Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-121


__ADS_3

Alex tersentak kaget hingga kepalanya terantuk.


"Akh.." pekik Alex.


Aira cekikikan melihat Alex kesakitan.


"Sshh..Kamu jahil banget Aira" eluhnya.


"Lagian manasin mobil doang serius banget" ucapnya.


Alex keluar dari mobil, menarik pipi Aira.


"Sakit kepala mas terantuk"


"Peace~" ucap Aira.


"Hah..Dasar"


Alex merapikan rambut Aira.


"Dibuka ikat rambutnya, gak malu keliatan bekasnya?" tanya Alex.


"Masih dirumah gakpapa, kalau tetangga liat mau apa? Kayak gak pernah aja"


"Heh gak boleh ngomong gitu, gak sopan" ucap Alex.


"Kelepasan"


"Pengantin baru setiap hari menyebar kemesraan ya" ucap tetangga sebelah.


"Buk Anya" sapa Alex.


Masih ingat dengan Anya? Tetangga sebelah Alex, yang pernah Alex tanyain tentang ciri-ciri dari kehamilan. Wanita itu hendak mengantar anaknya kesekolah.


Aira tersenyum pada ibu rumah tangga itu.


"Mbak Aira tambah cantik aja nih" pujinya.


"Haha buk Anya bisa aja" balas Aira.


"Mau antar anak sekolah buk?" tanya Alex.


Anya mengangguk.


"Iya nih mas, mbak, oh iya mas Alex yang waktu itu bener?" tanyanya pada Alex.


Alex tersenyum sambil mengangguk membuat Anya heboh.


"Wah..Bener? Alhamdulilah, ikut seneng saya, selamat ya Mbak Aira" ucap Anya.


Aira cuma mengangguk sambil kebingungan, apa yang dibahas dua orang ini.


"Kenapa Ma?" tanya suami Anya yang baru keluar.


"Ini loh pa, Tetangga kita mau punya momongan" bisiknya pada sang suami.


"Hoho, gitu ya? Selamat ya Alex, Aira.."


"Makasih pak" ucap Alex, Aira.


"Yaudah kami duluan ya~" ucap Anya.


"Iya buk hati-hati.."


Anya sekeluarga masuk kedalam mobil, begitu mobil mereka menjauh, Aira melipat kedua tangannya menatap Alex.


Ia butuh penjelasan.


Alex menaikkan dagunya bertanya 'apa'.


"'Yang kemarin..' apa maksudnya?"


Alex mengusap kepala Aira.


"Gini sayang, waktu itu kita pulang dari hotel, mas sempet ngobrol sama buk Anya didepan rumah-"


"Kok gak ada aku?"


"Kamu kan langsung masuk, inget?" ucap Alex.


"Oh inget-inget, terus?"


"Jadi mas itu udah curiga kamu hamil, mumpung ada buk Anya, yaudah mas tanya-tanya tentang ciri-ciri wanita hamil, itu aja kok" jelas Alex.


"Aih pantes, yaudah yuk masuk, siap-siap ngampus" ucap Aira.


"Rambut jangan lupa" ucap Alex.


"Ck..Iya-iyaa"


Alex memeluk Aira dari belakang, berjalan bersama layaknya truk gandeng.

__ADS_1


"Mas inget jangan kelepasan lagi" ucap Aira.


"Iya honey"


"Madu? Aku gak mau dimadu ya"


Alex tertawa.


Ia mengigit bahu Aira gemas.


"Itu kata lain dari sayang, masa kamu gak tau" ucap Alex.


"Enggak penting, aku cuma punya waktu untuk laki-laki tampan" ucap Aira.


"Hoho~" Alex tertawa dengan percaya diri.


Aira mengambil poundation lalu mengoleskanya ke keleher, setelahnya ia membuka ikat rambut dan menatanya agar lebih rapi


Alex yang memperhatikan merasa takjub.


"Bisa gak kelihatan ya" ucapnya.


"Iya dong, makanya pinter, untung cuma dikit jadi gak keliatan aneh" ucap Aira.


"Ditambahin mau gak?" jahil Alex.


Aira membelalakkan matanya, Alex mengedipkan sebelah matanya merayu Aira.


"Ini wadah poundation terbuat dari kaca, kalau dipukul ke manusia, kemungkinan bisa masuk ruang ICU" ucap Aira.


Alex bergedik ngeri.


"Aira ayo berangkat, hari ini presentasi kan? Makalah kamu jangan ketinggalan" ucap Alex.


"Udah aman"


"O-oke mas tunggu dibawah ya, buah yang mas taruh dibekal jangan juga"


"He-em"


Blam!


Alex menutup pintu.


"Haha takut kan, macem-macem sama anaknya pak Adrian" kekeh Aira.


Kampus...


"Turun" ucap Raka pada Mira.


"Iya turun, masa terbang pak" ucap Mira.


Raka tertawa pelan.


"Turun bareng?"


"Saya duluan, baru pak Raka" ucap Mira.


"Oke"


Cklek..


Mira membuka pintu mobil, ia sedikit menunduk untuk melihat wajah Raka.


"Makasih tumpengannya pacar" ucap Mira ngelantur.


"Tumpangan Mira" balas Raka membenarkan ucapan Mira.


Mira menutup mulutnya sambil cekikikan.


"Haha iya, ketawa mulu dari tadi, oke byebye~" ucap Mira.


"Nanti keru-"


"Saya gak bisa keruangan bapak ya, saya gak betah, saya mau sama Aira" potong Mira.


Raka mengatupkan mulutnya.


Baru saja ia ingin bilang supaya Mira datang keruangannya, tapi sudah ditolak lebih dulu. Mau tak mau Raka mengangguk.


"O-oh gitu, wokeh" ucap Raka.


Mira tersenyum lebar, ia melambaikan tangan pada Raka lalu pergi.


"Gagal mau seperti pak Alex" eluhnya.


Mira berjalan sambil bersenandung, punya pacar dosen tampan, teman baik seperti Aira yang pastinya sefrekuensi. Memang kuncinya harus bersabar dan menjauhkan sifat iri dengki. Beruntung semua bisa terselesaikan.


"Aira udah dateng belum ya.." gumam Mira.


Mira menghentikan langkahnya, matanya menyipit melihat seseorang yang ada didepannya.

__ADS_1


"Kating cabe" ucapnya pelan.


"Mau ngapain dia lewat sini? Ah pura-pura gak liat aja deh, lagi gak mood berantem" lanjutnya.


Mira terus berjalan seperti tidak melijat keberadaan Nana, sedikit lagi mereka berselisih. Nana menghentikan langkahnya.


"Woi" panggilnya.


'Sok akrab'


Mira terus berjalan.


"Mira, gue panggil loh" ucapnya.


"Bodoamad tante" saut Mira.


Nana menarik tangan Mira.


"Bandel ya adek tingkat" ucapnya.


Mira memutar bola matanya jengah.


"Apa?" tanyanya dengan wajah datar.


"Aira udah dateng belum?" Nana bertanya balik.


"Sakit ni anak, gak lo liat gue baru dateng?"


"Oh kirain" balas Nana.


"Yaudah pergi deh" lanjutnya.


"Eh tunggu dulu, kenapa nyari Aira? Jangan macem-macem, lo udah tau kan Aira i-"


"Istri pak Alex?" potong Nana.


Mira tersenyum simpul.


"Good answer.." ucapnya puas.


"Ngapain juga gue macem-macem, gue sama Aira itu udah baikkan, sekarang gue ada perlu sama dia, dan itu rahasia" ucap Nana sombong.


'What? Temenan? Kok-"


Mira mengerjapkan matanya.


"Wah gak bisa gini nih, lo ikut kekelas, kita tunggu Aira dateng" ucap Mira.


"Gak"


"Udah ayok"


Dengan tidak sopannya Mira menarik tangan atau lebih tepatnya menyeret paksa Nana yang bernotabene kakak tingkatnya. Sekali lagi hanya Mira yang berani melakukan itu.


"Lepas bego, kayak narik sapi lo" omel Nana.


Mira berdecap.


'Berisik banget'


"Mira gue bisa jalan sendiri, gue gak buta" omel Nana lagi.


"Hish!"


Mira pun melepas tangannya lalu berjalan kembali, dan benar Nana mengekorinya sambil mengusap-usap tangannya yang ditarik Mira.


"Ngomong-ngomong lo sama presma gimana?" tanya Mira tiba-tiba.


"Kenapa lo nanya-nanya, jangan sok akrab" ucap Nana.


'Banyak bacot sekali maemunah'


"Jawab aja apa susahnya" ucap Mira.


Nana mendekat lalu berbisik.


"Putus" ucapnya.


Mira menyentuh telinganya.


"Putus? turut berduka ya" ucap Mira dengan wajah menyebalkan.


"Dih gak guna, gue yang minta putus, cowok sialan" umpat Nana.


'Hoho ada apa ini, gue ketinggalan berapa episode'


"Hh..bukannya lo yang ngebet pengen sama dia, kok putus"


"Kurang ajar dia tuh, ternyata dia cuma manfaatin gue, apalagi si Radit, udah burik kompor pula" omel Nana.


"Parah juga mulut lo kalau mencaci orang" ucap Mira.

__ADS_1


"Emosi gue kalau inget, lagian dia sekarang sibuk sama BEM-nya" ucap Nana.


"Loh tumben akur?" ucap seseorang dibelakang mereka.


__ADS_2