
"Yaudah ini lanjutin makannya"
Aira menyerahkan sendoknya. Mereka menyantap makan malam berdua dirumah baru, dan suasana baru.
"Pak" panggil Aira.
Alex mengangkat sedikit kepalanya menjawab panggilan Aira.
"Empat kamar ya? satu kamar kita, satu ruang kerja, dua lagi kamar tamu..Enggak kebanyakan?" Aira menggunakan jari-jarinya untuk menghitung.
"Itu buat kamar anak kita nanti" ucap Alex.
Aira menompang dagunya.
"Kalau kamar anak jangan dilantai satu, nanti jauh dari kita" ucap Aira.
Alex menaruh sendok makannya.
"Bahaya Aira, nanti mereka turun tangga sendiri gimana?"
Mereka mulai berdebat serius soal anak yang bahkan belum ada dirahim ibunya. Aira menatap sebal Alex.
"Gak mau! anak harus dilantai dua!" Tegasnya.
Alex menatapnya dalam, Aira terdiam, apa ia salah bicara sampai Alex menatap seperti itu.
"Kamu sudah siap punya anak?" tanya Alex.
Aira gelagapan.
"E-ee itu..Suatu saat kan emang harus punya anak..Jadi planing mulai dari sekarang" elaknya.
Aira mengalihkan pandangannya, ia kembali menyuap nasi.
"Sampai kapan?"
Aira menghentikan aktivitasnya.
'Jangan mulai lagi'
"Udah selesai makan? biar saya cuci piring"
Ia berusaha menghindar tapi ditahan Alex. "Jawab saya Aira"
Aira menghela nafas.
"Secepatnya" ucapnya singkat lalu pergi.
Aira membawa piring menuju wastafel, diam sejenak dan memejamkan mata, Aira paham Alex ingin cepat punya anak. Suatu kewajiban juga baginya, tapi Aira benar-benar takut melalui itu semua dan tidak mudah baginya.
Grep!
Tubuh Aira tersentak, tiba-tiba Alex memeluknya erat dari belakang lalu membenamkan wajah dibalik rambut Aira.
Aira tidak berani bergerak, tubuhnya membeku. Jantungnya terus berdegub kencang seakan-akan ingin lompat keluar.
"Saya nyakitin kamu..Maaf" ucapnya pelan.
'Apa?! Ba-barusan gue gak salah denger kan?!'
'Ini beneran pak Alex?!'
"Hum?" Alex mengangkat kepalanya yang tadinya bersembunyi dileher Aira.
Aira bingung harus menjawab apa, lidah dan tubuhnya tidak bisa diajak kompromi. Boleh tidak Aira bilang, kalau kepala Alex yang berada dileher Aira membuatnya geli.
"Maaf" ucapnya lagi.
"Enggak..Gak ada yang salah..." ucap Aira.
"Jangan bohong, saya tau kamu terluka karena pertanyaan saya" ucap Alex.
'Kok suami gue gini..'
'Sialan pengen nangis'
Suasana berubah sendu, suara Alex membuktikan bahwa ia khawatir istrinya terluka karena ulahnya sendiri.
"Pak Alex gak salah kok, bapak ngomong gitu karena mikirin bunda yang pengen punya cucu.."
Aira melepas rangkulan tangan Alex lalu mengubah posisi tubuh menghadap Alex, mata mereka bertemu.
__ADS_1
'TOLONG AUTHOR GAK SANGGUP MELIHAT INI'
Tangan Aira mengusap pipi Alex penuh kasih sayang.
"Jangan minta maaf lagi, nanti saya marah" ucapnya.
"Tapi-"
"Sstt! Nurut gak?!" Aira meninggikan suaranya.
Ia hanya tak mau Alex terus-menerus mengatakan maaf. Pria itu langsung mengangguk, lihatlah Aira mampus menjinakkan Alex dengan mudah.
The real suami takut istri pt 2.
Tanpa sadar Aira sering memberikan perhatian-perhatian kecil pada Alex. Awalnya ia tidak ingin pernikahan ini terjadi, tapi perlahan ia mulai terbiasa dengan kehadiran Alex dihidupnya.
Aira belum bisa untuk bilang kalau ia mencintai Alex, ia sendiri masih bingung dengan perasaannya dan juga Aira menunggu Alex mengatakn hal yang sama padanya.
"Saya mau cuci piring, bapak istirahat dikamar nanti saya nyusul" pinta Aira.
"Kamu berani sendiri?" tanya Alex.
Aira mengerutkan dahi, pertanyaan macam apa ini, tentu saja ia berani.
"Berani, emang kenapa?"
Alex menengok kanan kiri, membuat Aira kebingungan.
"Ada apaaa sih pak!"
Alex mendekat ketelinga Aira.
"Katanya sering ada bayangan hitam disini" bisiknya.
Spontan Aira menutup mulut, bulu kuduknya berdiri, ia melihat kiri kanan dengan ketakutan.
"Serius?" ucap Aira pelan.
Alex mengangguk membuat Aira bergedik ngeri. Ditariknya lengan Alex kuat.
"Jadi gimana dong ini?"
"Saya yang cuci kamu nunggu dikamar" usul Alex tentu saja ditolak Aira.
Alex tiba-tiba diam, matanya terus melihat Aira, wanita itu langsung memukul Alex sekuat tenaga.
"Akh" pekik Alex.
"Makanya jangan gitu! Orang ketakutan malah diplototin" ocehnya.
Alex terkekeh pelan.
"Sudah-sudah saya cuma bercanda..Sana cuci piring" ucapnya santai.
'Gue dibohongin njir'
'Parah ni orang'
"Jahat banget, saya udah takut"
Aira merengut.
"Saya bercanda, tidak mungkin ada hantu.." ucap Alex yang hendak pergi.
"Ish! Mau kemana?" tanya Aira.
Alex menunjuk lantai atas.
"Saya ditinggal? Tega?"
Pria itu mengangguk, Aira makin kesal dibuatnya. Lantas Aira melanjutkan kegiatan cuci piring dengan merengut.
"Yaudah sana"
"Tinggalin aja, saya berani, tapi mulai besok jangan panggil-panggil nama saya lagi" ucapnya.
Alex tersenyum manis, sangat manis seperti buah kelengkeng. Istrinya merajuk ternyata, bahkan bibir Aira bisa diikat dengan karet sangking panjangnya.
Aira cepat sekali marah, padahal Alex tidak mungkin meninggalkannya sendirian. Aira belum tau seberapa bucinnya Alex padanya.
"Cepat kerjakan, saya disini" ucap Alex.
__ADS_1
Aira menengok kebelakang sebentar lalu kembali mencuci piring, dengan bibir yang mengerucut seperti bocah.
Skip
Aira terbangun dari tidurnya, ia menggapai handphonenya yang ada dinakas dekat tempat tidur, masih pukul dua dini hari. Aira memutar tubuhnya kesamping dan mendapati Alex yang masih berkutat dengan laptop di sofa kamar.
Ya, dikamar ini Alex menaruh dua sofa yang bsia dijadikan tempat tidur juga.
'Dari tadi gak selesai-selesai?'
"Pak kok belum tidur?"
Aira mengusap kedua matanya.
"Sebentar lagi" ucapnya.
"Bapak dari tadi belum tidur, besok ngajar...Ga bosen apa liatin laptop mulu" protes Aira.
Radiasi dari laptop sangat berbahaya, apalagi sampai berjam-jam, Aira tidak mau suaminya kenapa-napa.
"Lagi cari nafkah buat kamu"
"Kalau saya tinggal nanti numpuk semua berkas-berkas ini" lanjutnya.
Oh Aira tersentuh, suaminya ini pekerja keras? Hingga larut malam masih tetap bekerja. Aira menarik selimut tidurnya, ia menghampiri Alex lalu menyelimuti tubuh pria itu.
"Kenapa dikasih kesaya?"
"Nanti masuk angin" ucap Aira.
"Kamu?"
"Saya mah kuat"
Aira tersenyum menampakkan seluruh giginya.
"Terimakasih" ucap Alex dibalas anggukan oleh Aira.
"Kamu tidur lagi sana"
Aira justru menolak, ia malah ikut duduk disamping Alex. Pria itu sedikit kaget, entah setan apa yang merasuki Aira, ia sangat menempel pada Alex. Dengan sengaja merangkulnya.
"Lanjut aja pak kerjanya, saya gak ganggu" ucapnya santai, tak lupa kepalanya bersandar dipundak Alex.
Justru sikaapmu yang seperti inilah membuat Alex resah Aira.
"Aira" panggil Alex disela-sela mengetik.
"Hum?"
"Kamu tau dirumah ini kita cuma berdua?"
'Ya taulah pake nanya'
"Iya tau"
"Kamu tidak takut?"
'Ni orang kenapa sih, nanyanya aneh-aneh mulu, yang gak gue pahami'
Aira menggeleng.
"Ngapain takut, kan ada bapak" ucapnya.
Alex mangut-mangut.
"Kamu tau, saya tidak segan sama kamu, berbeda saat dirumah orang tua kita"
'Eitt apa ni?'
Aira punya firasat buruk, sepertinya Alex akan lebih liar dari biasanya. Buru-buru Aira menjauhkan tubuhnya, ia kembali keatas kasur dan mengambil selimut miliknya lagi.
Berakhir sudah scene romantis mereka, Aira sangat mudah digoda, dan sangat mudah pula marahnya. Ia selalu was-was pada Alex.
"Jangan macem-macem ya!" ancamnya.
Alex menggedikkan bahu acuh.
'Sialan gue jadi gak tenang!'
'Dasar pedofil mesum!'
__ADS_1
Umpatnya dalam hati.