
Maaf author agak lama up, karena dikehidupan real banyak banget kerjaan.
Mira memukul lengan Aira, geram, tidak setia kawan.
"A-aa mas, aku dipukul" adu Aira pada Alex.
Alex memeluknnya sambik mengusap-usap lengan Aira yang dipukul Mira.
"Heh itu gue mukul pelan loh, jangan playing fictim lo!" ucapnya.
"Ssttt, istri saya sensitif, kamu harus maklum" ucap Alex.
Mira mendelik.
"Gila gue lama-lama disini" ucapnya bangkit.
"Ayo pulang!"
Mira menarik tangan Raka dan membawa berjalan keluar.
"Jangan lupa tutup pintu ya" ucap Aira.
Mira berhenti lalu menoleh pada Aira, gadis itu meledeknya.
"Aira, liat aja begitu lahiran abis lo sama gue" ancamnya.
"Mas, liat Mira ngancem akuu" ucapnya pura-pura ketakutan.
"Mira..." tegur Alex.
"Hiiii, Aira Alkeyna nyebelin!"
Blam!
Mira menutup pintu kamar.
'Aira gue gak mau nemenin lo lagi ya! Gak tau apa gue lagi gerogi?! Karena ke gep!'
Raka meletakkan dagunya dipundak Mira.
"Sabar sayang, kita juga bakal gitu nanti"
Pipi Mira merah.
"Jangan aneh-aneh, mau masuk rumah sakit juga kayak si Gilan?!"
Raka mencolek pipi Mira.
"Bercanda-eh tapi beneran kita kan bakal nikah"
"Please masih lama" bantah Mira.
Ia berjalan lebih dulu.
"Yaudah saya nikah sama orang lain aja" ucap Raka.
Mira berhenti, ia menoleh kebelakang, menatap sinis Raka.
Raka menyengir, ia merangkul Mira.
"Saya ada informasi penting, ayo ke mobil" ucapnya.
Mira mendengus.
Dikamar, Alex yang tadinya memeluk Aira, sekarang memilih untuk mandi. Aira cekikikan melihat Mira yang kesal padanya.
"Kasian pasti diledekin pak Raka tuh anak" kekehnya.
Aira duduk bersandar diranjangnya sambil menatap pintu kamar mandi, entahlah ia sangat bosan.
Alex lama sekali keluar dari dalam sana, ia tidak tau kalau Aira ingin bermanja-manja?!.
Cklek..
Aira tersenyum sumringah melihat Alex yang sudah selesai mandi.
"Mas" panggilnya.
Ia merentangkan tangannya, minta dipeluk. Alex tersenyum, ia menghampiri Aira lalu memeluknya.
"Kenapa lagi nih?" tanya Alex.
"Gakpapa, pengen dipeluk~" ucap Aira.
"Kamu udah makan?" tanya Alex.
Aira mengangguk.
"Diambilin Mira tadi"
Syukurlah Mira mengurus Aira dengan baik.
"Bahas apa aja tadi?"
Alex duduk disebelah Aira.
"Urusan perempuan, jadi rahasia"
Alex tertawa, ia mencolek hidung Aira.
__ADS_1
"Yaudah kalau rahasia"
Kalau dilihat-lihat Aira sudah jauh lebih baik, Alex ingin tanya alasannya pergi dan membuang semua orang gelisah.
"Aira"
Aira menatap Alex dengan wajah polosnya.
"Kenapa kamu kemarin pergi gak ngabarin siapapun?" tanya Alex.
Aira menarik nafasnya, ia menggenggam tangan Alex.
"Aku ngomong sama Gilan..Sama kayak yang mas ajarin, aku tau dia kesel mas, tapi rasanya aku jahat banget sampai bikin Gilan berubah..Aku putusin buat nenangin pikiran..Dan cerobohnya aku malah matiin handphone, jadi semua panik...Aku bener-bener nyesel banget, mas sampai berantem sama Gilan, dan Gilan masuk rumah sakit.." jelasnya.
Alex menyentuh pipi Aira.
"Jangan sedih lagi, mas cuma tanya" ucap Alex.
Aira mengangguk.
"Lain kali berpikir sebelum bertindak, mungkin menurut kamu itu hal sepele, tapi bagi orang lain bisa berbeda..Paham?" ucap Alex.
"Iya mas aku salah.."
"Tapi mas bangga sama kamu, kamu udah berani buat bicara sama Gilan, kedepannya jangan dipendam sendiri masalahnya, karena kita bakal hidup bersama"
Alex menasehati Aira, sebagai suami dan orang yang lebih tua darinya.
Aira mengangkat jari kelingkingnya.
"Hum! Aku janji bakal cerita apapun sama mas, gak akan nyimpen rahasia apapun yang bikin mas marah" janjinya.
"Aih lucunya" ucap Alex.
Aira tersenyum lebar hingga menampakkan gigi-giginya.
"Inget kalau udah janji harus di...?"
"Di tepati!" jawab Aira.
Alex tertawa kecil.
"Haha pinter"
Aira yang malu ditertawai pun memeluk Alex dan menyembunyikan wajahnya.
"Kayak anak teka tau!" ucapnya.
"Iya bayinya mas"
"Aaa mas Alex jangan gituuu"
Alex tak henti tertawa, melihat tingkah menggemaskan istrinya.
"Ngomong-ngomong, kamu mau gak jenguk Gilan?" tanya Alex.
Aira duduk tegak, ia mengerjapkan matanya.
"Jenguk Gilan?"
Alex mengangguk.
"Mas serius?" tanyanya tak percaya.
Alex mengangguk lagi.
"Aku mau.."
"Baguslah"
"Ta-tapi mas yakin baik-baik aja?" tanya Aira ragu-ragu.
Alex merapikan rambut Aira.
"Mas salah, mas juga harus minta maaf ke dia"
Aira senang mendengarnya, ia memeluk Alex lagi.
"Hah..Seneng banget dengernya, semoga mas bisa akur sama Gilan" ucapnya.
"Hm"
"Kapan kita kesana?"
"Sore nanti, biar pak Raka kasih tau mas tempat tinggalnya Gilan"
Jika mereka bisa akur, Aira sangaf bahagia mendengarnya. Aira pikir Alex tidak akan mau menjenguk pria itu, namun hatinya tergerak juga.
"Oke, mas mau makan?"
"Uhm.."
"Mau makan apa?" tanya Aira dengan lembut.
"Makan kamu" jawab Alex.
"Ooh tidak bisa" ucap Aira.
Alex terkekeh.
__ADS_1
"Apa aja yang penting buatan kamu" ucapnya.
"Yakin?" ledek Aira.
"Orangnya aja saya suka apalagi masakannya" ucap Alex.
Aira mencubit pipi Alex.
"Mulutnya ini pinter banget kalau gombal" geramnya.
"Supaya istrinya senang"
"Utututu~ yaudah aku mau masak" ucap Aira.
Alex menahan pinggangnya, Aira menatap pria itu.
"Mau apa hm?"
Alex memajukan bibirnya, sambil menggoyang-goyangkan lengannya.
'Astagfirulloh gemes banget, Allahuakbar gak kuat'
"A-apa tuh? Gak paham" ucap Aira pura-pura tidak paham.
Alex mendengus.
"Cium Aira..."
Aira cekikikan.
Ia menarik tengkuk Alex lalu memberikannya sebuah kecupan.
"Lagi~" suara Alex kalau bertinglah imut tiada duanya bagi Aira.
Itu hal yang menjadi kesukaan Aira, dan kelemahannya.
"Please gemes banget!" celetuk Aira.
"Satu kalii lagiii" pinta Alex.
Cup!
Aira menepuk pelan kepala Alex.
"Udah ya sayang, biar cepat masak terus makan" ucap Aira.
Alex mengangguk patuh.
'Kalau gak hamil gue gas aja ini mah'
'Makin lama makin kayak bocah, gemesin'
Aira beranjak turun dari ranjang.
"Besok mau check kerumah sakit" ucapnya.
Alex memasang wajah cemas.
"Kamu kenapa? Sakit perut?" hebohnya.
"Ih bukan!, aku mau check kedokter, takutnya kena diabetes" ucap Aira.
Ah Alex paham, ia malu-malu kucing.
"Diabetes kenapa?" tanyanya.
"Diabetes karena liat pak Raka makin hari makin ganteng" celetuk Aira.
"Hei.." tegur Alex.
Aira tertawa.
"Oh salah..Karena liat suamiku yang gemesin" ucapnya.
Wajah Alex memerah.
"Gak jadi masak?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Jadi dong"
"Sana masak, daripada mas berubah pikiran" ucap Alex.
Aira melipat kedua tanganya didepan dada sembari menatap Alex.
"Berubah pikiran mau ngapain?" tanya Aira menantang.
Alex menyipitkan matanya.
"Kamu semenjak hamil, berani buat nantangin mas ya?Awas kamu nanti" ucap Alex.
Aira yakin pria itu tidak berani menyentuhnya, karena itu dia berani menantang Alex. Kalau bukan karena hamil, mana berani Aira mengambil resikonya.
Aira menjulurkan lidahnya mengejek Alex, lalu melenggang keluar kamar.
"Aira, dua bulan lagi mas balas dendam, inget itu" ucap Alex dari dalam kamar.
Aira menutup mulutnya sambil tertawa puas.
"Dua bulan mah masih lama" sautnya.
__ADS_1
Janji bakal aktif lagi kok