Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-146


__ADS_3

Alex melihat sekeliling kamar dengan wajah puas.


"Akhirnya selesai.." ucapnya.


Ia keluar dari kamar, menuju ruang keluarga. Belum sampai disana sudah terdengar suara tawa dari ketiganya.


"Bahas apa sampai begitu" gumam Alex.


Alex mendekati mereka, ia tersenyum saat mendapati Aira mengalungkan tangan dilengan  Adrian dengan manja, sambil tertawa.


"Eh Alex..Sini nak" ucap Iren.


"Iya ma"


Adrian dan Aira menoleh padanya. Alex duduk di sofa depan Aira, Iren duduk di sofa yang muat untuk satu orang.


"Situ duduk sama suami kamu" ucap Adrian.


Aira pun melepaskan tangannya dan berpindah kesebelah Alex.


"Udah dirapikan Lex?" tanya Adrian.


"Udah pa"


"Kamu ini kenapa repot-repot..ada bibi loh" ucap Iren.


"Alex mau sendiri ma, bibi udah capek"


"Gakpapa ma.." ucap Iren.


"Baiknya menantuku" puji Iren.


"Hum..Baik banget" sambung Aira.


Ia mengusap leher Alex.


"Lex tadi kamu dighibahin Aira" adu Iren.


"Dighibahin?"


Iren mengangguk semangat, sontak Aira melongo membuat Adrian terkekeh.


"No..Fitnah.." bantah Aira.


Alex melihat Aira sembari menaikkan satu alisnya, ia mengerjai Aira.


"Hum?"


"Anu..Gak..Gak bener, mana mungkin" ucap Aira.


Iren? Wanita itu tertawa sampai memegangi perut.


'Ish Mama!'


"Katanya kamu suka dia dari dulu.." tambah Adrian.


'Allahu akbar si papa ada dipihak mama'


"Gitu katanya pa?"


Adrian mengangguk, mereka sengaja menjahili bumil satu itu.


"Tapi papa gak percaya Lex" lanjutnya.


Aira mendengus, ia menggenggam tangan Alex. Aira ingin membuktikan ucapanmya itu benar.


"Kan faktanya memang gitu mas" ucapnya pelan.


'Bantu gue, atau gue sunat dua kali!'


Alex menatapnya dengan tatapan mengejek.


"Mas?!"


Tawa Alex pecah.


"Haha..Sebelum kamu tau, papa sama mama udah tau duluan" ucap Alex.


Aira membulatkan matanya tak percaya.


Ia menatap kedua orangtuanya.


"H-hah?! Really?"


Iren dan Adrian mengangguk.


"Ih kok bisa?!"


Aira memukul lengan Alex.


"Mas waktu minta restu, cerita ke mereka semuanya" ucap Alex.


"Ja-jadi aku yang baru tau dong?"


Alex mengangguk.


'Ternyata gue orang terakhir yang tau..'


Aira menatap sinis Iren, Iren mengibaskan rambutnya.


"Pantes mama sama papa liat-liatan terus, jahat banget" protesnya.


"Bukan jahat..tapi bijak haha" ucap Iren.


"Huh!"

__ADS_1


Padahal niatnya Aira ingin pamer pada kedua orang tuanya, ternyata dia sedang dibodohi.


"Jelek langsung mukanya"


"Udah dek, nanti makin jelek" canda Adrian.


"Ini kak Mawar tau gak?" kesalnya.


"Mawar?..Kayaknya enggak ya pa?"


"Enggak, Mawar kan pulangnya begitu tau Aira bakal tunangan" ucap Adrian.


Aira yang tadinya kesal sekarang tersenyum. Syukurlah masih ada Mawar, tempat Aira untuk membanggakan dirinya.


"Dih kenapa tuh?" tanya Iren.


"Hehe, gakpapa"


"Dia mau pamer sama Mawar" tebak Adrian.


Aira mengacungkan jempolnya.


"Pinter papa" ucapnya.


Tiba-tiba handphone Adrian yang ada diatas meja berdering, nama si penelfon adalah Hendra.


"Angkat pa, sekalian speaker" ucap Iren.


"Iya ma"


Adrian segera mengangkatnya,


semua mata tertuju pada pria parubaya itu.


"Halo nak, udah sampai mana?" tanya Adrian.


"Oh baru naik pesawat.."


"Anak kamu ikut semua kan?"


"Alhamdulilah..Papa kangen banget sama cucu papa, hati-hati ya nak"


"Iya nanti papa sampaikan.."


"Sudah dipastikan jam berapa sampai nak?"


"Ooo oke, kalo sudah dibandara hubungi papa ya"


Klik!..


"Apa katanya pa?" tanya Iren.


"Jam berapa kakak sampai bandara?" tanya Aira.


"Jadi kemungkinan sampai jakarta jam dua belas kurang" ucap Adrian.


"Lama banget..Mama kangen berat sama cucu..semoga perjalanannya lancar" ucap Iren.


"Amiin" ucap mereka bersamaan.


"Besok kalian ikut jemput?" tanya Adrian.


Aira menoleh pada Alex.


"Ikut kan mas?"


Alex mengangguk.


"Iya ikut pa, Aira pasti pengen ketemu kakaknya" ucap Alex.


"Oke kita bawa dua mobil.."


Keputusan sudah dibuat, mereka akan menjemput Hendra dan keluarganya besok siang.


Kamar.


"Gak sabarnyaa ketemu kakak" Aira duduk ditepi ranjang.


Alex menutup pintu kamar lalu menghampirinya, Aira langsung memeluk pinggang pria itu.


"Hah..Besok udah bisa peluk kak Hendra, terus ketemu keponakan aku" senangnya.


"Hum..Ayo sekarang tidur"


Aira mendongak.


"Belum ngantuk..Masih jam sembilan" ucap Ara.


"Besok mau kebandara, nanti kamu kecapean sayang..Nurut sama mas" ucap Alex lembut.


Aira mengangguk.


Alex membantunya lalu pria itu mengambil posisi tidur disebelah Aira.


"Mas.."


"Hum?"


Alex tidur dengan posisi badang miring menghadap Aira.


"Kaki aku pegel.." eluhnya.


Alex duduk.


"Kaki sebelah mana?"

__ADS_1


Aira menyibakkan selimutnya, ja menunjuk kaki sebelah kirinya. Alex segera berpindah, ia menaruh kaki Aira kepahanya dan mulai memijat secara perlahan.


Aira diam-diam tersenyum.


Padahal Alex letih tapi ia tidak mengeluh, apalagi menolak Aira.


Menyenangkan sekaligus melegakan.


"Mas, maaf ya" ucap Aira.


Alex tersenyum.


"Punggung kamu sakit gak?"


Aira menggeleng.


"Kaki aja kok.."


Alex memijat kaki Aira lagi.


"Mas, aku cantik gak?" tanya Aira tiba-tiba.


"Cantik, cantikk banget..kenapa tiba-tiba tanya?"


Aira menggeleng pelan.


Alex menghela nafas.


"Kamu mikir apa hm?"


"Aku khawatir, kalo habis melahirkan, aku pasti sibuk ngurus anak, gak sempat ngerawat diri sendiri,dan gak cantik lagi"


"Aira..Mas paham, kamu udah sulit karena melahirkan, mas gak mau menyulitkan kamu lagi..Kita fokus aja dulu sama anak kita"


Aira mengangguk ragu.


"Mau gimanapun, kamu tetap cantik dimata mas, jangan sedih, yang bikin berat badan kamu nambah karena lagi hamil, mas bakal selalu dampingi kamu, oke?"


Aira terharu, ia merentangkan tangannya.


"Peluk~" ucapnya.


Alex mendekat dan memeluk Aira.


"Makasih banyak ya mas" ucap Aira.


"Janji jangan tinggalin aku kalau aku gak cantik lagi"


"Janjii..Kan mas mau punya anak lima, mana mungkin mas ninggalin kamu" candanya.


Aira tertawa mendengarnya.


Alex melepas pelukannya, Mata mereka pun bertemu. Ia mengusap lembut pipi Aira.


Ia ingin Aira bahagia dan membesarkan buah hati mereka bersama.


"Kaki aku udah gak pegel lagi" ucap Aira.


"Sekarang tidur ya..Soal fisik kamu, jangan diomongin lagi.."


"Tapi.."


"Mau mas marah?"


Aira menggeleng cepat.


"Pinter, ayo tidur" ucap Alex.


Aira menarik tengkuk Alex, bibir keduanya menyatu. Sudut bibir Aira ditarik keatas.


Perlahan bibir wanita itu mulai bergerak, *******-******* kecil ia beri pada bibir manis sang suami.


Alex dengan senang hati membalas ciuman Aira, ia menekan dan menggigit bibir bawah Aira agar memperdalam ciuman.


"Akh" pekik Aira.


Alex spontan melepas ciumannya, Aira meringis sambil menyentuh bibirnya.


Alex mengigit bibirnya terlalu kuat.


"Maaf mas gak sengaja, sakit?" Cemas Alex.


Aira menggeleng.


"Sedikit aja kok hehe" ucapnya.


Alex tersenyum.


"Good night.." ucap Alex.


"Too..hug mee~" pintanya.


Alex tidur sambil memeluk Aira.


"Mas..aku setuju punya art, tapi yang tua, aku gak mau yang masih muda" ucap Aira.


"Seumuran sama pembantunya mama ya"


Alex mengecup kepala Aira.


"Iya sayangku.."


"Makasih suamiku, love you"


"Love you too~"

__ADS_1


__ADS_2