
SESUAI JANJII NIH!!
"Nanti honeymoon kesana" ucap Raka dengan santainya.
Mira mendelik mendengar ucapan Raka.
Raka ini bicara seolah-olah mereka pengantin baru, padahal baru menjalin hubungan selama satu setengah hari. Bicaranya sudah kejauhan.
Mira mencubit lengan pria itu.
"Ini kalau ada ayah udah disambit pak Raka" ucapnya.
Raka memang wajah jahil.
"Justru gak ada ayah makanya saya berani" ucapnya.
Mira mencebik.
'Gue rasa pak Alex juga gini ke Aira, oke Aira sekarang gue tau rasanya jadi lo'
"Udah deh fokus nyetir, jangan mikir kemana-mana" ucap Mira.
"Iyaa sayang"
"Geli tau sayang-sayang mulu"
"Jadi apa? Honey?baby?cinta?bear?"
"Coca cola sekalian" sewot Mira.
Bicaranya sewot, tapi kepalanya malah bersandar dilengan Raka dan tangannya menggenggam erat jemari Raka.
Raka menarik sudut bibirnya.
"Abis wisuda saya lamar mau?" tanya Raka.
Mira tersentak kaget.
"Lamar? Bapak mau ngelamar saya?"
Raka mengangguk mantap.
'Seserius ini pak Raka sama gue'
"Kamu kaget?"
"Iya kaget...Bapak serius mau ngelamar terus nikahin saya?" tanyanya lagi.
"Hu'um"
"Ke-kenapa bisa seniat itu?" tanyanya penasaran.
'Kok cepet banget? Apa pak Raka cuma ngetes gue doang?'
'Bisa-bisanya pak Raka langsung kepikiran buat nikah'
Bukan apa-apa, aneh rasanya, Baru menjalin hubungan sudah membahas pernikahan. Mira takut Raka akan sama seperti pria diluar sana, banyak membahas masalah pernikahan dan lain-lainnya, berunjung putus dan tidak ada gunanya.
Mira ragu Raka cuma bercanda.
"Dengar, saya itu kan udah hampir tiga puluh tahun, saya juga capek apa-apa sendiri terus, pulang kerja gak ada yang masakin, gak ada yang nemenin"
"Cuma karena umur doang?" tanya Mira.
"Bukan, saya juga yakin sama kamu, kamu itu jodoh saya, saya sayang kamu"
Entahlah Mira belum bisa bilang iya, lagi pula itu masih satu setengah tahun lagi. Mira ingin lihat berapa lama Raka bisa memegang ucapannya.
"Saya jawab waktu saya wisuda ya" ucap Mira.
"Gakpapa, saya tau kamu pasti ragu, saya bakal buktiin"
Mira memainkan jari-jarinya.
"Kebanyakan orang ngomong gini, ujung-ujung selingkuh dan putus pak, saya takut terlalu seneng, terlalu terbuai sama omongan bapak" ucapnya.
Raka mengangkat sudut bibirnya.
"Apapun yang kamu pikirkan saya usahakan supaya enggak melakukan hal kayak gitu, cukup kamu aja yang terakhir" ucap Raka meyakinkan.
Mira membalas dengan senyuman, ia memalingkan wajah kearah jendela.
Raka mulai gelisah, melihat Mira yang terdiam sambil menompang dagunya.
'Aku salah ngomong kayaknya? Atau kecepetan?'
'Ya gimana aku juga bingung kapan mau ngomong kalau aku mau ngelamar dia'
__ADS_1
'Tanya yang berpengalaman aja nanti'
Yang dimaksud berpengalaman adalah saudara Alex Abasya yang terhormat.
"Oh iya Mira ringtone kamu tolong ganti" ucap Raka.
Mira menoleh.
"A-apa?"
"Potong bebek angsa masak dikuali~" ucap Raka meniru ringtone handphone Mira.
Pipi Mira merah padam.
"Tau ah!" Kesalnya.
.
"Maass!" panggil Aira.
Dengan langkah berat Alex menghampiri Aira yang duduk dimeja rias.
"Iyaa sayang"
Aira menoleh kebelakang sambil tersenyum lebar.
"Hehe, ambilin minum" pintanya dengan imut.
Dari awal bangun tidur sampai mau berangkat kerja, Aira terus memanggilnya dan memerintahnya, mulai dari mengambilkan pakaian, handuk, minta dipijat kakinya dan banyak lagi. Alasannya anak yang dikandung tidak mau ibunya lelah.
Alex mau kesal juga tidak bisa, ditambah cara Aira memerintahnya itu sangat imut dan membuatnya lemah.
"Iya Ratu" ucap Alex.
Aira cekikikan dipanggil Ratu, Alex tak lama kembali membawa segelas air putih untuk Aira.
"Makasih mas sayang" ucapnya.
"Sama-sama"
"Mas udah bikin sarapan?" tanyanya.
"Mas gak masak, tadi pagi-pagi bunda kirim makanan buat kamu" ucap Alex.
Aira membulatkan matanya.
"Dikirimin bunda?"
Aira langsung bangkit, masakan mertuanya itu sangat enak dan menggugah selera.
"Wah beneran"
"Ayo sarapan! aku udah laper" ucapnya sembari menarik lengan Alex.
"Tunggu"
Aira menatap Alex bingung, pria itu mengulung lengan kemejanya.
"Ha? kenapa?"
Tanpa basa-basi Alex menggendong tubuh Aira, membuat wanita itu terkaget-kaget.
"Mas?"
Alex meenyengir.
"Biar gak jatuh" ucapnya.
Aira memukul dada Alex sambil tersenyum.
"Lets go~" ucap Alex.
Rumah tangganya semakin hari semakin indah, Alex yang tambah romantis dan Aira yang tambah membuat gemas.
Alex mendudukkan Aira dikursinya dengan hati-hati, Aira sempat menoel pipi Alex.
"Makasihhh" ucapnya lucu.
Alex menatap lekat Aira.
'Waduh'
"Ma-makan" pinta Aira.
Barulah Alex menyingkir dari dekat Aira, pria itu menyiapkan semuanya didepan Aira. Mungkin Alex jadi seperti ini karena takut Aira mengungkit masalah kemarin malam.
Tau bagaimana cara Aira menegur? Ia memukul kepala Alex dengan handphone. Tidak begitu kuat tapi mampu menghentikan Alex.
'Pak Alex tadi malem hampir kelepasan, untung gue bisa negurnya,kalau gak? apa kabar janin gue'
__ADS_1
"Ekhem..." Dehem Alex.
"Apa?" tanya Aira.
Pria itu mengusap belakaang lehernya.
"Gakpapa-eh hari sabtu kita check kedokter kandungan, hari minggunya kita jalan-jalan" ucapnya.
Aira mengacungkan ibu jarinya.
"Setuju!"
"Hari ini kamu mau apa?" tanya Alex disela-sela makan.
'Haha nyogok nih ceritanya?'
"Belum mau apa-apa, mungkin nanti" balas Aira.
Alex nampak tidak tenang, ia merasa Aira marah padanya karena jawaban wanita itu singkat-singkat.
"Kamu..Marah sama mas?"
Aira menyatukan alisnya, lalu menggelengkan kepala.
"O-oh syukur..Mas pikir.."
Aira mengancungkan sendoknya didepan Alex hingga pria itu melongo kaget.
"Diem, gak usah dibahas"
Alex tersenyum.
"Oke" ucapnya.
Ia menompang dagu sambil memandangi Aira yang lahap memakan sarapannya. Rambut wanita itu diikat, kalau dilihat dengan teliti ada bekas kissmark dilehernya.
Alex menarik sudut bibirnya.
"Itu lehernya gimana?" tanyanya.
Aira menyentuh lehernya.
"Gakpapa, bisa aku samarkan pakai bedak atau poundation" balas Aira.
"Bisa?"
"Hum"
Alex mangut-mangut.
"Tau gitu mas bikin banyak bekas" gumamnya pelan.
Sengaja supaya Aira tidak dengar, bisa-bisa sendok ditangannya melayang pada Alex.
Tak!
"Udah selesai?" tanya Alex.
Aira mengangguk.
"Yaudah tinggal aja, mas mau manasin mobil" ucap Alex.
"aku cuci bekas makan, sisa makanannya taruh kulkas biar nanti pulang bisa dipanasin" ucap Aira.
Alex menatapnya.
"Apa?"
Alex menggeleng lalu pergi keluar rumah.
Aira membawa piringnya menuju wastafel.
"Perut masih rata aja pak Alex udah overprotektif, gak boleh ini, gak boleh itu..Apa kabar kalau perut gue udah membesar, disuruh rebahan terus kali ya?"
Ia tertawa geli membayangkan hal itu.
"Hah...Sekarang gue percaya, gue pasti masih kecil sering baik sama orang, makanya dapet balasan suami ganteng, baik, kaya, haha" kekehnya.
Aira menaruh rapi piringnya, ia berjalan kearah jendela, mengintip suaminya yang ada diluar. Alex didalam mobil dengan pintu terbuka.
"Ganteng banget heran deh.."
"Susulin ah~"
Cklek...
Aira menghampiri Alex dengan mengendap-endap. Pria itu pasti tidak tau,karena terlalu fokus.
Aira tersenyum jahil.
__ADS_1
"DOR..!"