
Aira tidak jadi mandi, ia turun lagi kebawah mencari Alex, pria itu tidak bersuara dari tadi. Aira merasa dirinya seperti ibu tiri sekarang.
"Kasian mati kelaparan ini pasti" gumam Aira.
Ia membuka satu persatu pintu kamar, dan mendapati Alex diruang kerjanya. Pria itu duduk sembari memejamkan mati.
'Alhamdulilah masih hidup! batal ngejanda'
Buru-buru Aira menghampirinya.
"Pak Alex"
Aira menepuk-nepuk lengan Alex.
'Ayo bangun, jangan mati, bapak belum nulis wasiat buat saya..'
Aira mengulanginya kembali sampai mata pria itu terbuka.
"Hm?"
"Bapak belum makan kan?" Aira tersenyum kikuk.
Alex membenarkan posisi duduknya.
"Belum"
'Yaallah jahat banget gue, sampai kurus gini'
"Saya lupa pak, bapak juga gak nyamperin saya minta makan"
"Tunggu sini deh saya ambilin" lanjut Aira.
Ia menggambil makanan untuk Alex, tidak perduli dirinya yang sudah buluk dan berkeringat.
"Loh kok gak jadi mandi?" tanya mbak Rina.
"Hehe, bentar mbak ngurusin anak"
Rina mengernyit, anak yang mana pikirnya.
"Den Alex maksudnya" sambung bibi, barulah Rina mengangguk paham.
"Saya permisi lagii"
Aira membawa nampan keruang kerja Alex, diletakkan nampan itu dimeja.
"Nih makan, saya mau mandi, bentar lagi tamu-tamunya dateng" ucap Aira.
"Iya"
'Bilang makasih istriku kek!, gak kasian liat istrinya cape'
Alex melahap nasinya.
"Yaudah bye!"
Brak!
Aira menyentuh pipinya.
'Muka gue gak ada kerutan kan? Gue marah-marah mulu ngadepin pak Alex'
Skip..
Aira sudah selesai mandi, dengan handuk yang terlikut ditubuhnya, Aira merapikan tempat tidur lebih dulu.
"Kamar berantakan bukannya diberesin, pak Alex ngapain aja sih dari tadi" kesalnya.
Ceklek.
Aira lompat ketempat tidur sambil menutupi tubuhnya karena kaget, Alex masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintu.
"Ke-ketuk dulu kalau masuk" ucap Aira.
"Kamu ngapain?"
Alex melihat Aira yang duduk diatas tempat tidur dengan sikap siaga.
"Menjaga diri dari predator" ucapnya.
"Siapa predatornya?"
'Banyak nanya'
"Udah deh, bapak mau ngapain?"
Alex menunjuk kamar mandi.
"Yaudah sana" usir Aira.
Ia bangun dari tempat tidur.
"Gak jadi, saya mau lihat kamu ganti baju"
Aira membulatkan matanya.
'Gila ni orang'
'Mulutnya tidak seindah wajah'
"Pak Alex!" bentak Aira.
Alex langsung pergi kekamar mandi sambil tertawa lepas.
"Sabar Aira, sabar"
Aira mengusap dadanya.
Ia merias wajah dengan polesan make up yang biasa dipakai, dipadukan dengan baju terusan berwarna peach.
"Aira"
"Hm?"
Aira menatap pada pantulannya dicermin.
"Kamu taruh dimana kaos warna merah saya" tanya Alex.
"Yang mana? Kaos warna merah banyak bukan cuma satu"
'Aneh-aneh kalau nanya'
"Yang sering saya pakai"
"Ah yang itu, ada dilemari bagian atas, saya lipat disitu" tutur Aira.
Oke Alex sudah tidak mengoceh lagi.
"Tidak ada Aira"
'Allahuakbar nanya mulu, kayak orang baru ngekos'
__ADS_1
Aira menghela nafas, ia menatap jengkel Alex yang mengusiknya.
"Dibagian atas, masa gak ada sih"
"Gak ada"
Aira turun tangan, ia mendekat kelemari, tangannya menelusuri lemari bagian atas dan menemukan kaos yang diminta Alex.
"Ini apa?" ucapnya sambil menyodorkan kaos.
"Makasih" ucap Alex mengambil kaos.
Pria itu memakai kaosnya.
"Semoga anak kita gak nurun bapaknya" ucap Aira.
"Pasti nurun saya" jawab Alex
"Enggak, bisa-bisa saya strees"
"Yasudah saya cari istri baru kalau kamu strees" ceplos Alex.
Aira membulatkan mata, apa yang Alex katakan barusan?.
"Ma-maksudnya apa ngomong gitu?"
"Kalau kamu strees pasti kamu jadi gila, lebih baik saya cari yang waras"
Aira menatap sinis Alex.
"Bagus banget udah ada niatan gitu"
Kesalnya.
Ditengah kekesalan Aira, ketahuilah Alex hanya menggoda Aira.
"Saya bercanda"
Alex memeluk dan mencium kening Aira membuatnya membeku.
"Hemmm"
"Kamu marah?"
"Hemm"
"Kalau masih marah saya cium" bisik Alex.
"A-apasih"
Aira segera menjauhkan diri dari Alex.
"Sa-sana deh" usirnya.
Alex tersenyum.
"Iya istriku"
Nada bicara Alex dibuat-buat untuk menggoda Aira.
"Pak Alex!"
Usai melaksanakan sholat magrib berjamaah, para tamu dari keluarga Aira dan Alex berkumpul di dalam maupun dihalaman depan rumah.
Aira duduk bersama Iren.
"Ini yang masak kamu Ra?" tanya Iren.
"Waduh anak mama pinter banget" Iren mengacungkan ibu jari pada Sang putri.
"Mama bisa aja..Ngomong-ngomong Aira kangen banget sama mama" ucap Aira memeluk pinggang Iren.
"Kenapa gak kerumah nak? Gak telfon mama juga"
"Gak sempet ma, sibuk terus" adu Aira.
Keluarlah sifat manjanya seperti dulu.
"Ululu kasian anak mama" ucap Iren.
Aira menekuk bibir.
"Capek rasanya ma" adu Aira.
"Harus sabar, masih baru-naru ya gini nanti terbiasa kok" ucap Iren.
"Hemm.."
"Alex gimana? Hubungan kalian baik-baik aja kan?"
"Baik ma"
Ah pria itu sedang bersama kerabatnya diluar rumah.
Iren menaruh piringnya, ia menatap Aira.
"Ekhem..Kalian udah pernah itu?" Iren berbisik.
Pipi Aira memerah, ia melihat sekitar kemudian mengangguk, membuat Iren tertawa.
"Hahaha yaampun"
"Anak mama gak perawan lagi dong ya" bisik Iren sambil tertawa.
"Mama! Jangan gitu ih" rengek Aira.
"Hahaha mama kaget banget, mama kira kamu jual mahal dulu" kekehnya.
Aira sebal ditertawakan.
"Maa suara mama itu loh"
"Biarin, mau mama panggil mertua kamu sekali deh hahah"
"Mamaaa, ish..Aku ketempat papa aja" ucap Aira.
"Dasar anak papa, sana deh mama mau makan lagi" ucap Iren.
Aira pergi keteras, ada Adrian yang duduk dikursi sambil merokok. Aira menghampirinya dan memeluk pria itu.
Aira sangat dekat dengan kedua orang tuanya, ia tidak membeda-bedakan kasih sayang orang tuanya.
"Papaa~" ucap Aira.
Adrian membalas pelukan putrinya.
"Anak papa ngagetin aja, sini nak duduk"
Adrian menarik satu kursi untuk Aira duduk.
"Papa kenapa disini?"
__ADS_1
"Papa lagi ngerokok, takut asapnya kena anak-anak"
Aira ber-oh ria, keduanya duduk memandang bintang-bintang dilangit yang gelap.
"Papa lihat kamu sudah sangat dekat sama Alex" ucap Adrian memecah keheningan.
"Hum"
"Jadi istri yang baik, jangan pecicilan lagi, kamu bakalnya jadi seorang ibu"
Aira tersenyum, hampir setiap bertemu kedua orangtuanya selalu mengatakan ini.
"Iya pa"
"Mama kamu dulu persis sama kamu, karena kita dulu nikah karena dijodohkan, mama kamu sering nangis trus jutek kepapa, tapi akhirnya dia klepek-klepek sendiri" Adrian tertawa diakhir kalimat.
"Emm..Berapa tahun papa mama nikah baru lahirin aku?"
"Kira-kira satu tahun setelah papa angkat Hendra sama Mawar, kamu lahir "
'Cukup lama'
"Kenapa? Kamu udah ada niatan kasih cucu"
Aira menggeleng cepat.
"Be-belumlah pa, masih panjang kuliah Aira, nanti siapa yang jagain babynya?" ucap Aira.
"Pikirkan baik-baik, sebuah keluarga akan sempurna kalau lahir seorang anak"
Seketika Aira merenung.
"Tapi untuk sekarang ya gakpapa kamu tunda, mungkin tahun depan kalian sudah punya..Insya Allah"
Cukup lama Aira berbincang dengan Adrian. Alex yang awalnya tidak ingin menganggu kedua orang itu pun akhirnya bergabung.
"Pa" sapa Alex.
"Eh Alex, duduk sini" ucap Adrian.
"Maaf pa, tadi Alex gak langsung nemui papa" ucap Alex segan.
Adrian menepuk pundak Alex.
"Gakpapa santai aja"
Aira melihat Alex sehingga mata mereka bertemu.
"Kamu sehat Lex?"
"Alhamdulilah sehat pa"
Aira tiba-tiba berdiri.
"Papa sama m-mas lanjut aja, Aira mau kedalem" ucap Aira lalu pergi.
Aira meninggalkan para pria, dan berpapasan dengan denis yang asik bermain.
"Tantee cantik" sapanya ramah.
Aira tersenyum.
'bocil kalau udah gini pasti ada maunya'
"Saya Deniis"
Denis berhenti berlarian.
"Tante Denis mau jajan dong" ucapnya.
Aira tertawa.
'Kan bener apa gue bilang'
"Denis mau jajan?"
Denis mengangguk.
"Hum..Ayo deh, tante juga pengen nyemil" ucap Aira.
Denis berlompat-lompat girang.
"Nda Denis mau jajan sama tante ya" ucap Denis.
Rere mengangguk.
Aira menggandeng tangan bocah itu. Ada banyak keponakan Alex tapi Denislah yang beranu menyapanya.
"Denis mau tante gendong aja gak?"
Denis nampak berpikir lalu mengangguk, Aira gemas melihatnya
'Anak mas Regi bisa lucu gini, spill tutorial..Astagfirulloh Aira sadar'
Ia menggendong Denis, sambil mengajaknya bercanda sepanjang jalan. Alex ikut senang melihat istrinya tersenyum.
"Bayangin yang Aira gendong anak kalian" ucap Adrian.
Alex mengalihkan pandangan.
"Insya Allah pa"
Adrian mengangguk.
"Kamu tau nak? Aira punya saudara angkat laki-laki namanya Hendra"
Alex mengernyit, ia tidak tau sama sekali.
"Aira belum kasih tau kamu ya?"
Alex menggeleng.
"Hendra itu papa angkat jadi anak waktu Aira belum dilahirkan, begitu juga dengan Mawar, Hendra waktu itu umur delapan tahun dan Mawar umur empat tahun, mereka dari keluarga yang kurang mampu"
"Hendra sama Aira itu deket banget, sampai kemana pun Aira harus ada Hendra.."
Sedekat itu istrinya dengan saudara angkat.
"Papa sempat ada rencana mau menjodohkan mereka, karena mereka kan tidak sedarah, tapi mama ngelarang"
"Waktu pernikahan kami, dia juga tidak ada pa?"
"Enggak, dia masih diluar negeri bersama anak istri"
Alex lega mendengar Hendra sudah berkeluarga.
-Nampaknya saudara Alex takut tertikung-
"Rencananya Hendra mau balik keindonesia bulan depan, nanti papa kenalkan ya"
Alex mengangguk.
__ADS_1