Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-76


__ADS_3

Hayo pada baca tapi pelit jempol nih😤Ayo like atau author ngambek😤


Aira duduk dicafe seorang diri, ia berdecap sebal, menatap pantulan dirinya dari kamera handphone. Bibir yang memerah sesekali ia usap, Alex tadi mengigit kuat bibirnya hingga luka.


Salahnya sendiri mengulah didepan suami, bibirnya menjadi sasaran empuk.


"Ck..perih banget"


"Bisa-bisanya gue lupa pintu mobil masih dikunci" gerutunya.


"Aira lo kenapa?" tanya Nana yang baru saja tiba dicafe.


Teman yang Aira maksud adalah Nana, mereka berdua janjian untuk bertemu di cafe dekat kampus.


Entahnya mereka menjadi dekat.


Aira tersenyum.


"E-enggak kenapa-napa"


"Terus kenapa bibir lo merah gitu?"


Nana menunjuk sudut bibir Aira.


"Gara-gara pak Alex"


"Em ini pas gue turun dari mobil dan gak hati-hatGarai, jadi terantuk" ucapnya.


Nana mengangguk paham.


"Oiya, sorry udah bikin lo nunggu lama" ucap Nana.


"Gapapa, gue kebetulan ada kelas siang ini kok"


"Ooh..By the way, soal Gilan gue-"


"Udah, namanya lo cinta sama dia, gue gak bisa marahlah, lagian gue sama dia udah gak ada apa-apa" potong Aira.


"Iya Ra, tapi gue yakin dia gak akan bisa move on dari lo"


Aira diam.


"Kenapa gak lo jadiin pacar sementara aja? Lo masih sendiri kan?" tanya Nana.


Sendiri? Oh tidak dia sudah berkeluarga dan punya suami lucu. Aira mengangguk kikuk.


"Gue udah ikhlas kok Ra" lanjutnya.


Flasback on.


Nana berjalan dikoridor kampus menuju ruangan Gilan, ia tersenyum lebar sembari membawa kotak berisi capcake warna-warni.


Ia pikir ini bisa untuk menyenangkan Sang kekasih.


Nana sampai didepan ruangan itu, tangannya bergerak menyentuh knop pintu.


"Gue pengen putusin Nana"


Mata Nana membulat, tanganya yang hendak membuka pintu tertahan.


"Lo yakin? Ini baru sebentar, lo gak bisa mancing Aira buat mau nerima lo kalau gini"


Nana yakin itu suara Radit dan Gilan. Tapi kenapa? Bukankah Gilan sudah mengaku tidak bisa berpisah dengannya.


Lalu apa ini? Pria itu bilang ingin putus?. Hati Nana terasa sakit dan sesak, matanya berkaca-kaca.


"Gue gak ada rasa sama Nana, walaupun dia cuma jadi umpan buat narik Aira, tapi gue gak bisa jalanin hubungan ini"


Mata Nana memanas mendengar kata umpan. Tubuhnya bergetar, hingga capcake ditangannya jatuh kelantai.


"Brengsek!" umpat Nana.


Gilan dan Radit serentak menoleh kearah pintu, betpa terkejutnya mereka melihat sosok Nana disana.


"Nana?!"


"Lo brengsek Gilan!" Teriak Nana lalu berlari menjauh.

__ADS_1


Gilan menatap Radit.


"Gara-gara lo dit" ucap Gilan geram.


Radit terdiam, Gilan segera menyusul gadis itu.


"Na dengerin gue dulu" Gilan berhasil menarik tangan Nana.


Nana menepisnya.


"Apalagi? Udah jelas banget Gilan.." ucap Nana.


Gilan terdiam, ini salahnya, ini kecerobohannya.


"Lo kalau emang gak cinta gue jangan sakiti gue" lanjutnya.


"Na..Gue gak bermaksud bikin lo gini-"


"lo tega nyakitin gue demi kebahagian lo sendiri, lo bukan manusia, lo bajingan, percuma posisi lo tinggi, dihormati seluruh Mahasiswa tapi lo sendiri gak bisa menghormati perempuan" ucap Nana.


Gilan benar-benar membeku, ia tidak bisa melawan ataupun menyela ucapan Nana.


Nana pergi ketoilet wanita, ia menangis sejadi-jadinya, dadanya sesak. Gilan sangat tega mempermainkannya.


"Apa kurangnya gue..hiks?"


Nana teringat akan Aira, ia sadar, selama ini bukan Aira yang salah, melainkan Gilan, Aira sama sekali tidak pernah berniat mengambil Gilan darinya.


"Gue salah hiks..Aira maafin gue" isaknya.


Flasback off..


"Na, denger..Gue udah gak ada rasa, dia bukan cowok yang gentle buat gue, buktinya waktu masalah dikantin? Dia diem aja kan?"


Nana mengangguk, memang waktu itu Gilan hanya mengancamnya saja.


"Uhm..Ya.."


"Kalian juga bentar lagi wisuda, nanti Gilan pasti bisa lupain gue" ucap Aira.


"Temen-temen lo mana?"


"Mereka gak ikut, padahal gue suruh minta maaf sama lo"


Aira kerkikik.


"Takut gue ajak baku hantam kali" celetuknya.


Nana ikut tertawa.


"Oiya Ra, sahabat lo yang mulutnya pedes sebelas dua belas sama lampir itu mana? Biasanya berdua mulu kayak truk gandeng" tanya Nana.


Aira bingung harus menjawab apa, memang sangat kontras sekali ketidak adaan Mira didekatnya. Semua orang tau mereka selalu berdua dari awal menjadi maba.


"Kalian ada masalah?" tanya Nana.


Aira menutupinya dengan menggeleng. Ia tidak bisa langsung percaya pada Nana walaupun gadis itu sudah meminta maaf dan mau menjadi temannya.


"Terus?"


"Dia tadi bilang mau duluan, ada urusan" elak Aira.


Nana ber-oh ria.


"Kalau diliat-liat lo sekarang tambah chubby ya Ra, perasaan kemarin masih kurus" ucap Nana.


"Gue? Gemuk-kan ya?"


Nana mengangguk.


Aira mengerutkan dahi.


'Gue makan kayak biasa, masa gemukkan sih? Kan gak pernah begadang kecuali..Ah itulah'


"Seriusan gue gemukan?" tanya Aira lagi.


"Iya Aira, masa gue bohong, makin chubby tuh pipi lo..Cantik lagi" puji Nana.

__ADS_1


"Ah lo bisa aja, gue emang cantik dari dulu"


Nana mencebik.


"Tenang masih cantikan gue kok Ra, hahaha"


"Sialan"


Satu jam lebih mereka bersama, Aira berpamitan untuk pergi kekampus karena setengah jam lagi kelasnya dimulai, tapi Nana menawarkan diri agar mengantar Aira sampai kampus dengan mobilnya.


"Makasih Ya Na, maaf ngerepotin" ucap Aira turun dari mobil.


Nana tersenyum.


"Anggap ini balas budi gue Ra, gue cabut ya" ucap Nana.


Aira mengangguk, ia menunggu sampai mobil Nana benar-benar menjauh dari hadapannya.


"Makasih Na, gue punya temen ngobrol lagi" gumam Aira.


Baru satu langkah, handphonennya berdering. Ternyata panggilan dari Alex.


"Halo?"


"Assalamuallaikum" ucap Alex.


"Eh waalaikumsalam"


"Kamu sudah dikampus?"


"Hum, ini mau kekelas"


"Nanti pulang langsung telfon saya, paham?"


Aira berdehem, Alex posesif sekali hari ini.


"Yasudah selamat belajar istriku"


Aira menatap geli layar handphonenya.


"Iya-iya, titip rumah" ucap Aira.


Panggilan diakhiri, ia masuk kedalam kampus menuju kelasnya. Kelas Aira sudah ramai, dan yang paling menarik perhatian adalah kehadiran Mira, ya akhirnya wanita itu muncul juga.


Aira mencoba tenang, ia duduk ditempat biasa, sedangkan Mira berpindah kebelakang.


Dari awal kelas dimulai sampai akhir, Mira tidak menghampirinya dan meminta maaf. Aira ikut diam.


'Jangan sampai lo yang ngemis Ra' ucapnya dalam hati.


Kelas telah usai, Aira membenahi barang-barangnya, tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya.


Jujur Aira tersentak, ia pikir itu Mira.


"Aira Alkeyna" panggil Sekar.


"Astaga lo kar, nganggetin gue" ucap Aira.


"Maaf-maaf, Gue cuma nanya, lo udah punya kelompok? Kalau belum satu kelompok sama gue aja ya?"


Sebelum menerima tawaran baik sekar, Aira melirik pada Mira, mata mereka bertemu.


"Oke, boleh" ucap Aira menatap kembali Sekar.


"Yes! Gue punya temen, yaudah besok mau mulai kerjain dimana?"


"Terserah, chat aja gue" ucap Aira.


Sekar mengangguk.


Aira melirik lagi Mira, gadis itu tengah berbicara dengan Mahasiswi lain, mungkin menawarkan untuk masuk ke kelompoknya.


"Sekar gue duluan ya" pamit Aira.


"Loh gak bareng Mira?"


Suara sekar cukup kuat, hingga membuat Mira menatap mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2