
Aira menghirup nafas dalam-dalam lalu menyentuh dadanya. Ia akan mengatakan pada Alex tentang Raka yang mengatainya.
Ia sudah selesai mandi, Aira menghampiri Alex yang masih duduk diruang tamu sembari menonton televisi.
"Sudah?"
Aira mengangguk.
Alex mengubah duduk menghadap Aira, satu kakinya naik keatas sofa.
"Mau ngomong apa?"
Mata Aira bergerak kekanan kiri, tiba-tiba ia ragu mengatakannya, ia takut Alex naik pitam dan berbuat hal fatal.
Melihat tingkah Aira yang gugup, tangan Alex mengelus kepalanya.
"Kalau mau bicara serius, pastikan kamu siap" ucap Alex.
"Pak..Ini soal pak Raka" cicit Aira.
Kedua alis Alex naik.
"Raka?"
Alex menatap Aira, memang ia tau dari hari pertama Raka masuk, istrinya menanyainya tentang pria itu.
"I-iya pak"
Melihat wajah ketakutan Aira, pikiran Alex menjadi negatif, ia berpikir istrinya ada hubungan special dengan Dosen baru.
"Kamu suka dia?" celetuk Alex.
Aira menggeleng cepat membuat Alex lega, berarti istrinya tidak selingkuh.
"Dia..waktu party saya gak sengaja ketemu dia, saya baru toilet tiba-tiba dia tarik tangan saya pak, dia juga sering natap saya sambil senyum saya takut.."
Aira menunduk tidak berani menatap Alex, tentu dia akan dimarahi juga, masalah seperti ini seharusnya dari awal diceritakan tapi Aira malah memberitau suamimya sekarang.
Alex mengepal tangannya.
"Sa-saya gak berani bilang karena bapak udah marah kesaya soal Gilan.."
"Kamu tau kan tugas suami itu apa?" Suara Alex meninggi.
"Saya salah, maaf" ucap Aira gemetar.
Alex menghela nafas kasar, ia memeluk tubuh Aira.
"Apa lagi yang dia lakukan?"
Aira bisa merasakan jantung Alex berdetak kencang. Ia meneguk saliva mengingat ucapan kasar Raka yang merendahkannya.
"Saya gak nyangka, kamu yang cantik begini jadi simpanan Dosen"
"Setau saya Alex itu sudah menikah, bahkan baruu"
"Kamu sudah berani melangkah dan menggoda dia"
"Ck..ck..Sayang sekali"
Aira mencoba tetap menahan diri.
"Sudah selesai pak? Saya permisi"
"Saya bisa bayar kamu lebih mahal kalau mau jadi simpanan saya juga"
"Lalu wanita seperti apa? Wanita seperti apa yang setiap saat menemui Dosennnya lalu makan bersama didalam ruangan itu juga"
Tak terasa air matanya menetes, kenapa baru sekarang, saat dipeluk Aira merasakan sakitnya dianggap wanita murahan.
Alex melepas pelukannya, ia kaget melihat Aira menangis.
__ADS_1
"Dia lakuin apa Aira?!" bentak Alex.
Istrinya sampai menangis, itu berarti Raka sudah bertindak jauh. Alex mencengkram kuat lengan Aira.
"Bilang!"
Aira tambah menangis.
"Dia bilang saya wanita gak benar..Murahan..bahkan minta saya jadi simpanan ya-"
"Sialan" umpat Alex.
wajahnya berubah, rahangnya mengeras menahan emosi. Alex kecewa, marah bercampur aduk, istrinya benar-benar menyimpan semua itu sendiri.
"Kamu tunggu disini" suara Alex terdengar berat.
Pria itu menahan emosinya.
Aira panik, apakah yang ia khawatirkan akan terjadi. Aira menahan lengan Alex saat pria itu hendak bangkit.
Ia tidak mau Alex kenapa-napa.
"Pak...Saya gakpapa, yang penting saya udah cerita kebapak" ucap Aira sesegukan.
Alex menghempas tangan Aira, wajahnya dingin, ini bukan Alex suaminya, ini adalah Alex, pria yang pertama kali ditemuinya.
Aira meraih lagi tangan Alex, tangannya gemetar
"Pak..Udah saya gakpapa..Jangan keluar" ucap Aira.
Alex mengabaikannya, pria itu mengambil kunci mobilnya lalu pergi meninggalkan Aira yang menangis sesegukan.
Tubuh Aira dingin, ia ketakutan, Alex pasti marah besar. Aira keluar rumah mencoba mencegah Alex, bahaya jika mengemudi dalam keadaan emosi.
"Pak.." panggilnya.
Alex terus berjalan naik kedalam mobil, ia merasa tidak berguna sebagai suami karena tidak bisa melindungi istrinya.
Apapun alasan Aira, Alex tetap kecewa.
Mobil Alex melaju, Aira semakin takut. Ia masuk kembali kerumah mengambil handphonenya dan jaket, Aira berniat mengejar Alex, mobil pria itu masih kelihatan diujung jalan.
Ia keluar dari halaman, bediri disana kebingungan, ia harus naik apa supaya bisa mengejar Alex sebelum pria itu semakin jauh.
Aira menegok kekanannya, ada sebuah mobil melintas, tanpa pikir panjang Aira memajukan ibu jarinya untuk meminta bantuan.
Orang didalam mobil itu keluar.
"Ma-mas saya boleh minta tolong, kejar mobil suami saya" ucap Aira.
Pria itu memberi izin keAira, ia menambah kecepatan agar bisa mengikuti mobil Alex.
'YaAllah pak Alex..Jangan sampai kenapa-napa'
Pria itu memberi Aira sebuah tisu.
"Makasih mas"
"Mobil suami mbak terlalu ngebut, tapi saya usahakan terkejar" ucap si pria.
Jantung Aira berdetak kencang, beruntung ada pria baik yang mau menolongnya.
Aira melihat mobil Alex berhenti disebuah cafe, pria itu turun dari mobil sambil menempelkan handphone ditelinga, Aira yakin Alex pasti menelfon Raka.
Aira menggigit bibir khawatir, ia memutuskan tetap duduk didalam mobil memantau keadaan suaminya.
Dan kalian tau? Selang beberapa menit Raka datang. Jantung Aira seakan mencelos keluar.
Ia melepas sabuk pengaman, ingin menghampiri kedua pria itu tapi tangannya ditahan.
"Mbak, tahan dulu..Kita lihat dari sini" ucap si pria.
__ADS_1
Aira menengok kearah cafe lalu mengurungkan niatnya.
"Semoga gak terjadi apa-apa" gumam Aira.
Pria itu melihat Aira yang gemetar merasa iba, dia ingin tau ada masalah apa tapi itu bukan urusannya yang tidak pantas dicampuri.
Disisi Alex, pria itu berusaha tetap tenang saat melihat kedatangan Raka. Raka yang tidak tau ingin dihajar malah tersenyum pada Alex.
Tangan Alex sudah gatal ingin memukul wajah yang berlagak tak berdosa itu.
"Ada apa pak? Sore-sore ngajak ketemu" ucap Raka menarik kursi didepan Alex.
"Saya langsung saja, apa yang anda ucapkan pada Mahasiswi saya" ucap Alex dingin.
Raka malah terkekeh, mendengar Alex mengucap 'Mahasiswi saya'.
"Mengadu ternyata..." ucap Pria itu santai.
"Kenapa bapak sangat perduli? bukannya dia Mahasiswi biasa? Ah..Atau dia..Ya yaa saya tau anak itu banyak berdekatan dengan laki-laki..jadi mungkin bapak Alex salah satunya.."
Alex mengepal kedua tangannya.
"Ssshh..Bagaimana ya pak, saya cuma bertanya ke Aira..Tapi dia malah menawarkan diri kesaya supaya saya tidak melapor kedekan"
Jawaban yang membuat Alex cukup geram, berani sekali Raka mengatakan kebohongan didepan Alex.
Greb!
Alex menarik kerah baju Raka, ia tidak tahan dengan ucapan pria itu.
"Brengsek!" Bentak Alex.
"Anda ini seorang dosen, seharusnya bisa menjaga bicara anda"
"Apa anda tidak tau hukum dan tata krama?"
Urat-urat leher alex terlihat jelas karena sedang marah.
"Wah, bapak sampai bertindak seperti ini demi Mahasiswa itu" ucap Raka.
"Dia istri saya"
Mata Raka membulat kaget.
"Orang yang anda bilang murahan adalah istri saya..Karena istri saya tidak ingin saya menghabisi anda, jadi saya menahan diri"
"Tapi..Sekali lagi anda berbicara buruk tentang dia, saya tidak akan ragu menghabisi anda ditempat" ucap Alex dingin.
Ia mendorong tubuh Raka hingga duduk kembali lalu pergi. Raka tak habis pikir, Aira adalah istri Alex, apa ia tidak salah dengar?, ini sebuah fakta yang mengejutkan.
Aira yang melihat dari kejauhan, sudah kalang kabut takut terjadi kegaduhan, dengan buru-buru ia menghampiri Alex yang keluar dari cafe.
Alex tersentak karena kedatangan Aira dari sebuah mobil hitam asing.
"Pak..Saya salah..Tahan emosi bapak.." ucap Aira.
Alex membisu, ia melihat seorang pria turun dari mobil yang sama dengan Aira.
Tatapan dingin Alex membuat Aira tersadar, kalau suaminya tidak menyukai kehadiran pria yang menolongnya.
"Di-dia yang bantu saya kesini" ucap Aira ragu.
"Mas makasih banyak ya maaf merepotkan" ucap Aira pada pria itu.
"Ayo pulang"
Alex tiba-tiba menarik tangan Aira lalu mendorongnya masuk kedalam mobil.
"Terimakasih jangan temui istri saya lagi" ucap Alex dingin.
Si pria terdiam kikuk.
__ADS_1
MOHON KOREKSI JUGA YAA