
Mira spontan menganga mendengar perkataan Raka.
"Se-serius?"
Raka mengangguk.
"Haih..Untung gak jadi dibawa kejalur hukum..Gimana coba nasib Aira nanti" ibanya.
Raka mengusap kepala Mira.
"Yah..Saya juga mikir begitu, tapi beruntung keluarga Gilan pemikirannya gak sempit, mereka udah minta maaf atas nama Gilan" ucap Raka.
Mira mangut-mangut.
Tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu.
"Pak" panggilnya.
Raka tengah menyetir sekarang.
"Hum?"
"Kalau saya dipeluk laki-laki lain, bapak bakal kayak pak Alex juga?" tanya Mira.
Entahlah, ia hanya ingin tau.
"Uhm..."
Mira menanti jawaban dari pria itu.
"Enggak" balas Raka.
Mira mencebik, ia mendengus. Raka justru tersenyum melihat ekspresi Mira.
"Pertanyaan kamu ituloh..Gak ada yang lain?" tanya Raka.
"Gak, cuma penasaran aja, toh..saya udah tau sekarang jawabannya" kesal Mira.
"Mau ke resto?" tawar Raka.
"Gak"
"Kamu gak lapar?" tanya Raka.
"Gak"
"Jangan kesel gitu kalau ditanyain orang yang lebih tua" ucap Raka.
Mira menyatukan kedua tangannya lalu meletakkan didepan dadanya.
"Maaf kakek" ucap Mira dengan wajah jutek.
"Ya bukan kakek juga sayang"
"Anterin pulang, mau tidur" ucap Mira.
'Ada yang ngambek'
Raka tiba-tiba menambah kecepatannya, membuat Mira duduk gelagapan dan ketakutan.
"Pa-pak Raka! Kalau mau mati jangan ajak saya!" Teriaknya.
Raka memelankan lagi laju mobil, ia tertawa puas.
"Ih malah ketawa"
"Psikopat nih, gila" omel Mira.
"Ini gara-gara kamu" ucap Raka.
"Kok saya?"
"Cemberut terus, saya jadi gak fokus" ucapnya.
"Ya" balas Mira singkat.
"Hish.." geram Raka.
Ia mencubit pipi Mira.
Phak!
Mira memukul tangan pria itu.
"Sakitttt" protes Mira.
"Sakit? Kan belum saya apa-apain" ucap Raka pura-pura bodoh.
"Pak Raka, awas ya mulutnya"
"Bercanda-bercanda" ucap Raka.
Ia fokus kembali jalanan.
"Bapak jangan suka ngomong yang begitu..Saya makin gak yakin buat nikah sama bapak" ucap Mira serius.
Raka diam tak berkutik mendengar ucapan Mira. Ia hanya ingin bercanda, mungkin bercandanya terlalu vulgar.
Raka benar-benar tak mengatakan apapun setelahnya dan sekarang mereka sampai didepan rumah Mira.
Mira melepas sabuk pengamannya.
Raka melirik Mira, ja jadi tidak enak hati, karena ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Makasih tumpangannya" ucap Mira.
Raka mengangguk.
"Ehm..Mira"
Mira menoleh.
"Maaf bercanda saya kelewatan.."
Mira cuma mengangguk, ia membuka pintu mobil.
"Mira" panggil Raka lagi.
"Hum?"
"Pertanyaan kamu tadi, saya pasti bakal sama seperti Alex..Kalau bisa orang itu saya bikin gak bangun buat selamanya" ucap Raka.
Mira tersenyum.
"Hum..iya" singkatnya.
"Ya-yasudah saya pamit, titip salam buat bunda" ucap Raka.
Mira keluar dari mobil, sebelum menutup kembali pintu, ia menunduk sedikit.
"Saya gak mau punya suami narapidana" ucapnya lalu menutup pintu.
Raka melongo, beberapa detik kemudian tersenyum.
"Iya saya tau" ucapnya.
Yang pasti tidak bisa Mira dengar, karena gadis itu sudah berjalan masuk kedalam rumah.
..
Aira mencuci piring didapur sambil bersenandung. Suasana hatinya sedang baik.
Greb!
Aira menoleh kebelakang, Alex memeluknya. Pria itu menduselkan wajahnya disela-sela rambut Aira.
"Kamu lagi senang ya?" tanya Alex.
Aira menaikkan bahunya.
Alex menyibak rambut Aira kesamping, agar ia bisa melihat wajah wanita itu.
"Manisnya senyum istri mas" puji Alex.
Aira tak kuasa menahan senyumnya karena dipuji sang suami.
"Mau apa?" tanya Aira.
"Enggak dek..Mas tulus" bisik Alex ditelinga Aira.
Blush~
Lagi-lagi panggilan 'dek' yang membuat Aira semakin berdebar, suara Alex sangat indah saat memanggilnya itu.
"Kali ini bukan pipi yang merah ya, tapi telinga" ledek Alex.
Aira menyentuh telinganya.
"Bi-biarin" gugupnya.
Alex tertawa kecil.
"Lanjut cuci piringnya dek" ucap Alex.
Aira gugup, tubuh mereka sangat dekat, Aira bisa merasakan detak jantung Alex.
Tangan Alex menggenggamnya.
"Hayoo kok diem?"
'Come'on Aira, kejadian kayak gini udah sering lo alami, kenapa masih gerogi..'
Alex melepas pelukannya.
"Yaudah mas gak ganggu, kamu lanjutin" ucapnya.
Ia pikir Aira diam dan tidak membelas pertanyaannya karena wanita itu merasa tidak nyaman.
"Iy-iyaa"
Alex tersenyum lalu melangkah pergi. Aira menghembus nafas lega, ia menyentuh dadanya.
"Deg-degan gue.."
"Pengen ciummm" lanjutnya penuh penyesalan.
Ia melanjutkan aktivitasnya sambil mendumel.
"Gue malu tapi pengen cium..ah bikin kesel.."
"Kenapa diem aja sih gue tadi" dumelnya.
Tap..Tap..
Suara kaki Alex yang menginjak anak tangga satu persatu.
"Kita berangkatnya jam berapa nanti?" tanya Alex.
__ADS_1
Aira tersentak kaget.
"E-e..Ter-terserah"
Alex menghampirinya lagi, Aira memejamkan matanya berharap pria itu jangan memeluknya.
Tapi kenyataannya tangan Alex mulai menyentuh pinggangnya.
'Jangan peluk please...'
"Mas!"
Aira berbalik dengan tiba-tiba, membuat Alex terkejut dan tidak jadi memeluknya.
"Kenapa?" tanya Alex bingung.
'Eh gue ngapain?'
Aira salah tingkah, ia menyengir.
"Ituu...Aku belum mandi, jangan peluk lagi-bau" ucapnya.
Alex menyatukan alisnya.
"Terus kenapa panik begitu kamu?" tanya Alex.
"O-oh-enggak kok, mana mungkin panik hehe"
Alex mendekat, ia menarik pinggang Aira, menatap lekat mata wanita itu.
"Kamu kenapa?"
Aira memejamkan matanya, ia berusaha menahan diri agar tidak mencium pria itu. Satu sisi ia malu dan takut diledek Alex, satu sisi lainnya ia ingin sekali mencium Alex.
'Huwaa tahan Raa..'
"Aira?"
Ia mendorong dada Alex lalu menggeleng cepat.
"Aaa gak tau!" ucapnya.
"Lanjutin tuh nyucinya"
Aira pergi begitu saja, Alex menatap wanita itu dengan heran.
"Aneh" ucapnya.
Alex tidak menolak perintah Aira, ia melanjutkan cucian piring Aira.
"Piringnya cuma sedikit, kenapa Aira lama nyucinya?"
"Haih..Kenapa lagi istriku" monolog Alex.
Blam!
Alex tersentak mendengar pintu kamar yang dibanting kuat. Ia cuma bisa menggelengkan kepalanya.
Aira mengibas-ngibas wajahnya yang memerah.
"Hush~ Aira sadar, gak boleh gitu..Nanti diledekin pak Alex" ucapnya.
Ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya lalu memejamkan mata.
Sialnya ia malah terbayang wajah tampan suaminya.
"Hah"
Aira membuka selimutnya.
"Aaaa gak bisaa, gue pasti kena jampi-jampi pak Alex!" tebaknya.
Ia memutuskan untuk keluar kamar, menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
Alex memutar kran setelah selesai mencuci, ia menoleh kebelakang dan mendapati Aira berdiri sambil menatapnya.
"Kamu ngapain?"
Aira menyipitkan matanya.
"Mas jampi-jampi aku ya?"
Alex terkekeh, apa yang Aira pikirkan saat ini?.
"Jampi-jampi kamu? Haha buat apa hum?" tanya Alex.
Aira menekan sudut bibirnya.
"Terus kenapa aku jad-"
Alex mendengarkannya.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
"Ah gak tau deh, gak jadi.." kesalnya.
'Astaga sebenarnya Aira ini kenapa?'
Alex ingat artikel yang pernah ia baca, kalau suasana hati ibu hamil akan terus berubah, mudah kesal dan mudah tersinggung.
Tapi Alex sendiri bingung, dari tadi ia memperlakukan Aira dengan baik.
Lantas apa yang membuat istrinta begitu kesal?.
__ADS_1