
Nana meminta kedua sahabatnya, ah lebih tepat babunya untuk mengambil makanan pesanannya. Lihatlah Nana sangat angkuh, ia bahkan tidak mengucapkan kata terimakasih.
"Sayang~ ayo makan" ucapnya.
"Hm, lo duluan aja" ucap Gilan dingin.
"Yaudah aku gak makan juga"
Suaranya dibuat mendayu-dayu. Gilan akui sudah risih dengan mantan kekasihnya ini.
"Oke..Makan sekarang"
Nana mengangguk.
"Suapin~"
Gilan melihat Aira lebih dulu, Nana yang menyadari itu memukul lengan Gilan.
"Sayaaang cepetan!"
Ia sengaja menguatkan volume suaranya agar terdengar Aira, alih-alih cemburu, Aira malah tidak perduli.
Apa boleh buat, secara terpaksa Gilan menyuapi Nana, sontak orang-orang disekitar mereka heboh dan menyudutkan Aira dengan sindiran-sindiran. Nana tersenyum licik, ia merasa menang karena banyak yang membelanya.
"Duhh pelakor panas " seru Citra, ia sengaja melakukan itu.
"Tuh kan panas sendiri, seharusnya mikir dong, siapa juga yang mau sama cewek murahan" sambung Ajeng.
Yang lainnya terkekeh. Aira meremas makalah ditangannya, tolonglah kesabaran manusia ada batasnya. Aira ingin kesana sekarang dan menjambak rambut Gilan, semua ini karena pria brengsek itu.
Brak!
Aira tersentak, Mira tiba-tiba memukul meja dengan kuat, Aira yakin Mira menggebrak meja menggunakan tenaga dalam.
Semua terdiam kaget.
"HEH MEREK HANDBODY SAMA ANJ*NG, SIAPA YANG LO BILANG MURAHAN?" Bentak Mira.
Wah! Jangan kira Mira gentar karena orang-orang dikantin mulai heboh.
Citra dan ajeng bangkit.
"Ya siapa lagi kalau bukan sahabat tercinta lo" ucap citra lantang.
Menengok bibir mereka saja Mira sudah bernafsu ingin mencabik-cabik, jangan main-main dengan ahli taekwondo.
Tidak perduli dengan mereka yang senior.
"Apa? Siapa? Lo kalau ngomong kencengin dikit, letoy gitu belagu" cibir Mira.
Ajeng tidak terima.
"BANYAK BACOT LO" teriak Ajeng.
"Cih.."
Mira mendesis, lawannya saat ini sangat mudah sekali. Ia melirik ke Aira yang terus menunduk.
"Aira, kuman-kuman kayak gini enaknya diapain? Patahin aja kakinya? Atau pisahin kepalanya? Kurang keren ya azabnya?"
Mira seperti psikopat gila, bisa-bisanya ia tersenyum saat mengucapkan itu, spontan mereka yang mencibir Aira terdiam.
Aira tidak menjawab.
"Oke diem lo gue anggep iya"
Mira keluar dari kursinya, style pertamanya yaitu mengulung lengan baju hingga siku lalu berkacak pinggang.
"Yuk sini satu-satu dulu" ucap Mira santai.
Ajeng makin belagu, ia melipat kedua tangan didepan dada.
"Ck..Memang kalian cocok sahabatan, yang satu murahan yang satu belagu..Apa jangan-jangan lo juga Murahan?..U**ps"
__ADS_1
'Cari mati nih orang'
Mira tertawa lepas sembari bertepuk tangan, orang-orang saling berpandang-pandangan, sebenarmya Mira ini waras atau gila, ia tidak punya rasa takut sama sekali.
"Hahaha..Sorry banget kakak yang terhormat, gue sama sahabat gue ini berkelas bukan Murahan..Lo aja jual murah belum tentu laku.."
"Lo berdua cuma jadi jongosnya Nana, masih aja bertahan, itu bukan sahabat..Itu tolol namanya"
Ajeng dan Citra dibuat diam.
"Sekali lagi lo ngomong Aira murahan, gue bikin orang tua lo gak bisa liat lo selamanya" ancam Mira.
Gilan yang menyaksikan itu semua sudah tidak tahan, ia bangun dari tempat duduknya.
"Ajeng, Citra sebagai Mahasiswi apa pantas bicara seperti itu? Kalian berpendidikan tapi tingkah kalian seperti manusia rendah" ucap Gilan.
"Saya bisa melaporkan kalian ke Dekan"
Mira memutar bola matanya, ada yang mau jadi pahlawan ternyata.
"Kamu juga Mira, tidak pantas berbicara seperti itu"
"Oh ya? Maaf Kakak, saya kelewatan" ucap Mira dibuat-buat.
"Syukurlah kalau Presiden Mahasiswa masih berguna disini, saya minta maaf sekali lagi.." lanjutnya.
Nana mengepal tangannya,menatap nanar Mira dan Aira. Mira memiliki mulut yang lincah sehingga mempermalukan teman-temannya.
"Aira ayo pergi, disini banyak sampah gak nyaman buat belajar" cibir Mira.
Aira membereskan barang-barangnya lalu ikut pergi bersama Mira, ia menengok kearah Gilan. Pria itu menatapnya, tatapan yang Aira tidak pahami.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aira masih bingung situasi ini, Gilan sengaja membuat Aira dipermalukan dan pria itu tidak membelanya saat dikantin. Tapi ia terus menatap Aira, Aira tidak mengerti ini semua.
Ditambah makalahnya yang kusut akibat Aira menahan emosinya dikantin tadi.
"Ra..Udah jangan dipikirin bacotannya citra sama Ajeng" ucap Mira khawatir.
"Baca aja materi lo Mir" ujar Aira.
"Lo down dikatain?"
Aira memijat pelipisnya.
"Gue gak sebodoh itu ya Mir"
"Ya terus kenapa? Lo diem terus"
Aira menghela nafas.
"Gue cuma gak ngerti.."
"Gue gak ngerti Mir..Mau dia apa..."
suara Aira serak.
Gilan sangat mengecewakannya.
"Dari awal udah gue bilang, jauhin Ra jauhin..Gini kan jadinya? gue udah yakin dia gak pernah serius sama lo..Lo liat tuh dia sama siapa sekarang" ucap Mira.
Aira mengangguk.
"Oke, gue selalu salah" ucapnya.
"Loh bukan gitu-"
"Stop, gue tau gue yang salah, gue salah percaya sama dia, gue salah gak langsung nolak dan jauhin dia, gue salah, gue salah!"
"Asal lo tau! gue gak ada rasa lagi sama Gilan, gue shock waktu itu makanya gak langsung nolak dia, besoknya gue emang ada rencana buat temui dia, tapi lo? lo langsung marah dan ngejauhi gue"
Mira mengusap wajahnya, banyak sekali kesalah pahaman.
__ADS_1
"Oke maaf..Maaf gue gak bermaksud nyudutin lo..Gue paham posisi lo..Gue cuma takut Ra..Rumah tangga lo kenapa-napa" ucapnya pelan.
Mira sangat perduli padanya.
"Gue tau kecewanya elo Ra, gue awalnya juga gak nyangka kak Gilan bakal gini"
Aira menenggelamkan wajahnya dibalik tangan.
"Gue bisa bales Gilan, asal lo jangan banyak pikiran..Inget jangan nangis..Nanti sore mertua lo dateng liat lo kusut gini, siapa yang disalahin? Suami lo Ra..Ayo semangat!"
"Bajingan gak perlu ditangisi" ujarnya.
Entahlah, Aira pusing, kenapa semuanya berubah tiga ratus enam puluh derajat dibandingkan dengan sebelum menikah kehidupan kampusnya tidak serumit ini.
"Udah..Lo punya gue, gue jadi garda terdepan buat lo" ucap Mira sontak membuat Aira terkekeh.
"Nah gitu dong..Ayo lanjut belajar, bentar lagi jadwalnya"
Aira mengangguk, mereka kembali fokus pada makalah, apapun masalahnya tetap takut pada dosen.
Skip..
Kemanapun Gilan pergi Nana mengekorinya. Bolehkah Gilan mendorongnya saja? gadis ini terlalu menempel.
"Gi..Maafin temen-temen aku ya?" ucapnya.
"Mereka cuma mau ngebela aku..Jadi tolong laporin ke pak Dekan"
Oh ternyata sedang merayu kekasihnya.
"Sayang..Ngomong dong" rengeknya.
Gilan sudah tidak tahan, ia menghentikan langkahnya.
"Lo bisa diem gak? Gue sumpek denger suara lo.."
Mata Nana membulat.
"Sa-sayang kok gitu?" Nana mencebik ingin menangis.
Tingkahnya dibuat imut agar Gilan luluh.
'Ya tuhan kenapa gue dulu bisa pacaran sama dia'
"Cukup, gue sibuk"
Tangan Gilan ditahan.
"Mau kemana?"
"Bukan urusan lo" ucap Gilan dingin.
Nana meremas kuat ujung bajunya, ia kembali menyalahkan Aira atas berubahnya sikap Gilan.
"Aira..Gara-gara lo pacar gue berubah!" Geramnya.
Gilan menemui Radit, ia menarik lengan pria itu, ah lebih tepatnya menyeret radit keruangannya.
Bugh!
Gilan mencengkeram Kerah baju Radit hingga tubuh pria itu terbentur kedinding.
"Sialan! Saran lo bikin Aira kecewa!" ucapnya emosi.
"Kalem Gi, Kalem" ucap Radit berusaha menenangkan.
"Gue gak bisa tenang, lo sengaja kan? bikin Aira makin jauh dari gue?!" bentak Gilan.
"Dengerin gue dulu Gi, lo salah paham, tenangin diri lo Gi" ucap Radit.
Gilan melepas cengkeramannya, nafasnya memburu.
"Jelasin! Gue dengerin!"
__ADS_1
"Percaya sama gue, ini baru tahap awal, Aira pasti cemburu sekarang, percaya sama gue" ucap Radit.
Jijik lihat Nana