
Aira menutup wajahnya, ia berteriak pelan takut didengar yang lainnya. Ucapan-ucapan Alex sukses membuat Aira salah tingkah.
"Omaygat really?! Pak Alex segitu sukanya sama gue"
"Aaaaa Mama Aira deg-degan"
Gumamnya.
Ingin berguling-guling didepan tidur tapi Aira sadar ia tengah hamil.
"Sibapak jago banget bikin salting hihi"
Aira mengelus perut datarnya.
"Sadar gak? Pak Alex sekarang udah berubah"
Dreeet..
Aira menoleh, handphonenya tidak berdering, lalu milik siapa itu?. Ia membuka bantak disekitarnya dan menemukan handphone Alex yang tertinggal.
"Ck.."
Dengan wajah kesal Aira mengangjat telfon Alex.
"Assalamuallaikum pak" ucap orang disebrang sana.
"Waalaikumsalam pak Raka" jawab Aira.
"Loh kok kamu yang jawab?"
"Mas Alex lupa bawa handphonenya" Aira menekan kata 'mas'.
"Ooh begitu"
"Iya, ada apa sih pak? Bapak masih gak rela pak Alex hidup sama saya?"
Raka terheran-heran.
"Denger ya pak Raka yang ganteng, saya tau bapak suka sama suami saya, tapi tolong pak jangan ganggu rumah tangga saya" ceplos Aira.
"Aira kamu sehat?"
Aira menatap layar handphonenya.
"Dih ngatain gue sakit?" gumam Aira.
"Alhamdulilah sehat"
"Saya ini cuma ada perlu sama pak Alex"
"Dan saya ini normal" ucap Raka sinis.
"Yaudah nanti saya sampein, awas bapak deket-deket suami saya" ancam Aira.
Raka bergedik ngeri.
"Aira jangan lupa saya juga Dosen kamu, saya bisa-"
"Suami saya juga Dosen" potong Aira.
Susah melawan Aira.
"Aira kamu..Syukur kamu istri Alex, kalau tidak-"
"Jangan ngancem, saya panggilin pak Alex ini"
Lihat, sombong sekali Aira sementang punya suami Dosen juga.
Karena jengah menghadapi Aira, Raka pun mematikan panggilannya.
"Dasar gay" cibir Aira.
Ia melempar handphone Alex.
"Tarik nafas Aira, jangan marah-marah kasian calon debay" ucap Aira sambil mengatur nafasnya.
"Duh, kok pusing" Aira memijit pelipisnya.
"Huft apa mama dulu waktu hamil gini juga"
Ia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata agar rasa pusingnya hilang.
Ruang tamu.
Alex menuruni anak tangga menuju ruang tamu. Kedua orang tuanya tengah asik mengobrol sambil tertawa.
"Ekehm..Disuruh nganter kekamar malah dia gak balik-balik" ucap Reva.
Pandangan mereka fokus pada Alex.
"Didongeng in dulu jeng" saut Iren.
__ADS_1
Alex duduk disofa.
"Kamu harus ekstra sabar ya nak, kedepannya mood Aira bakal berubah-ubah" ucap Hero.
"Iya yah, Alex bakal lebih sabar"
Iren dan Adrian berpamitan untuk pulang.
"Alex papa percaya kamu, tolong rawat mereka ya" ucap Adrian.
"Iya pa pasti"
"Gak nyangka Aira yang super riweh bakalan punya anak, terharu papa"
Tiba-tiba Adrian menitikkan air mata, sontak Iren dan yang lainnya kaget.
"Eh papa nangis?" tanya Iren khawatir.
"Papa cuma bahagia ma" isak Adrian.
"Sih papa bikin mama ikutan nangis ih"
Reva dan Hero saling pandang, ikut terharu, bahagianya mereka.
Alex tersenyum.
"Pa, terimakasih udah merawat Aira sampai tumbuh menjadi wanita cantik, saya janji gak akan mempersulit Aira dimasa depan, dan terus berada disisi Aira" ucap Alex.
Alex tau betapa beratnya melepas anak perempuan untuk tinggal bersama suaminya. Alex patut berterimakasih kepada mertuanya.
"Papa percaya kamu nak" Adrian memeluk menantunya.
Mobil milik Iren dan Adrian melaju menjauh dari kediaman mereka.
"Lex, ayah bangga sama kamu"
Hero mengusap punggung Alex sambil tersenyum.
"Ayo masuk diluar dingin" seru Reva.
Alex masih mengobrol dengan Reva, perkara keperluan ibu hamil. Dari mulai susu dan yang lainnya.
"Inget, kamu harus kasih vitamin juga"
"Iya bundaa"
Reva mencatat disecarik kertas agar Alex dapat mengingat semuanya.
"Iya bun"
"Ehm Alex, bunda mau tanya boleh?"
Alex mengizinkan.
"Kamu udah bahas masalah kuliah Aira?"
Alex diam.
"Bu-bunda cuma nanya, soalnya bunda paham Aira masih menyembunyikan status kalian, tapi sekarang Aira hamil, lama-kelamaan perutnya bakalan membesar, apa gak diumumin aja?"
"Bunda takut menantu bunda diomongin yang enggak-enggak dikampus kalian" ucap Reva.
Alex belum memikirkan hal ini. Yang dibilang Reva benar, Ia dan Aira sudah seharusnya tidak sembunyi lagi.
"Alex bakal ngomong sama Aira bun"
"Hum, diomongin pelan-pelan nak..Masalah pasti ada, tapi insyaallah semua bakal lancar" ucap Reva.
"Insyaallah bun, Alex balik kekamar ya bun, kasian Aira"
Reva mengangguk.
'Sudah waktunya memang'
Alex membuka pintu kamarnya, Aira sudah tidur nyenyak ternyata. Ia menutup kembali dengan perlahan.
Lalu menghampiri Sang istri, Alex menompang dagunya menggunakan kedua tangan. Ia memandangi wajah lelap Aira.
Semua terasa cepat berlalu, ia dan Aira sudah mau menjadi orang tua saja. Rasanya baru kemarin ia dan Aira jadi lebih dekat.
"Terimakasih Aira" gumam Alex.
"Eungh" lenguh Aira.
Alex mengelus rambut Aira agar kembali terlelap.
Alex masih heran, apa yang membuat Aira menunda untuk memberitahu statusnya yang sebenarnya. Begitu takutnya Aira dibully orang lain.
Besok, ia akan bahas itu besok, siap atau tidak Aira harus mendengarkannya.
Alex mengambil tempat disebelah Aira, menarik pelan tubuh Aira agar bisa dipeluknya.
__ADS_1
Pagi**nya**.
Aira merenggangkan tubuhnya, tangannya menyentuh sisi ranjang yang kosong. Jam di dinding kamar menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh, Kemana Alex pagi-pagi sudah tidak ada disampingnya?.
Aira duduk sambil mengusap kedua matanya, tunggu sampai nyawanya terkumpul.
Ia merasa kesal bangun tidur tidak melihat suami tampannya.
Aira menyibakan selimut lalu berjalan kearah pintu, Alex pasti dilantai bawah. Jadilah Aira turun ingin menemui Alex.
"Mas?" panggil Aira.
Terdengar langkah kaki, Alex dengan tergesa-gesa menghampiri Aira yang berdiri ditangga.
'Ya Allah ngangetin'
"Kamu kok sudah bangun?" ucapnya.
"Mas gak ada jadi saya bangun"
Alex tersenyum.
"Ayo saya temani lagi kamu tidur" ucap Alex.
Aira menahan tangannya.
"Mas abis ngapain?"
"Bantuin bunda masak"
Aira mengerjapkan mata, ia lupa ini rumah mertuanya, bagaimana bisa ia tidak menolong Reva dan malah kembali tidur.
"Saya mau bantu bunda aja kalau gitu" ucap Aira.
"Aira.."
"Bantu bentar aja mas"
Alex memegang bahunya.
"Inget kata dokter, kamu harus bnyak istirahat, gak kasian sama anak kita?"
Pipi Aira memerah.
'Anak kita? Aaaaaaaaa pingsan nih gue'
"Humm? Balik kekamar ya?" ajak Alex.
"Tapi mas, bunda gak ada yang bantuin buat sarapan"
"Siapa yang bilang? Ada bibi kok" saut Reva tiba-tiba muncul dari dapur.
"Eh bunda, pagii bun"
Aira menjauhkan tangan Alex dari pundaknya.
"Pagi sayang..Kamu istirahat aja nak, dengerin kata suami, bunda aman-aman aja kok, yang penting kamu sama calon cucu bunda sehat" ucap Reva diakhiri tawa.
Mertuanya juga memintanya tidur lagi, Aira menurut, ia diantar Alex kekamar.
"Mas"
Aira duduk ditepi ranjang.
"Hum?"
"Coba deketan sini" serunya.
Alex berlutut didepan Aira, kedua tangannya berada dipinggang Aira.
"Kenapa? Kamu butuh apa?" tanya Alex, suara lembuuut sekali.
"Mas nanti kalau mau berangkat kerja, beliin coklat ya empat" ucap Aira.
"Empat? Gak kebanyakan?"
Aira menggeleng.
"Pokoknya mau itu, oke?"
"Hum, saya belikan"
"Maaciii suamiku" suaranya dibuat-buat.
Aira menguyel-uyel pipi Alex.
"Kamu ngidam ya?" tanya Alex.
"Gak tau, intinya pengen" ucap Aira polos, ia terus memainkan pipi Alex sambil tertawa seperti anak kecil.
"Mas"
__ADS_1
"Mas kok ganteng" celetuk Aira.