
"Pucuk dicinta Aira pun tiba" ucap Mira.
"Nah datang juga lo"
Aira menghampiri dua gadis blasteran setan itu. Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang sambil menyengir.
"Loh nunggu gue?" tanya Aira.
Kedua gadis itu mengangguk.
"Iya lama banget, gue ditarik-tarik sama temen lo yang kayak setan ini" cibir Nana.
"Berkacalah wahai anak muda, setan kok teriak setan" ucap Mira.
"Gue ngomong gak teriak" balas Nana tidak mau kalah.
"Hilih bicit juminten"
"Apasih sakit lo"
Aira menutup telinganya.
"Stop it!"
Mira dan Nana bungkam.
"Tadi akur sekarang berantem, lo berdua kenapa sih?"
"Dia nih" keduanya saling tunjuk tak mau disalahkan.
"Nah kan mulai, udah gini deh, gue ditengah" ucap Aira.
Aira menggeser pertengahan diantara mereka lalu berdiri disana.
"Ada yang mau gue tanyain Ra, kenapa lo bisa akur sama cabe ini?" tanya Mira masih tidak santai.
"Heh siapa yang lo maksud cabe? Papa gue kaya ya, gak sekelas sama cabe"
Kepala Aira ingin pecah rasanya, kenapa dua orang ini selalu ada mulut kalau bertemu.
'Ini tom and jerry berisik banget, emang gak bisa disatuin mereka'
Nana mengalungkan tangannya pada lengan Aira.
"Ayo Ra tinggal dia kita keluar" ucap Nana.
"Oooh tidak semudah itu"
Mira mengandeng lengan Aira juga, dan terjadilah cekcok memperebutkan Aira. Aira mendengus sebal.
"Huft..."
"Oke!"
Mira dan Nana berhenti.
"Lo berdua bisa diem gak? Gue pusing dengerinnya, lo berdua gak kasian apa gue lagi-" Aira memghentikan ucapannya.
Mira dan Nana menatapnya serius.
"Lagi..?" tanya mereka serentak.
"La-lagii pusing..kita ngobrol diluar aja, tapi janji jangan ribut" ucap Aira.
"Dia du-" ucap Mira.
"Demi gue tolong diem bentar" potong Aira.
"Oke deh"
'Hah...hampir aja gue kelepasan, bisa-bisa tambah heboh, pingsan gue'
Depan Fakultas.
Didepan setiap fakultas menyediakan tempat duduk seperti kursi taman, Aira duduk disamping Mira sedangkan Nanan duduk didepannya.
"Aira sejak kapan lo temanan sama dia?" tanya Mira.
'Cepet jawab, gue penasaran sampai setengah jam, bukan setengah mati, kalau mati mah cinta gue ke pak Raka'
"Sebenernya semua tiba-tiba aja sih Mira, waktu itu gue lagi beli baju buat pak Alex-"
"Loh katanya buat papa lo?" sarkas Nana.
"Bodoh banget, itu cuma alasan, kan lo pada belum tau Aira istri pak Alex" jawab Mira.
__ADS_1
Nana mangut-mangut.
"Boleh gue lanjut?" tanya Aira.
"Oke lanjut" ucap Mira.
"Dan gue mampir dicafe, disitu gue ketemu Nana, kita ngobrol soal Nana yang putus sama Kak Gilan, awalnya gue gak mau nanggepin Nana, tapi lama-lama gue bisa nerima maaf dia dan dengerin curhatan dia baik-baik..Eh gak taunya sekarang malah akrab, gue juga seneng kok ada Nana"
Mira menyentuh bibir bawahnya.
"Gara-gara kita musuhan waktu itu pasti lo kesepian ya? Maaf banget" ucap Mira memelas.
Aira tersenyum.
"Udah ah gakpapa"
"Yaudah jangan deket-deket dia, lo sekarang punya gue" ucap Mira menunjuk Nana.
Nana mendengus.
"Udah denger penjelasan Aira kan? Sana lo, gue mau ngobrol berdua" usir Nana.
"What the hell..Gak! Gue tetep disini" saut Mira.
'Yaampun ribut lagi'
Aira menyentuh lengan Mira.
"Gakpapa Na, ngomong aja, Mira juga harus tau" ucap Aira.
Mira tersenyum menang.
"Ck.."
"Soal tadi malem jadi? Gilan diruangannya tuh" ucap Nana.
Mira menoleh pada Aira.
"Mau apa lagi lo sama dia Ra?"
"Gue udah banyak bohongi Kak Gilan Mir, lo tau kan? Pak Alex juga bilang, itu salah gue, gue harus minta maaf dan jelasin kedia, mau gimana pun tanggapannya" jelas Aira.
Mira mengangguk setuju.
"Nah pinter, gue juga salah sih ngelabrak istri dosen, duh malu banget kalau diinget" sambung Nana.
"Yaudah ayo keruangannya" ucap Mira bersemangat.
"Gue sendiri aja" ucap Aira.
"Yakin?" tanya Nana.
Aira mengangguk.
"Ntar kalau dia nyolot telfon gue langsung, biar-"
"Telfon suaminyalah ngapain telfon lo" ucap Nana.
Mira memutar bola matanya.
"Telfon siapapun Aira"
Aira bangkit dari tempat duduknya, dia cuma mau bertemu Gilan bukan mau melakukan misi penting negara.
Kenapa dua gadis itu ribut sekali.
"Gue pergi dulu ya, kalian berdua jangan berantem, temenan dulu" ucap Aira.
"Iya besok temenan" ucap Mira.
"Sekarang" pinta Aira.
Bhuk..
Nana memukul lengan Mira, ia mengulurkan tangannya.
"..." Mira menatap tangan Nana dan wajah gadis itu secara bergantian.
"Salaman bego" ucap Nana.
Mira membalas uluran tangan Nana.
Aira menutup mulutnya menahan tawa, lucu sekali melihat dua gadis didepannya yang mencoba akur.
"Maaf gue nyolot" ucap Mira.
__ADS_1
"Iya, gue juga.." jawab Nana.
"Haha gitu dong..Gue pergi dulu yaa, bye~"
"Bareng, gue mau kekelas" ucap Mira merangkul Aira.
"Lo gimana Na?" tanya Aira.
"Duluan aja" ucapnya.
"Oke bye-bye"
Aira berjalan bersama Mira.
"Itu Nana gak sandiwara kan? Temen-temen percabeannya kemana?" tanya Mira penasaran.
Aira menaikkan bahunya.
"Gak tau gue, terserah dia mau sandowara atau gimana, kalau mau temenan yaudah temenan" ucap Aira.
Mira terkekeh.
"Sejak kapan lo jadi bijak?"
'Oh iya juga ya gue sok bijak banget sekarang'
"Masa sih?"
"Faktor berbaur sama pak Alex, jadi cara ngomongnya mirip sekarang" celetuk Mira.
Aira menyikutnya.
"Ngadi-ngadi"
"Suer bego"
Aira mengeleng-gelengkan kepalanya. Mira berhenti didepan kelas, disinilah ia berpisah dengan Aira yang akan bertemu Gilan.
"Inget, harus hati-hati"
"Iyaa bawel, kak Gilan gak makan orang" kekeh Aira.
"Yaudah hush-hush" usir Mira.
"****** lo, bye" ucap Aira.
Aira berjalan sendirian, ia menautkan kedua tangannya. Bagaimana kira-kira ekspresi Gilan saat melihatnya.
Apa ia akan mengusir Aira? Atau langsung keluar dari ruangan?.
Aira menggelengkan kepalanya, pikirannya terus menduga-duga apa yang akan terjadi nanti.
Dan Akhirnya ia sampai didepan pintu Gilan, pria itu sering berada diruang organisasi.
'Semoga dia masih ada disini'
Tangan Aira terangkat ingin mengetuk pintu tersebut, namun tiba-tiba pintu tersebut terbuka.
"Eh...Hai Aira" sapa orang itu.
Aira tersenyum kikuk.
Pria itu menutup kembali pintunya.
"Ada perlu apa? Mau pengajuan jadi Presma juga?" tanyanya.
"E-enggak kak Radit, gue mau ketemu Kak Gilan..Ada?" tanya Aira ragu-ragu.
"Oooh Gilan lagi keluar" ucap Radit.
'Yah kelamaan gue datengnya'
"Atau mu tunggu aja didalem?, nanti anaknya balik kok" tawar Radit.
"Emang boleh?"
Radit mengangguk.
"Masuk aja, biar gue panggilin Gilan" ucap Radit.
Aira mengigit bibir bawahnya.
"Gak macem-macem kok, mana berani gue sama istri dosen" ucap Radit.
'Eh?'
__ADS_1