
Maap telat up ≧∇≦ waktu dan tempat dipersilahkan menyantet author..
candaa:v
Untuk bikin part" kayak gini author sampai liat artikel tentang bumil dan halo dok wkwk, nekat sih aku ya tapi gakpapa demi sebuah karya akan aku lakukan apapun.
Maaf kalo ada salah dan kekurangannya..karena author belum menikah jadi belum merasakannya dan agak sulit mendeskripsikan secara rinci.
oke happy reading guysO(≧▽≦)O
Alex bangun lebih dulu, ia keluar dari kamar mandi dengan berbalit handuk di pinggang dan satu handuk kecil ia pakai untuk mengusap rambutnya.
Alex mendekati Aira yang masih tertidur lelap, ia tersenyum sembari memandang wajah Aira, lalu menaikkan selimut menutup tubuh Aira.
Wajah wanita itu semakin chubby, Alex heran kenapa Aira tidak percaya diri dengan keadaan fisiknya yang sekarang.
Alex segera berpakaian dan turun ke bawah. Ini masih jam enam pagi, kedua Mertuanya sudah sibuk, Iren didapur bersama dua pembantu untuk menyiapkan makanan.
"Ma, Alex bantu ya?" tawar Alex ketika memasuki dapur.
Iren menengok kearahnya.
"Aduh..Jangan nak, kamu duduk aja biar bibi siapin sarapan" ucap Iren.
"Alex sarapannya bareng Aira aja Ma"
"Boleh Ma?" lanjut Alex.
Iren menghela nafas lalu tersenyum.
"Oke deh..Kamu bantu papa diruang tamu ya" ucap Iren.
Alex mengangguk.
"Mama bikinin kopi ya" ucap Iren.
"Iya Ma"
Mertuanya sangat antusias menyambut keluarga mereka yang lama tidak berjumpa, Alex bisa merasakannya.
Ia menghampiri Adrian diruang tamu, pria itu sedang memasang huruf-huruf didinding.
"Pagi pa" sapa Alex.
"Eh pagi Lex.."
Alex mendekat, ia mengambil beberapa huruf untuk ikut membantu. Adrian tersenyum padanya.
"Kamu tau Lex, papa senang banget" ucapnya.
Alex tersenyum.
"Kemarin papa kepikiran..cucu papa udah sebesar apa ya? Wajahnya gimana..Kangen gak sama kakeknya, papa ingin liat muka" ucap Adrian.
"Alhamdulilah hari ini kesampaian ya pa" ucap Alex.
"Hum, alhamdulilah..Ditambah cucu baru bentar lagi muncul.." ucap Adrian menjahili Alex.
"Doakan semua lancar pa" ucapnya.
"Ooo iya jelas! Papa berdoa setiap hari semoga persalinan Aira lancar dan cucu papa lahir dengan selama" ucap Adrian penuh harapan.
"Amiin pa"
Usai sudah memasang huruf-huruf di dinding, dan memasang tumblr. Mereka berdua duduk disofa.
Adrian menghela nafas.
"Kamu nervous gak Lex?" tanya Adrian.
Alex tersenyum kaku.
"Lumayan pa"
Adrian tertawa kecil.
__ADS_1
"Haha, papa juga waktu hari H persalinan Mama mertua kamu, jantungnya ser ser-an, rasanya seperti papa yang mau lahiran, liat mama nahan sakit, papa jongkok sambil nangis hampir pingsan, sampai-sampai ditenangin sama susternya"
Alex tertawa mendengarnya.
"Mama mertua kamu juga marah ke papa, "papa ini gimana! Yang ngelahirin mama kenapa papa yang pingsan" begitu"
"Alex mungkin begitu juga nanti pa" ucap Alex.
"Haha benar, tapi papa langsung sadar Karena ditegur dokternya, kalo papa terus-terus nangis dan gelisah gak karuan, mama bisa tambah takut dan gak konsentrasi, dari situ papa langsung "oh iya bener, aku gak boleh begini, istri sedang berjuang, dia yang bertaruh nyawa" "
Alex mendengarkan cerita dari papa mertuanya dengan seksama. Cukup lama mereka berbincang, berbagi pengalaman.
"Jadi lex intinya, kita boleh sedih, tapi jangan sampai dilihat sama istri kita yang lagi berjuang menantang maut, kamu cukup genggam tangannya, jadikan tubuh kamu sebagai benteng pertahanannya dan dukung dia" ucap Adrian.
"Kita kepala keluarga, istri bergantung pada kita, kalo suaminya goyah gimana istrinya bisa bertahan.."
Alex mengangguk, ia tidak bisa berbicara karena jantungnya berdetak cepat.
"Tinggal hitungan hari lex..papa tau pasti sudah banyak yang kasih kamu dukungan, semangat Lex! Pp berharap penuh sama kamu " Adrian menepuk pundak Alex sembari tersenyum.
Alex tersenyum balik, tersentuh dengan ucapan mertuanya.
"Ngomong-ngomong maaf papa banyak ngomongnya haha"
"Gakpapa pa, Alex kan anak papa sekarang"
Adrian tertawa.
"Hei bahas apa sih bapak-bapak ini?"
Ucap Iren tiba-tiba muncul dengan nampan ditangannya.
"Hem..Urusan laki-laki" ucap Adrian santai.
"Ooo gitu..ini Mama bawakan kopi biar tambah mantap ngobrolnya" ucap Iren.
Wanita itu menaruh nampannya berisikan dua cangkir kopi di atas meja.
"Makasih ma"
Alex tersenyum canggung membuat Iren dan Adrian tertawa geli.
"Ma sini ma" panggil Adrian.
Iren mendekat ke suaminya.
"Menantu kita ini memang tidak banyak bicara, dan perawakannya cool ya Ma" ucap Adrian.
Alex melongo.
"Astaga papa.." ucap Alex sambil terkekeh.
Tidak salah lagi sifat Aira menurut dari kedua orangtuanya. Alex harus menghadapi tiga Aira nampaknya.
Iren mengangguk setuju.
"Kata besan kita itu memang daya tariknya Pa hihi.."
Adrian menatap istrinya kaget.
"Apa bener Ma?"
Iren mengangguk.
"Wah..Haha kayak cerita-cerita novel itu mah..apa namanya ya..cold..cold husband! itu dia.." celetuk Adrian.
Iren tertawa puas.
Alex yang malu karena digoda kedua mertuanya pun hanya tersenyum. Hero, ayahnya tidak begitu banyak bicara dan cerewet seperti Adrian, tapi bukan berarti Alex jarang ngobrol, ia justru sering bicara empat mata dengan Hero, pria itu memberinya banyak nasehat dan kedisiplinan.
Berbeda dengan sang ibunda Reva, wanita itu sangat pandai mengoceh dan bergurau.
"Oh iya pa..Ini udah selesai?"
Adrian tersenyum manis pada sang istri.
__ADS_1
"Udah dong ma.."
Menyaksikannya Alex berharap bisa seperti mereka nantinya.
"Oke kita sarapan yuk.." Iren menggandeng tangan Adrian.
"Alex ayo nak" ajaknya.
"Iya Ma, Alex mau bangunin Aira dulu" ucap Alex.
"Bagus-bagus..Kita makan bareng"
Alex melangkah pergi, kaki jenjangnya yang putih menaiki setiap anak tangga sambil menyungging senyuman.
Sampai didepan pintu, dengan pelan ia membuka pintu tersebut. Alex menatap wanita yang masih terlelap berbalut selimut.
Ia mendekat lalu duduk didekatnya, tak lupa tangan Alex membelai wajah sang istri lebih dulu. diselipkannya poni-poni rambut yang panjang kebelakang telinga.
"Aira.." panggilnya.
Dengan hati-hati Alex menggoyangkan lengan Aira untuk membangunkannya.
"Aira bangun..Sarapan dulu"
Tidak ada reaksi, Aira tidur dengan sangat pulas. Melihat itu sebenarnya Alex tidak tega, tapi istrinya butuh asupan gizi dipagi hari untuk sang buah hati.
"Sayang..Kamu harus sarapan.."
"Bangun sayang" ucap Alex.
Suaranya yang lembut dan dalam begitu sopan masuk ketelinga.
Akhirnya Aira bereaksi, wanita itu menggeliat dan melenguh.
"Eungh..."
ia merenggangkan otot lengan dengan mata yang masih tertutup. Alex tersenyum menampakkan sedikit giginya.
"Mas bantu cuci muka Hum?" tawar Alex.
Aira membuka mata lalu mengusapnya pelan.
"Jam berapa ini mas?" tanyanya dengan auara serak khas orang baru bangun tidur.
Alex mengusap lembut wajah Aira.
"Masih jam tujuh kurang.."
"Uhm.."
Alex menatap Aira, wanita itu belum berniat bangun.
"Ayo bangun sayang~" ucap Alex.
"Ngantuk mas..Tadi malam tiba-tiba ngilu pinggang bagian belakang aku" adunya.
Alex menyelipkan tangannya dibawah tubuh Aira agar bisa menyentuh tempat yang disebutkan Aira.
"Sekarang masih sakit?" tanyanya.
Aira menggeleng.
"Udah enggak mas"
Tatapan Alex berubah cemas.
"Gak usah ikut ke bandara ya?" pintanya karena khawatir terjadi sesuatu.
Aira menolak, ia merasa hanya ngilu sebentar saja, tidak ada hal-hal lain.
"Yaudah.." Alex pun tidak bisa menolak keinginan sang istri.
Aira tersenyum lebar.
"Morning kiss" ucap Aira sambil memajukan bibirnya.
__ADS_1