap tangannya yang digenggam Alex.


'Tangan pak Alex selalu hangat'


"Kenapa gak dari dulu aku genggam tangan mas" ucap Aira.

__ADS_1


Alex mengacak-acak rambut Aira.


"Ssttt, kita udah sampai waktunya seneng-seneng dan tangan ini.."


Alex mengangkat tangan mereka yang saling bertautan.


"Tangan ini boleh kamu genggam selamanya"


Blush~


Pipi Aira memerah.


"Ayo masuk, jangan ubah pikiran mas buat pindah lokasi" ucap Alex.


"Kemana?"


Alex tersenyum lebar.


"Hotel haha" kekehnya.


Aira yang serius, malah tertawa geli dibuatnya.


"Dasar cabul"


"Dosa kamu dari tadi ngatain cabul sama suami" ucap Alex.


"Iya-iya maaf suamiku yang ganteng"


Aira mengelus pipi Alex.


Keduanya menghabiskan waktu didalam mall.


"Kayaknya mas salah bawa kamu jalan kesini"


Alex meratapi penyesalannya. Aira membawa-ah lebih tepatnya memaksa Alex untuk menaiki permainan yang dimainkan 'anak-anak'.


"Mass masuk ituuu" rengek Aira sambil menunjuk tempat mandi bola dan beberapa permainan dalam satu ruangan yang ditutupi jaring-jaring.


(Author gak tau apa itu tempatnya wkwk)


"Tapi itu buat anak-anak Aira" ucap Alex pelan.


"Itu buat orang dewasa juga, iya kan pak?" Aira bertanya pada pria penjaga yang ada didekat mereka.


"Iya mbak"


"Tuh kan katanya iya"


"Sayang.."


"Mass"


Alex menggaruk belakang lehernya bingung. Aira tetap kekeh, ia merengek sambil menarik tangan Alex.


'Aira kamu gak ngertiin malunya aku' ucap Alex dalam hati.


Orang-orang disekitar memperhatikan mereka dan beberapa ibu-ibu yang menemani anaknya bermain tertawa melihat Alex.


"Mas ayo masuk kesituuu"


"Kamu gak malu?"


"Apanya yang malu? Ini baby yang mau, katanya selalu ada buat aku"


Oh Aira mulai mengungkit ucapan Alex yang tadi.


Alex menghela nafas, ia kalah dari Aira yang pandai mengungkit.


"Yaudah ayo" pasrah Alex.


"Yeay!"

__ADS_1


Aira berputar girang.


__ADS_2